SASAGUPAPUA.COM, Sorong –Pemerintah Kota Sorong bersama Kolektif Lumbung Sagu dan Yayasan Belantara Papua resmi membuka Papuan Food Festival 2026 pada Selasa, 16 Juni 2026.
Festival yang berlangsung meriah di Belantara Papua, Kota Sorong ini, menjadi tonggak penting dalam penguatan ketahanan pangan berbasis kearifan lokal serta pelestarian hutan Papua.
Acara dibuka secara resmi oleh Asisten II Walikota Sorong Bidang Ekonomi Pembangunan, Tamrin Tajuddin.
Dalam sambutannya yang menggelitik sekaligus menusuk kesadaran, ia berpesan kepada seluruh generasi muda Papua, “Kalian boleh berambut lurus, tapi hati keriting, tetap berhati Papua.” Kalimat ini disambut gemuruh tepuk tangan, menjadi pembuka yang kuat bagi semangat kebersamaan lintas suku dan generasi. Pembukaan dimulai dengan suguhan Tarian Kreasi Papua yang memukau, dilanjutkan dengan alunan musik dan lagu dari Belantara Papua, serta nyanyian tradisional Kain Kla yang dibawakan secara khusyuk oleh Mama Thea Gifelem.
Suara khas mama-mama Papua menggema sebagai simbol penghormatan pada leluhur dan alam.
Ketua Panitia Papuan Food Festival, Salsabila Andriana yang juga pengelola Lumbung Sagu, menyampaikan bahwa festival ini lahir dari keprihatinan akan tergerusnya pengetahuan pangan tradisional di tengah gempuran pangan industri.
“Festival ini dibuat untuk mengenalkan kembali, membangkitkan memori, serta mengingatkan bahwa dengan menjaga pangan lokal tetap hidup, menjaga hutan, kita sama-sama menciptakan masa depan yang lestari,” ujarnya.
Sambutan juga disampaikan oleh Markus Wafom, Direktur Yayasan Belantara Papua, yang dengan gamblang menjelaskan peran lembaganya di tengah masyarakat. “Tempat ini sebagai tempat untuk membina anak-anak Papua yang putus sekolah, biasa hanya di jalan-jalan. Di sini anak-anak dilatih untuk bisa mandiri, memilih jalan sunyi, melestarikan kebudayaan,” tegasnya.
Baginya, festival ini adalah wajah lain dari kerja-kerja sunyi yang selama ini dibangun bersama komunitas akar rumput.
Puncak acara yang paling berkesan adalah sesi talkshow yang dimoderatori oleh Salsabila Andriana, menghadirkan dua tokoh perempuan adat Suku Moi yang menjadi motor penggerak pangan dan konservasi.
Yang pertama adalah Oyang Hana Mili, maestro tradisi Waili yaitu tradisi piknik, meramban, dan memasak bersama Suku Moi.
Oyang Hana telah puluhan tahun berkeliling Papua mendampingi kelompok mama-mama di berbagai wilayah, mengikuti jejak suster-suster misionaris.
Kini ia fokus pada kebun dan pelestarian budaya pangan seperti Waili dan Menoken, cara mengolah sagu.
Dengan lantang ia berpesan, “Untuk orang Papua ada tiga hal yang tidak boleh tertinggal, yaitu parang, korek, dan sagu. Untuk potong-potong, untuk buat api, dan untuk makan,” serunya
Ia menegaskan bahwa tiga alat itu bukan sekadar barang, melainkan simbol kemandirian dan martabat orang Papua.
Yang kedua adalah Mama Batseba Mobilala, ketua kelompok mama Yuluk Malagufuk dari Kampung Wisata Malagufuk yang terkenal dengan wisata burung cenderawasih.
Sebagai koordinator, Mama Batseba mencatat sendiri semua pembukuan, mengatur jadwal memasak bergilir, dan merekap seluruh pemasukan dari kunjungan wisatawan mancanegara yang datang setiap minggu ke kampungnya.
Ia adalah otak di balik pengelolaan keuangan kelompok yang transparan dan teratur.
Mama Batseba menceritakan bahwa dirinya sendiri yang memegang buku catatan, menulis semua siapa yang masak pada hari apa, berapa penghasilan yang diperoleh, dan membaginya secara rata. Dengan cara itu, semua mama percaya dan tetap bersemangat. Ia juga menambahkan bahwa menjaga hutan bukan hanya untuk alam, tetapi untuk ekonomi keluarga mereka.
Menurutnya, turis asing datang karena hutan mereka masih indah dan burung cenderawasih masih terbang, dan semua itu terjadi karena mereka menjaganya.
Dengan suara yang mengharu-biru, ia menyampaikan pesan mendalam untuk semua yang hadir.
“Kalau hutan ini hilang, bagaimana kita mau hidup, bagaimana anak cucu kita makan ke depannya.” Kalimat ini menghenyakkan ruangan dan menjadi pengingat bahwa kelestarian hutan adalah harga mati bagi keberlangsungan hidup orang Papua.
Kedua mama adat ini sepakat menyampaikan pesan kuat kepada generasi penerus Papua, yaitu agar menjaga hutan dan budaya karena keduanya adalah napas kehidupan.
Jika rusak, hilanglah identitas, tetapi jika hidup, maka pangan, ekonomi, dan masa depan akan terus mengalir.
Usai sesi talkshow, para tamu dipersilakan mengunjungi pameran bertajuk “Oyang Hana: Maestra Waili”, yang menyajikan secara mendalam pengetahuan pangan Suku Moi.
Konten pameran meliputi sejarah hidup Oyang Hana, filosofi tradisi meramban, teknik memasak, hingga ritual piknik Waili. Berbagai kuliner tradisional juga dipajang sebagai bukti kekayaan gastronomi lokal.
Di dalam pameran tersebut terdapat dua instalasi utama yang menjadi pusat perhatian. Instalasi pertama adalah Lumbung Pangan yang berisi bahan-bahan lokal seperti sagu, keladi, petatas atau ubi, kasbi, dan noken berisi umbi-umbian, yang menggambarkan kemandirian pangan orang Papua.
Instalasi kedua adalah Instalasi Interaktif Hutan Belantara berupa deretan pohon yang menggambarkan hutan yang telah ditebang.
Di instalasi ini, pengunjung diajak menuliskan harapan mereka untuk hutan Papua dan pangan lokal pada kertas-kertas yang digantung di sana.
Ruangan ini juga diresmikan sebagai memorial untuk almarhum Max Binur, tokoh pendiri Belantara Papua yang karyanya menginspirasi gerakan konservasi berbasis budaya.
Acara kemudian ditutup dengan sesi demo memasak menggunakan bambu, yang dipandu langsung oleh Mama Batseba, Mama Thea, dan Oyang Hana.
Berbagai menu disajikan dalam demo tersebut, di antaranya ikan gabus dalam bambu, ikan sembilan bakar bambu, Ige atau kawes yaitu olahan ikan sembilan khas Papua, daun gedi bakar bambu, petatas atau ubi bakar bambu, dan kasbi bakar bambu.
Para peserta menikmati hidangan sambil berdialog akrab dengan mama-mama juru masak, bertanya langsung tentang resep turun-temurun hingga filosofi di balik setiap olahan.
Suasana cair dan penuh kehangatan menandai akhir dari rangkaian pembukaan yang sarat makna.
Papuan Food Festival akan berlangsung hingga hari Sabtu, 20 Juni 2026. Terdapat agenda cooking demo berbagai pangan lokal Papua seperti bakar batu, awiat, dan sinole, lokakarya seni seperti batik Papua, noken, dan memahat patung.
Panitia berharap festival ini tidak hanya menjadi ajang seremonial, tetapi gerakan berkelanjutan untuk mengembalikan martabat pangan lokal Papua di mata dunia.


