Site icon sasagupapua.com

Peluncuran Buku “TII KOTEKA” di Nabire: Upaya Nason Pigai Mempertegas Jati Diri dan Martabat Suku Mee

Suasana peluncuran buku TII KOTEKA Karya Nason Pigai, Sabtu (13/6/2026). Foto: Kemarin Rejang/Sasagupapua.com

SASAGUPAPUA.COM, Papua Tengah– Peluncuran buku berjudul “TII KOTEKA: Menara Koteka, Simbol Identitas, Kebangkitan Budaya, dan Kejayaan Suku Mee di Tanah Papua” karya Nason Pigai berlangsung di Nabire pada Sabtu (13/6/2026).

Momen bersejarah bagi masyarakat Suku Mee tersebut turut dimeriahkan dengan agenda diskusi serta bedah buku yang menghadirkan narasumber kompeten, yakni Dosen Antropologi Uncen Andreas Goo, Ketua Pokja Agama MRP Papua Tengah Beny Wenor Pakage, serta Pimpinan Media Alternatif Lao-Lao Papua, Mikael Kudiai.

Dalam sambutannya, Kepala Bidang Kebudayaan pada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Papua Tengah, Deni Tenoye, menyampaikan bahwa pemerintah provinsi sangat mendukung inisiatif pelestarian budaya ini.

Dirinya menjelaskan dalam setahun terakhir, pihaknya bersama DPR Papua Tengah telah merancang berbagai kebijakan, termasuk penyusunan Peraturan Daerah Provinsi (Perdasi) terkait bahasa dan sastra daerah serta rancangan peraturan gubernur sebagai turunannya. Deni menegaskan bahwa pemerintah provinsi sangat mengapresiasi kerja keras penulis.

“Atas nama Pemerintah Provinsi Papua Tengah, kami menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Nason Pigai atas kerja kerasnya dalam menulis buku ini, dan kami berkomitmen untuk memberikan dukungan serta koordinasi lebih lanjut ke depannya,” ujar Deni.

Kepala Suku Mee di Provinsi Papua Tengah, Melkias Muyapa, menyatakan rasa syukur atas lahirnya karya monumental ini. Ia menegaskan bahwa buku tersebut merupakan amanah dan pedoman penting bagi masyarakat dalam mengembangkan diri sekaligus mempertahankan nilai-nilai luhur.

Melkias berharap buku ini bisa menjadi titik temu bagi seluruh elemen masyarakat untuk merancang masa depan tanah Papua yang lebih baik.

“Buku ini harus menjadi pemersatu bagi berbagai elemen masyarakat, mulai dari organisasi, gereja, tokoh agama, hingga kaum intelektual, untuk duduk bersama memikirkan arah pembangunan yang lebih baik bagi tanah Papua dengan tetap menjaga kearifan lokal seperti nilai Edawada sebagai jati diri,” kata Melkias. Melkias juga menambahkan rencananya untuk melakukan kolaborasi di berbagai kabupaten seperti Paniai, Deiyai, Dogiyai, dan Mimika demi membentengi generasi muda dari pengaruh luar.

Penulis buku, Nason Pigai, menjelaskan  karya ini lahir dari kegelisahan batin melihat kondisi masyarakat adat Suku Mee yang sering menghadapi pandangan rendah dari pihak luar.

Nason ingin menegaskan masyarakat Suku Mee adalah bangsa yang bermartabat dan beradab.

Nason mengungkapkan bahwa proses penulisan dilakukan atas panggilan jiwa yang mengalir untuk menggali kembali aspek filosofis dan spiritual dari identitas suku.

“Buku ini lahir dari kegelisahan sekaligus panggilan nurani melihat kondisi masyarakat adat suku Mee yang menghadapi arus perubahan zaman yang cepat dan sering kali menggerus nilai-nilai hidup, pandangan dunia serta martabat budaya,” ungkap Nason.

Nason menambahkan selama ini banyak simbol adat, termasuk koteka, sering direduksi maknanya dan ditempatkan dalam narasi yang merendahkan. Melalui gagasan TII KOTEKA atau MENARA KOTEKA, ia berupaya mengembalikan makna hakiki koteka sebagai pusat kesadaran dan simbol kebangkitan budaya.

“Gagasan TII KOTEKA dihadirkan sebagai simbol pemersatu, pusat kesadaran dan tanda kebangkitan budaya menuju kejayaan yang berakar pada nilai leluhur, serta diharapkan menjadi ruang refleksi, dialog dan kesadaran bersama bagi generasi penerus untuk tetap berakar pada jati diri di tengah tantangan zaman,” pungkas Nason.

Nason Pigai lahir di kota Injil Enarotali pada 14 September 1970. Penulis ialah anak negeri Dogiyai Papua yang kini menjadi Asisten 1 Setda kabupaten Dogiyai di Provinsi Papua Tengah.

Sebelumnya Pemerintah Daerah pernah mempercayakannya sebagai Kepala Distrik di wilayah distrik Kamuu Utara tahun 2011 hingga 2014.

Nason menyelesaikan SD di SD YPPGI Kebo I Paniai Utara (1985), SMP di SMP YPPGI Enarotali (1988) Paniyai, SMA di SMA Negeri Wamena (1991) dan menyelesaikan pendidikan Strata satu (S1) dengan status mahasiswa Tugas Belajar pada Jurusan Ilmu Pemerintahan di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UNCEN Jayapura (2003).

Penulis Buku TII KOTEKA, Nason Pigai. (Foto: Kristin Rejang/Sasagupapua.com)

Sebagai anak adat oleh Masyarakat Adat, Nason pernah direstui menjadi ketua Tim untuk lakukan upaya proteksi Tanah Sakral Mee Makeewaapa sebagai Axis Mundi, Altar Ugatamee dan Situs Kebudayaan Mee itu.

Dua buku yang ia tulis dan diterbitkan, yakni: Pertama, Buku berjudul “Kibarkan Sang Bendera Makanan” (Gerakan Pemulihan Habitat Untuk Membangun Martabat Hidup Orang Papua Proto). Kedua, Buku Bunga Rampai berjudul “Utu Wigi Pito Wigi”, Menulis dan Berbagi, Pengobar Api Revolusi (Kumpulan Status Netizen dari Facebook).

Beberapa buku sedang ditulis juga untuk diterbitkan, salah satunya berjudul “TOTANII” dengan Sub judul “Pondasi Pengetahuan Mee”.

 

Penulis: Kristin Rejang

Exit mobile version