SASAGUPAPUA.COM, Papua Tengah – Pemerintah Provinsi Papua Tengah menunjukkan komitmen penuh dalam membangun generasi emas sejak usia dini. Melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Papua Tengah, Pemprov memberikan dukungan total terhadap penyelenggaraan Kegiatan Lokakarya PAUD Bermutu Bagi Kelompok Kerja (Pokja) Bunda PAUD se-Provinsi Papua Tengah Tahun 2026.
Kegiatan strategis ini berlangsung selama tiga hari, mulai tanggal 7 hingga 9 Juli 2026, bertempat di Aula Kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Papua Tengah.
Ketua Panitia Kegiatan, Jeklin H. L. Korwa, dalam laporan kepanitiaannya menyampaikan rincian pelaksanaan agenda tersebut. Ia menjelaskan bahwa kegiatan yang dimulai pada hari Selasa, 7 Juli ini diikuti oleh puluhan peserta dari berbagai kabupaten.
“Waktu pelaksanaan kegiatan selama tiga hari, berlangsung dari hari ini, Selasa, 7 Juli sampai 9 Juli 2026. Tempat pelaksanaan di Aula Dinas Pendidikan Provinsi Papua Tengah. Jumlah peserta kegiatan ini sebanyak 30 orang yang berasal dari 8 kabupaten di Provinsi Papua Tengah, dengan didukung oleh panitia kegiatan yang terdiri dari 8 orang anggota,” ujar Jeklin.
Lebih lanjut, Jeklin mengungkapkan bahwa anggaran kegiatan ini bersumber dari dukungan dana hibah pemerintah daerah.
“Sumber dana kami didukung dengan dana hibah dari DPA Dinas Pendidikan Provinsi Papua Tengah sebesar Rp355.805.000. Oleh sebab itu, kami mengucapkan terima kasih sekali lagi kepada Bunda PAUD Provinsi Papua Tengah yang sudah membantu kami demi kelangsungan kegiatan ini,” tambahnya.
Kegiatan lokakarya ini dibuka secara resmi oleh Plh. Kabid Pendidikan Khusus Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Papua Tengah, Fredi Edowai. Dalam sambutannya, Fredi menekankan bahwa masa usia dini merupakan fase krusial yang menentukan masa depan anak-anak Papua.
“Pada usia dini, hal itu akan sangat menentukan kemampuan belajar, karakter, kesehatan, dan produktivitas anak di masa depan. Karena itu, investasi terbaik yang dapat kita lakukan adalah memastikan setiap anak memperoleh layanan PAUD yang berkualitas, aman, inklusif, dan menyenangkan,” kata Fredi.
Meski demikian, Fredi tidak menampik bahwa wilayah Papua Tengah masih diperhadapkan pada realitas tantangan yang cukup berat di lapangan, mulai dari akses hingga persoalan kesehatan anak.
“Namun, kita juga harus jujur bahwa Papua Tengah masih menghadapi berbagai tantangan. Kondisi geografis yang sulit, belum meratanya akses layanan PAUD, keterbatasan tenaga pendidik yang memahami standar, serta masih tingginya prevalensi stunting di berbagai wilayah menjadi pekerjaan rumah yang harus kita selesaikan bersama,” ungkapnya.
Fredi juga menggarisbawahi pentingnya penguatan layanan PAUD Holistik Integratif (HI) yang menyatukan berbagai sektor pelayanan dasar.
“Di sisi lain, layanan PAUD holistik integratif yang menghubungkan aspek pendidikan, kesehatan, gizi, pengasuhan, dan perlindungan anak juga masih perlu terus diperkuat. Semua tantangan tersebut menjadi perhatian utama dalam lokakarya ini. Oleh karena itu, peran Bunda PAUD dan Pokja Bunda PAUD menjadi sangat strategis. Pokja tentunya merupakan motor penggerak yang mampu membangun sinergi antar pemerintah, satuan pendidikan, tenaga kesehatan, organisasi masyarakat, dunia usaha, dan orang tua untuk memastikan setiap anak mendapatkan layanan terbaik,” jelasnya.
Melalui ruang lokakarya ini, Fredi berharap para peserta dari 8 kabupaten mampu menelurkan program kerja konkret yang dapat diimplementasikan di daerah masing-masing secara selaras.
“Saya berharap melalui lokakarya selama tiga hari ini, para peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan baru, tetapi juga mampu menyusun rencana aksi yang nyata di daerah masing-masing. Hasil lokakarya ini hendak menjadi pedoman dalam memperkuat tata kelola PAUD, meningkatkan kualitas layanan, memperluas kemitraan, dan mendorong penyusunan program yang selaras antar kabupaten dengan Provinsi Papua Tengah. Hal ini sejalan dengan tujuan kegiatan untuk memperkuat kapasitas Pokja Bunda PAUD dan menyusun program kerja yang terintegrasi,” tuturnya.
Ia juga mengajak seluruh peserta untuk aktif bertukar pikiran dan mengadopsi praktik-praktik baik dari wilayah lain, serta mengapresiasi kehadiran para narasumber ahli.
“Bapak, Ibu peserta yang saya hormati, saya juga mengajak seluruh peserta untuk memanfaatkan kesempatan ini sebaik-baiknya, berdiskusi secara aktif, saling berbagi pengalaman, dan belajar dari praktik baik yang telah dilakukan di masing-masing kabupaten. Saya yakin setiap daerah memiliki tantangan yang berbeda, tetapi juga memiliki inovasi yang dapat menjadi inspirasi bagi daerah lainnya. Kepada narasumber dari BPP Provinsi Papua dan UNICEF, kami menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya atas kesediaan dalam berbagi pengalaman dan pengetahuan. Kehadiran Bapak dan Ibu tentu akan memperkaya wawasan peserta dalam membangun layanan PAUD yang bermutu, inklusif, dan berkelanjutan,” sebut Fredi.
Menutup sambutannya, Fredi menegaskan kembali komitmen jangka panjang Pemerintah Provinsi Papua Tengah terhadap dunia pendidikan.
“Pemerintah Provinsi Papua Tengah berkomitmen untuk terus mendukung peningkatan mutu pendidikan mulai dari jenjang PAUD hingga pendidikan menengah. Kami percaya bahwa membangun Papua Tengah harus dimulai dari membangun generasi sejak usia dini. Anak-anak yang tumbuh sehat, cerdas, berkarakter, dan mendapatkan layanan pendidikan yang baik hari ini adalah pemimpin Papua Tengah di masa depan. Akhirnya, saya berharap seluruh rangkaian kegiatan ini dapat berjalan dengan lancar dan menghasilkan rekomendasi yang dapat diimplementasikan di setiap kabupaten. Semoga semangat kolaborasi yang terbangun dalam lokakarya ini semakin memperkuat komitmen kita untuk menghadirkan layanan PAUD yang berkualitas bagi seluruh anak di Papua Tengah,” pungkasnya.
Pada kesempatan yang sama, Ketua Pokja Bunda PAUD Provinsi Papua Tengah, Apolonaris Yogi, memaparkan esensi dari kehadiran Pokja.
Menurutnya, Pokja Paud berfungsi sebagai pengawal dan pemasti agar program layanan esensial anak usia dini benar-benar menyentuh satuan pendidikan melalui kolaborasi lintas dinas.
“Kehadiran Pokja Bunda PAUD itu memastikan bagaimana program bisa terlaksana di dalam satuan pendidikan anak usia dini. Itu harus kita lihat adanya Dinas Pendidikan di dalam, Dinas Kesehatan di dalam, Dinas Kependudukan di dalam, bahkan mitra-mitra yang lain juga ada di dalam, dan kita fokus ke satuan PAUD itu. Nah, kita tidak memberikan bantuan di sisi Pokja ini. Kita hanya memastikan bagaimana anak usia dini mendapatkan semua layanan esensial yang mereka perlukan,” terang Apolonaris.
Apolonaris menjelaskan bahwa lokakarya ini didesain untuk menyelaraskan arah kebijakan pusat hingga ke daerah di tanah Papua, dengan melibatkan BPMP dan UNICEF sebagai fasilitator pemikiran.
“Di sinilah kita mau bagaimana kita bekerja sama. Lokakarya ini akan mempersiapkan kita bagaimana supaya PAUD bermutu. Jadi, ada narasumber kita dari BPMP, bagaimana nanti beliau memaparkan segala hal yang berkaitan dengan kebijakan dari pusat ke provinsi-provinsi yang ada di tanah Papua. Lalu bagian apa yang perlu kita terapkan dan kawal sama-sama. Terutama tujuannya adalah anak usia dini dikontrol agar bisa mendapatkan pendidikan yang layak. Lalu nanti programnya bagaimana antara provinsi dengan kabupaten, Pokja-Pokjanya ini bisa selaras kerjanya. Nanti ada juga dari UNICEF. Jadi kita mulai satukan alur pikir, mungkin Bapak dan Ibu punya banyak ide, nah kita satukan. Lalu kita lihat mana yang bisa kita kerjakan dan buat sama-sama,” urainya.
Keselarasan program ini dinilai krusial karena Pokja Bunda PAUD Provinsi Papua Tengah berencana turun langsung ke lapangan guna memetakan akar masalah riil di daerah.
“Kenapa demikian, Bapak Ibu? Karena nanti kami dari Pokja Bunda PAUD Provinsi akan melakukan banyak kunjungan. Saya sudah sampaikan ke tim, kita tidak bisa hanya jalan-jalan saja. Kita harus lihat akar masalahnya apa, itu yang kita kerjakan dan harus kita selesaikan. Nah, kalau program kita sudah sejalan, sinkron, dan mantap, kita bisa maju sama-sama. Paling tidak ada pembagian tugas; ada bagian yang kami di provinsi tidak bisa jangkau, Bapak Ibu di daerah yang kerjakan, tetapi tetap berada di dalam lintas komunikasi. Nah, ini adalah ending dari kegiatan nanti di hari ketiga,” ucapnya.
Ia pun berpesan agar kegiatan ini tidak sekadar menjadi seremonial formal, melainkan melahirkan aksi nyata yang cepat melalui koordinasi intensif di daerah asal masing-masing peserta.
“Kita di sini bukan membuat kegiatan secara formal, tetapi kami mau setelah kembali ke daerah, perwakilan yang datang hari ini bisa berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan, Dinas Kesehatan, dan nantinya juga ada Dukcapil di sana serta teman-teman yang lain. Jadi bangunlah komunikasi yang baik. Nanti di ending hari ketiga, kita akan lihat mana yang bisa kita lakukan secepat mungkin. Karena PAUD bermutu itu bukan hanya tulisan, tetapi aksi kita seperti apa. Kalau di pemerintahan, programnya harus masuk rencana dulu dan seterusnya. Selama enam bulan ini, kami dari provinsi sudah berpikir bahwa kunjungan kami adalah untuk memastikan isu-isu ini. Isu-isu ini nanti kita lihat bersama dan kita selesaikan,” kata Apolonaris.
Di akhir arahannya, Apolonaris mengajak semua pihak mengemban tanggung jawab ini bersama-sama dengan mengutip sebuah filosofi mengenai pengukuran kualitas sumber daya manusia.
“Ini memberikan beban kepada kita bahwa sasaran kita adalah anak usia dini, mari kita kerja sama-sama. Kita pastikan, ada satu slogan yang saya sukai, yaitu dalamnya laut atau danau bisa kita ukur pakai alat, tetapi dalamnya kualitas sumber daya manusia itu diukur dari anak usia dini. Jadi, kalau kita menaruh fondasi yang baik untuk anak usia dini, nanti setelah mereka naik jenjang ke tingkat kecil, tingkat besar, dan seterusnya, otak mereka itu sudah oke. Nah, itulah bagaimana kita mengukur sumber daya manusia. Jadi, mari kita ukur sumber daya manusia dimulai dari anak usia dini,” pungkasnya.