SASAGUPAPUA.COM, Jayapura — Di tengah gegap gempita demam Piala Dunia yang melanda masyarakat, sekelompok anak muda dari kompleks Dok V Jayapura memilih jalan berbeda untuk mengekspresikan keresahan mereka. Memanfaatkan momentum keramaian di jalanan, mereka menggelar aksi spontan dengan mengarak dua buah salib merah sembari menyuarakan berbagai isu kemanusiaan dan lingkungan di Tanah Papua pada Selasa (16/6/2026) malam.
Aksi yang menarik perhatian warga ini diinisiasi oleh perkumpulan pemuda yang kerap berkumpul di kawasan Dok V.
Aldy Hukubun, salah satu perwakilan massa aksi, mengungkapkan bahwa gerakan ini murni lahir dari diskusi sehari-hari di tongkrongan mengenai kondisi tanah kelahiran mereka saat ini.
“Aksi kemarin itu kami lakukan secara spontan, bahkan konsepnya baru dibuat pada hari-H saat mau jalan. Kami ini dari perkumpulan anak-anak kompleks Dok V yang setiap hari main bersama dan punya keresahan yang sama, sampai akhirnya terpikir untuk bergerak. Aksi tersebut sengaja kami lakukan tepat setelah konvoi Piala Dunia,” ujar Aldy saat diwawancarai media ini, Kamis (18/6/2026).
Gerakan ini dipersiapkan dalam waktu yang sangat singkat pada sore hari. Selepas membuat atribut secara swadaya, mereka langsung bergerak menyusuri jalanan kota dengan rute yang telah ditentukan, melintasi beberapa titik penting di Jayapura.
“Aksinya kami lakukan pada tanggal 16 Juni 2026. Jam 6.00 sore kami mulai persiapan, mulai dari membuat tulisan menggunakan piloks di kain sampai membuat dua salib merah itu. Kemudian untuk konvoinya, kami start jalan jam 7.00 malam. Rutenya dari Dok V menuju ke Dok IX, lalu berputar di Taman Imbi. Dari Taman Imbi kami turun ke arah kantor gubernur, kemudian naik lagi ke Dok V atas untuk kembali ke titik kumpul awal,” jelas Aldy merincikan jalannya aksi.
Sepanjang rute konvoi, para pemuda ini dengan lantang menyuarakan tuntutan mereka. Mereka membawa pesan-pesan tegas seperti “Papua Bukan Tanah Kosong”, “Save Papua”, hingga penolakan terhadap Proyek Strategis Nasional (PSN) yang dinilai mengancam ruang hidup masyarakat adat.
“Isu yang kami suarakan cukup beragam, tapi semuanya terkait dengan masalah Papua, mulai dari ‘Papua Bukan Tanah Kosong’, ‘Save Papua’, hingga ‘Tolak PSN’. Kenapa kami memilih menyalurkan keresahan ini lewat konsep konvoi? Karena setiap hari saat berkumpul di tongkrongan kompleks, isu-isu Papua inilah yang selalu kami bahas bersama. Karena kegelisahan kami sama, kami pikir momen inilah waktu yang tepat untuk beraksi,” tambahnya.
Aldy juga menegaskan bahwa kehadiran aksi di tengah momentum Piala Dunia ini sengaja dilakukan sebagai pengingat keras bagi publik. Ia berharap perayaan sepak bola internasional tidak membuat masyarakat abai terhadap realitas pahit yang sedang terjadi di atas tanah mereka sendiri.
“Sebagai anak muda, pesan yang mau kami sampaikan ke publik di momen Piala Dunia ini adalah kita boleh saja mendukung negara lain dalam kontestasi tersebut, tapi jangan sampai terlalu terbawa euforia hingga lupa bahwa Papua punya luka yang cukup dalam. Tanah kita dirampas dan masyarakat adat kita digeser. Ini bukan masalah sepele, melainkan persoalan serius yang harus kita suarakan setiap hari agar tidak tertutupi oleh euforia Piala Dunia,” tegas Aldy.
Melalui aksi ini, para pemuda Dok V berharap gerakan mereka dapat memicu kesadaran yang lebih luas, terutama di kalangan generasi muda Papua, untuk tetap menjaga dan membela hak-hak atas tanah adat serta masa depan Papua yang lebih baik.
“Harapan kami, semoga Tanah Papua bisa kembali seperti semula. Hutan yang menjadi ‘mama’ bagi kami bisa kembali ke pangkuan orang asli Papua sendiri. Tidak ada kata lain, kami juga berharap anak-anak muda Papua bisa terus bersuara demi masa depan tanah ini yang lebih baik,” tutup Aldy.
Penulis: Kristin Rejang