Site icon sasagupapua.com

Peneliti ANU : 40 Persen Bahasa Daerah di Papua Terancam Punah

Peneliti dari Australian National University (ANU), Dr. Laura Arnold. (Foto: Kristin Rejang/Sasagupapua.com)

SASAGUPAPUA.COM, Nabire – Keberagaman bahasa daerah di tanah Papua kini berada di titik yang mengkhawatirkan. Peneliti dari Australian National University (ANU), Dr. Laura Arnold, mengungkapkan berdasarkan perhitungan terbarunya, sekitar 40 persen bahasa daerah di Papua terancam tidak akan terdengar lagi dalam kurun waktu 50 tahun ke depan jika generasi saat ini berhenti mewariskannya.

Hal tersebut disampaikan Dr. Laura kepada media usai menjadi pembicara dalam Seminar Pelestarian dan Pengembangan Bahasa Daerah Papua di Era Globalisasi yang berlangsung di Universitas Satya Wiyata Mandala (USWIM) Nabire, Rabu (13/5/2026).

Laura merupakan sosok yang telah lama berkecimpung meneliti berbagai bahasa di tanah Papua. Sebelum hadir di Nabire, ia telah melakukan perjalanan panjang ke berbagai pelosok, termasuk menghabiskan waktu cukup lama untuk melakukan penelitian mendalam di wilayah Raja Ampat.

Kini, fokus penelitiannya mulai bergeser ke wilayah tengah Papua. Dimana ia tertarik untuk mendalami bahasa lokal di Nabire, khususnya bahasa milik suku Wate.

Ketertarikan dari Laura untuk meneliti bahasa daerah ini didasari oleh keunikan linguistik Papua yang menurutnya tidak ditemukan di belahan dunia mana pun.

“Iya, kalau bahasa daerah Papua ini ada lebih dari 260 bahasa yang dipakai di sini. Dan keberagaman itu unik di dunia karena ada banyak bahasa, mereka semua pakai cara yang berbeda sekali, berbeda jauh dari bahasa-bahasa di tempat lain di dunia. Jadi bahasa di wilayah Papua sini ini yang paling beragam di dunia. Jadi dari itu kita tertarik,” ujar Dr. Laura Arnold saat diwawancarai usai kegiatan di kampus USWIM.

Namun, di balik keunikan tersebut, data menunjukkan penurunan jumlah penutur aktif yang cukup drastis.

Laura menjelaskan ancaman kepunahan ini menyasar hampir sebagian besar bahasa yang ada, terutama di wilayah pesisir yang interaksinya dengan bahasa luar sangat tinggi.

“Sekarang ini semakin kurang orang yang gunakan bahasa-bahasa ini. Menurut saya, saya baru-baru hitung, mungkin 40 persen tidak akan digunakan setelah mungkin 50 tahun saja. Iya, jadi kalau generasi ini sudah tidak ada lagi, berarti 40 persen bahasa-bahasa ini tidak digunakan lagi. Terus ada mungkin jumlah 70 persen yang terancam punah juga. Mungkin bisa tahan sedikit lagi, tapi yang 40 persen itu yang paling berbahaya sekali,” jelasnya.

Ia juga memberikan catatan khusus mengenai perbedaan ketahanan bahasa antara wilayah pesisir dan pedalaman (pegunungan). Menurut pengamatannya, masyarakat di wilayah pedalaman cenderung masih kuat mempertahankan bahasa ibu mereka dibandingkan dengan masyarakat yang tinggal di wilayah pesisir.

“Itu khusus menurut saya, khusus di pesisir. Saya lihat kalau di pesisir, bahasa-bahasa kurang daripada kalau di pedalaman masih kuat,” tambah sosok yang dikenal sangat peduli terhadap eksistensi bahasa-bahasa lokal Papua tersebut.

Menghadapi ancaman tersebut, Dr. Laura Arnold menaruh harapan besar pada pundak generasi muda Papua sebagai ahli waris sah kekayaan intelektual tersebut.

Laura berharap menggunakan bahasa ibu di era globalisasi bukanlah sesuatu yang tertinggal, melainkan sebuah identitas yang membanggakan.

“Iya, saya mau ajak generasi muda untuk rasa bangga dengan bahasa daerah, dan rasa seperti bahasa daerah kalau itu keren sekali. Kalau pakai bahasa daerah itu keren. Jadi saya mau ajak orang pakai bahasa daerah,” pungkasnya.

Exit mobile version