SASAGUPAPUA.COM, JAYAPURA – Penjabat (Pj) Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Puncak, Nenu Tabuni, mengunjungi Rumah Sakit Dian Harapan untuk melihat kondisi dari Korban yakni Anite Telenggen Pada, 20 April 2026.
Dalam kunjungannya ini, Nenu Tabuni menegaskan komitmen penuh pemerintah dalam menangani para korban insiden kekerasan di wilayah Puncak dan Puncak Jaya.
Dalam keterangannya di Jayapura, Nenu menjelaskan pemerintah telah menetapkan status tanggap darurat selama 14 hari guna mempercepat langkah-langkah penyelamatan warga sipil.
Kawal Operasi Ibu Hamil Korban Penembakan
Salah satu fokus utama Nenu Tabuni dalam kunjungannya adalah memastikan penanganan medis bagi seorang ibu hamil tujuh bulan atas nama Anite Telenggen yang menjadi korban luka tembak serius. Dijelaskan, korban saat ini tengah menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Dian Harapan setelah dievakuasi dari wilayah konflik.
“Mama ini mengalami luka tembak yang sangat fatal, peluru menembus leher hingga ke kerongkongan, membuatnya tidak mampu berbicara. Kami dari pemerintah hadir untuk memastikan seluruh biaya operasi dan perawatan ditanggung sepenuhnya,” kata Nenu Tabuni.
Ia menambahkan jadwal operasi telah ditetapkan oleh tim dokter pada hari ini, Selasa (21/4/2026).
Nenu mengatakan Pemerintah terus mengawal kondisi kesehatan ibu tersebut, mengingat ia tengah mengandung dengan usia kehamilan yang sudah mencapai trimester akhir.
Pemerintah Tanggung Seluruh Biaya Perawatan
Nenu Tabuni merinci bahwa saat ini terdapat total tujuh korban yang terdata dalam insiden tersebut. Sebaran penanganan medis dilakukan di beberapa titik, di antaranya:
* RS Mulia: Menangani 3 orang korban luka.
* RS Nabire: Menangani 1 orang korban.
* RS Dian Harapan: Menangani 1 orang korban (ibu hamil).
“Pak Gubernur dan kami dari Pemerintah Kabupaten Puncak telah bersepakat bahwa aspek kemanusiaan adalah prioritas utama. Seluruh biaya, mulai dari evakuasi hingga pengobatan tuntas, akan menjadi tanggung jawab pemerintah,” jelasnya.
Nenu menjelaskan ranah pemerintah saat ini adalah kemanusiaan dan penanganan darurat, sementara urusan penegakan hukum diserahkan kepada pihak berwenang.
Pihaknya juga telah menjalin komunikasi dengan para tokoh adat dan tokoh masyarakat untuk membuka akses evakuasi bagi warga yang masih membutuhkan pertolongan di lapangan.
“Kami mengajak seluruh masyarakat di Puncak jaya , Puncak, dan Papua Tengah secara umum untuk mendoakan kesembuhan para korban. Kita berharap operasi Mama Anite Telenggen berjalan lancar dan beliau bisa melahirkan bayinya dengan sehat nantinya,” pungkas Nenu Tabuni.
Perlu diketahui Pemerintah Puncak sudah melakukan langka cepat dengan penetapan tanggap darurat, kujungan ke distrik terdampak, turun ke Mulia untuk melakukan koordinasi langsung dengan Pemda Puncak Jaya agar dapat mengatasi masalah dengan cepat dan tepat. Tidak hanya koordinasi dengan Pemda Puncak Jaya, Koordinasi dengan Pemrov Papua Tengah terus di lakukan.
Pada Sabtu (18/4/2026) Pemda Puncak sudah melakukan rapat koordinasi bersama Pemrov Papua Tengah dan juga Pangkowilham III. Untuk menanggapai situasi dan proses apa yang akan selanjutnya di lakukan dalam tahap tanggap darurat ini.
Sebelumnya Nenu Tabuni, melakukan gerak cepat meninjau warga sipil yang menjadi korban terdampak kontak tembak antara aparat keamanan dan KKB di Distrik Kembru dan Pogoma.
Didampingi perwakilan BPBD, PMI, dan anggota DPRD, rombongan bertolak dari Ilaga menuju Distrik Sinak menggunakan pesawat Grand Caravan pada Jumat (17/4/2026).
Langkah responsif ini diambil menyusul laporan jatuhnya korban jiwa dan luka-luka akibat operasi penegakan hukum di Kampung Tenoti dan Makuma yang pecah pada Selasa (15/4/2026) lalu.
Peristiwa tersebut juga mengakibatkan gelombang pengungsian warga dari Distrik Kembru dan Pogoma ke rumah kerabat mereka di Distrik Sinak.
Pembentukan Tim Evakuasi Setibanya di Sinak, Nenu Tabuni langsung memimpin rapat darurat di Bandara Sinak bersama Kepala Distrik, Kapolsek, Danramil, serta tokoh masyarakat.
Agenda utama pertemuan saat itu adalah pembentukan dua tim evakuasi, Tim Pertama: Bertugas menyisir wilayah Distrik Kembru,Tim Kedua: Bertugas menjangkau wilayah Distrik Pogoma.
“Tim ini kami bentuk untuk memastikan kondisi warga secara menyeluruh. Disinyalir masih ada korban yang belum dievakuasi karena sebagian warga melarikan diri ke hutan akibat trauma,” ujar Nenu Tabuni.
Penanganan Korban di RSUD Mulia Usai berkoordinasi di Sinak, Pj Sekda melanjutkan perjalanan ke Mulia, Kabupaten Puncak Jaya. Di sana, ia mendampingi Gubernur Papua Tengah, Meki Nawipa, Kapolda Papua Tengah, dan Danrem 173/PVB untuk melihat langsung kondisi para korban di RSUD Mulia.
Berdasarkan data medis, saat itu terdapat empat pasien yang menjalani perawatan intensif, terdiri dari satu orang dewasa (25 tahun) dan tiga anak-anak (usia 6-7 tahun). Selain itu, satu korban luka berat telah dirujuk ke Jayapura untuk mendapatkan penanganan spesialis.
Terkait korban jiwa, laporan sementara dari pihak keluarga mengonfirmasi adanya warga yang meninggal dunia. Namun, jumlah pasti masih dalam proses verifikasi karena tim gabungan belum menjangkau tiga kampung di wilayah perbatasan, yakni Kampung Kembru, Nilome, dan wilayah Pintu Angin.
Pemkab Puncak juga menjalin komunikasi intensif dengan Pangkogabwilhan III dan Satgas guna memastikan jaminan keamanan bagi tim evakuasi saat menjangkau lokasi-lokasi terdampak.
Sebagai langkah penanganan jangka pendek, pemerintah daerah berkomitmen memfasilitasi seluruh biaya pengobatan korban hingga sembuh total. Sementara bagi korban meninggal, pemakaman akan dilakukan secara adat.
“Kami juga akan mendirikan tenda pengungsian bagi warga yang trauma. Tahap pemulihan dan pemulangan warga ke kampung halaman akan dilakukan setelah situasi dipastikan benar-benar aman,” kata Nenu Tabuni saat itu. (Diskominfo Puncak)