SASAGUPAPUA.COM, Papua Tengah — Komunitas Rasta Kribo Papua (KORK) mengapresiasi kerja keras panitia pelaksana dalam mempersiapkan gelaran Papua Reggae Festival (PRF) ke-11 tahun 2026 yang akan berlangsung pada 16–17 Oktober 2026 di Nabire, Provinsi Papua Tengah.
Ketua Komunitas Rasta Kribo Papua, Teddy Pekey, menyampaikan apresiasi tersebut saat diwawancarai di Sekretariat PRF, Nabire, Selasa (13/10/2026).
“Pertama-tama kami dari komunitas Rasta Kribo mengapresiasi kepada teman-teman panitia yang sudah memang sangat luar biasa pekerjaan mereka dalam rangka persiapan Papua Reggae Festival yang ke-11 tahun 2026 di Nabire, Provinsi Papua Tengah,” ujar Teddy Pekey.
Ia menjelaskan progres persiapan kegiatan saat ini berjalan sangat baik dan tercatat ada puluhan grup musik yang siap memeriahkan festival tersebut.
“Progres hari ini sangat luar biasa, semua persiapan sudah berjalan dengan baik, dan juga kesiapan dari grup band sendiri hari ini tercatat akan hadir di Papua Reggae Festival yang ke-11 tahun 2026 ini sebanyak 36 grup band,” kata Teddy.
Teddy menjelaskan saat ini sejumlah grup musik dari luar daerah juga sudah mulai berdatangan ke Kabupaten Nabire.
“Hari ini sudah mulai grup band berdatangan ke Kabupaten Nabire untuk mengikuti Papua Reggae Festival, yaitu dari rekan-rekan dari Papua Barat, Sagoo Roots, yaitu akan tiba sebentar malam dan akan disusul oleh beberapa grup band besok lusa,” jelasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Teddy menyampaikan rasa terima kasih kepada para sponsor yang telah mendukung terselenggaranya acara ini, khususnya Pemerintah Provinsi Papua Tengah.
“Sehingga hari ini kita juga berterima kasih kepada para sponsor yang mensponsori Papua Reggae Festival kesebelas ini, terutama Bapak Gubernur Provinsi Papua Tengah yang mana telah memberikan dukungan kepada kami untuk kami bisa memasang sound system untuk memperlancar kegiatan-kegiatan panitia di kegiatan Papua Reggae Festival ini. Tentunya pasti ada sponsor yang lain, kami masih menunggu informasi dari ketua panitia yang lainnya,” tutur Teddy.
Teddy mengimbau masyarakat dan para penikmat musik reggae di Papua Tengah untuk hadir dengan tertib serta menjaga keamanan selama festival berlangsung pada 16 dan 17 Oktober 2026.
“Sehingga kita berharap kepada semua publik bahwa bagi mereka yang akan menikmati musik reggae datang dengan tertib, aman, damai, hindari hal-hal yang tidak kita inginkan. Di sini kami mau menggarisbawahi bahwa setiap pecinta musik reggae di Papua Tengah yang akan hadir, datang dengan tertib dan memberikan dukungan kepada grup-grup band yang akan tampil di hari tanggal 16 dan 17 Oktober 2026,” imbaunya.
Ia juga mengimbau pengunjung untuk tidak membawa barang-barang yang melanggar hukum, serta menyerahkan penanganan sepenuhnya kepada aparat keamanan jika terjadi pelanggaran.
“Tentu dilarang keras untuk membawa hal-hal yang akan bertentangan dengan hukum. Apabila terjadi ada oknum-oknum tertentu yang mau membawa hal-hal yang menentang hukum, silakan berurusan dengan pihak keamanan karena kami tidak bertanggung jawab, selaku komunitas maupun panitia penyelenggara tidak bertanggung jawab ketika rekan-rekan lain membawa suatu hal yang di luar dugaan kita. Kita serahkan kepada pihak keamanan untuk diproses,” tegas Teddy.
Selain sebagai wadah hiburan dan seni, festival ini dimanfaatkan sebagai sarana edukasi bagi generasi muda Papua untuk menjauhi perilaku negatif, seperti penularan HIV/AIDS, konsumsi alkohol, dan penyalahgunaan narkoba.
“Kita berharap kepada generasi Papua, mari kita mulai dari diri kita masing-masing, kita memulai dengan kegiatan-kegiatan bersifat positif yang memajukan diri kita dengan hal-hal positif. Kita hindari hal-hal negatif seperti hal yang bisa membuat kita terjerumus dalam HIV/AIDS,” terangnya.
Teddy menambahkan bahwa kemajuan teknologi saat ini semestinya dimanfaatkan oleh pemuda Papua untuk hal-hal yang positif dan produktif, mengingat ancaman penyakit menular di daerah tersebut.
“Sekarang sudah zaman terbuka, jadi mari anak-anak muda kita banyak memegang HP Android, Android itu banyak hal yang kita bisa buat dalam positif. Jadi kita berharap setelah Papua Reggae Festival ini, anak-anak Papua di Nabire maupun sekitarnya di Papua Tengah, bahkan Tanah Papua bisa terhindar dari bahaya HIV/AIDS, mengingat saat ini angka kasusnya cukup tinggi,” ungkapnya.
“Mari kita mulai dengan hal-hal positif, kita hindari hal-hal negatif terutama berhubungan bebas, kemudian mengonsumsi alkohol, terus ganja, sabu-sabu dan lain sebagainya tidak perlu. Mari kita bersama memajukan Papua. Itu yang kita harapkan kepada generasi muda. Memang tentunya tidak mudah, tetapi mari kita mulai dari diri kita sendiri untuk melakukan hal-hal positif,” sambung Teddy.
Lebih lanjut, Teddy menekankan bahwa musik reggae bersifat universal dan membawa pesan moral, kedamaian, serta ajakan untuk menghormati hak-hak masyarakat adat.
“Reggae ini kan universal, banyak pesan-pesan moral yang harus kita sampaikan pada kegiatan-kegiatan event reggae itu sendiri ya, terutama mungkin soal mari kita jaga keamanan dan ketertiban di Papua ini tidak lagi kita baku tembak atau baku bunuh antara sesama manusia,” ucap Teddy.
Ia juga menyuarakan pentingnya menghormati hak ulayat atas tanah adat milik masyarakat Papua.
“Terus kemudian jangan lagi rampas-rampas hak ulayat orang Papua karena itu pemiliknya ada. Kalau mau gunakan, mari dengan hati yang baik kita datangi kepada masyarakat pemilik tanah, kita minta permisi, gunakan tanah, tidak bisa sabotase tanah segala macam. Entah itu mau pemerintah maupun aparat keamanan, karena pemilik itu adalah masyarakat adat di Papua ini,” paparnya.
Di akhir pernyataannya, Teddy mengajak seluruh pihak untuk bersama-sama menjaga masa depan generasi muda Papua melalui tindakan-tindakan positif.
“Untuk semua mari kita menghindari hal-hal yang merusak ini masa depan kita. Kita mulai dengan diri kita untuk melakukan hal positif supaya ada kehidupan lebih panjang,” tutup Teddy.