SASAGUPAPUA.COM, Papua Tengah – Komunitas Rasta Kribo (KORK) Papua kembali menggerakkan perekonomian lokal dengan memfasilitasi kurang lebih 50 pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) asli Papua.
Keterlibatan puluhan UMKM lokal ini menjadi bagian dari kemeriahan Papua Reggae Festival (PRF) XI yang diselenggarakan pada 16–17 Oktober 2026 di Bandara Lama, Nabire, Papua Tengah.
Pemilik Butik Papua Rasta Community, Elis, yang rela datang jauh-jauh dari Jayapura, menyampaikan rasa syukur dan apresiasinya atas penyelenggaraan festival tahunan tersebut.
“Kami menjual pakaian bernuansa rasta, mulai dari gaun hingga rok, walau stok yang dibawa terbatas. Selain itu, kami juga menjual poster dan sandal. Kami sangat mengapresiasi panitia yang sudah menyelenggarakan acara PRF XI ini. Penjualan sejauh ini cukup bagus dan berjalan lancar. Karena besok masih ada hari terakhir, kami berharap hasil penjualan bisa lebih banyak lagi,” ujar Elis ketika diwawancarai pada Jumat (16/10/2026).
Kesan positif juga dirasakan oleh pelaku usaha kuliner lokal. Martinus You, perwakilan dari Kedai Pernah Singgah yang berlokasi di Jalan Jakarta, Nabire, mengaku mendapatkan kenaikan omzet yang signifikan selama festival berlangsung.
“Meskipun menu yang kami sediakan terbatas pada produk terlaris saja, respons pengunjung luar biasa. Pada acara Roots Show sebelumnya di Kafe Benji, kami dapat penghasilan yang lumayan, dan di PRF XI kali ini hasilnya jauh lebih tinggi. Hari ini saja minuman kami sudah terjual sekitar 60 hingga 70 cup,” tutur Martinus.
Di samping rasa syukurnya atas fasilitas tenda gratis yang disediakan penyelenggara, Martinus turut menyampaikan harapan agar pemerintah daerah serta para pejabat dapat memberikan perhatian lebih kepada para pedagang kecil.
“Persiapan stan dari panitia sudah sangat baik. Namun, kami berharap ke depannya pemerintah daerah dan pejabat setempat bisa hadir secara langsung untuk melihat dan membeli dagangan warga, khususnya para mama-mama penjual noken yang sering kali gulung tikar tanpa banyak pembeli. Momen sekali setahun seperti ini harus lebih banyak melibatkan serta memberdayakan UMKM asli Papua,” tambahnya.
Kebijakan mengenai prioritas UMKM lokal ini memang menjadi komitmen penyelenggara festival sejak pertama PRF berlangsung.
Ketua Panitia PRF XI Nabire, Ema Dogomo, menjelasman pemfokusan tempat jualan bagi masyarakat lokal merupakan konsep utama yang konsisten dijalankan dari tahun ke tahun.
“Dari tahun ke tahun, pelaksanaan PRF, area UMKM memang kami fokuskan untuk para pelaku usaha asli Papua. Untuk rekan-rekan pelaku usaha dari Nusantara, kami tetap menyambut untuk ikut berjualan, namun yang utama dan menjadi prioritas kami pedagang asli Papua. Ini merupakan komitmen dari pihak penyelenggara sejak awal,” jelas Ema Dogomo.
Senada dengan Ema, Ketua KORK Papua, Teddy Pekei, mengatakan langkah ini diambil bukan bentuk diskriminasi, melainkan wujud nyata pemberdayaan ekonomi masyarakat adat Papua.
“Papua Reggae Festival itu mengusung prinsip dari kita untuk kita. Dalam setiap penyelenggaraannya, pelaku UMKM di area festival wajib diprioritaskan bagi orang asli Papua. Ini bukan bicara soal diskriminasi, melainkan langkah nyata dalam pemberdayaan sesama warga asli Papua,” pungkas Teddy Pekei.





