Menu

Mode Gelap

Peristiwa · 2 Apr 2026 16:06 WIT

Siklus Kekerasan Dogiyai, John Gobai: Antara Miras, Candu Judi hingga Dugaan Cipta Kondisi


Wakil Ketua IV DPR Papua Tengah, John Gobai. (Foto: Kristin Rejang/Sasagupapua.com) Perbesar

Wakil Ketua IV DPR Papua Tengah, John Gobai. (Foto: Kristin Rejang/Sasagupapua.com)

SASAGUPAPUA.COM, Papua Tengah – Wakil Ketua IV DPR Papua Tengah, John NR Gobai, mengeluarkan pernyataan tegas menyikapi situasi keamanan di Kabupaten Dogiyai yang kembali memanas.

John menyoroti keberadaan tempat perjudian dan peredaran minuman keras (miras) merupakan akar masalah yang menciptakan “siklus kekerasan” dan merusak tatanan sosial masyarakat adat secara sistematis.

Judi dan Miras sebagai Magnet Kerusakan Sosial

Menurut Gobai, praktik judi jenis rolex, dadu, hingga agen togel yang menjamur di pusat keramaian dan pasar telah mengubah pola hidup masyarakat secara drastis.

Tempat-tempat ini menjadi magnet negatif yang menarik warga dari kampung-kampung menuju ibu kota kabupaten, mulai dari Moanemani, Wakeitei, hingga Enarotali.

- Advertising -
- Advertising -

Fenomena ini menyebabkan warga menjadi “turis lokal” yang melupakan kewajiban mereka di kampung halaman.

“Tempat-tempat ini menarik orang dari kampung untuk turun ke ibu kota. Mereka bermalam berhari-hari, berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan, dan melupakan lahan mereka di kampung halaman yang harusnya dikerjakan untuk menjadi sumber pendapatan,” ujar John NR Gobai dalam keterangan resminya.

Kondisi ini diperparah dengan konsumsi minuman beralkohol yang sering kali menyertai aktivitas perjudian.

Gobai mengibaratkan miras sebagai “bensin” yang siap membakar emosi warga atas masalah sepele sekalipun, yang pada akhirnya memicu konflik yang jauh lebih besar.

“Minuman beralkohol ini menjadi semacam bensin yang menyalakan api kemarahan untuk sebuah hal yang sebenarnya simpel dan sederhana. Karena mengonsumsi miras, masalah menjadi panjang, apalagi jika ada dendam masa lalu. Hal ini juga memicu aksi pemalangan jalan oleh oknum masyarakat yang berakibat pada tindakan kekerasan, baik antar sipil maupun antara aparat dengan masyarakat,” tegasnya.

Dugaan Cipta Kondisi dan Upaya Adu Domba

Terkait insiden kekerasan terbaru yang memakan korban, termasuk anggota polisi berinisial JE yang berasal dari Kabupaten Deiyai, Gobai meminta adanya analisis mendalam dari pihak berwenang. Ia menduga adanya upaya sistematis untuk membenturkan sesama masyarakat suku Mee atau sengaja menciptakan ketidakstabilan pasca adanya kesepakatan antara masyarakat dan Pemerintah Daerah.

“Perlu dianalisa lebih mendalam, apakah sasaran korban anggota polisi JE asal Deiyai ini dilakukan guna menciptakan adu domba sesama orang Mee atau guna cipta kondisi dan melahirkan siklus kekerasan? Hal ini bisa saja terjadi karena kebijakan pelarangan sebelumnya mengganggu sumber pendapatan oknum tertentu yang mungkin melibatkan oknum anggota masyarakat,” ungkap Gobai.

Ia menduga adanya kelompok kepentingan yang secara sistematis memelihara kondisi konflik di Dogiyai agar dapat dimunculkan kapan saja.

Oleh karena itu, ia menekankan perlunya kerja intelijen yang mumpuni untuk mengidentifikasi kelompok-kelompok tersebut, sembari tetap merangkul kelompok yang berseberangan untuk dikonsolidasi menuju perdamaian.

Desakan Penegakan Hukum dan Solusi Masa Depan

John NR Gobai mendesak kepolisian untuk bekerja secara transparan dan tuntas dalam mengungkap motif serta pelaku di balik rentetan penembakan di Dogiyai. Ia menegaskan polisi harus mampu mengungkap siapa pelaku pembunuhan terhadap anggota Polri maupun pelaku penembakan terhadap masyarakat sipil agar keadilan dapat ditegakkan bagi semua pihak.

Sebagai solusi jangka panjang, Gobai mengusulkan agar tempat-tempat perjudian segera ditutup total dan dilakukan pengendalian terhadap arus penduduk yang masuk ke ibu kota kabupaten. Ia menyarankan agar Pemerintah Daerah menciptakan pekerjaan swakelola atau padat karya di tingkat kampung serta membuka kegiatan usaha bagi anak muda yang dibina langsung oleh pemerintah.

“Ke depan, anak-anak muda yang mempunyai ijazah SMP atau SMA sebaiknya direkrut menjadi anggota Polisi Khusus Orang Asli Papua Tengah atau Polisi Pamong Praja untuk menjaga keamanan dan ketertiban di kampungnya masing-masing. Ini jauh lebih produktif daripada mereka terjebak dalam lingkaran perjudian di kota,” tambahnya.

John berharap momentum Paskah tahun ini dapat menjadi jembatan bagi rekonsiliasi yang tulus antara masyarakat, pemerintah, dan Tuhan. Ia mengajak semua pihak untuk tetap mengedepankan hukum bagi para pelaku kekerasan demi mewujudkan Dogiyai yang aman dan bermartabat.

“Semoga Paskah membawa kita kepada rekonsiliasi yang baik dengan Tuhan dan sesama, sambil tetap menegakkan hukum bagi oknum-oknum pelaku kekerasan, penembakan, dan pembunuhan di Dogiyai. Salam,” pungkasnya.

Berikan Komentar
penulis : Kristin Rejang
Artikel ini telah dibaca 5 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Kapolda Bertemu Koalisi Masyarakat Dogiyai: Komitmen Bentuk Tim Investigasi Independen dan Evaluasi Kapolres

2 April 2026 - 12:47 WIT

Solidaritas Merauke: Pemprov, MRP, dan DPR Harus Cegah Konflik Sosial akibat PSN di Kamuyen

19 Februari 2026 - 21:59 WIT

Ikut Rapat Soal Kapiraya: DPR Papua Tengah Desak Penarikan Alat Berat dan Penegakan Hukum

13 Februari 2026 - 23:01 WIT

Ketua KNPI Papua Tengah Soroti Situasi Konflik di Kapiraya

13 Februari 2026 - 07:00 WIT

Yulian Magai Kecam Video Provokatif Bentrok Kapiraya, Minta Polisi Redam Narasi Konflik

12 Februari 2026 - 14:39 WIT

Kapiraya: Antara Emas, Tapal Batas, dan Dugaan Adu Domba – John Gobai Minta Polisi Bertindak

11 Februari 2026 - 21:00 WIT

Trending di Peristiwa