SASAGUPAPUA.COM, Papua Tengah — Group musik asal Nabire, One Heart Band, sukses menggetarkan panggung hari pertama pagelaran Papua Reggae Festival (PRF) yang berlangsung pada Jumat (16/10/2026).
Dalam penampilan perdana mereka di ajang tahunan tersebut, One Heart Band membawakan karya-karya unik yang sarat akan makna dan kental dengan nuansa budaya lokal.
Vokalis One Heart Band, Harold Doko Kayame, menjelaskan bahwa dalam penampilannya mereka membawakan lagu-lagu yang menggunakan tiga bahasa daerah berbeda di Papua, yakni bahasa Mee, Moni, dan Lani.
“Untuk lagu pertama berjudul Koga Dimi yang menggunakan bahasa Mee. Lagu ini bercerita tentang rasa rindu yang sangat mendalam dari seorang anak kepada almarhum ayah dan ibunya. Lagu kedua menggunakan bahasa Moni yang mengangkat tema percintaan, kisah tentang seorang lelaki yang ditinggalkan kekasihnya karena keterbatasan ekonomi. Sementara lagu ketiga menggunakan bahasa Lani, yang menceritakan tentang kerinduan mendalam akan kampung halaman di Mulia dan Ilaga,” ujar Harold usai tampil di panggung PRF.
Pengalaman tampil di PRF tahun ini menjadi momen yang sangat berkesan bagi One Heart Band. Harold mengaku bahwa ini adalah keikutsertaan pertama mereka setelah sebelumnya sempat terkendala biaya saat ajang serupa digelar di Wamena.
“Ini merupakan kali pertama kami ikut serta dalam PRF. Kebetulan acara diselenggarakan di Nabire, sehingga kami memiliki kesempatan untuk tampil. Sebenarnya tahun lalu saat PRF diadakan di Wamena kami sangat ingin ikut, namun terkendala masalah finansial. Kami sangat mengapresiasi kerja keras panitia tahun ini yang luar biasa, karena mampu memfasilitasi kebutuhan para pengisi acara seperti akomodasi dan konsumsi, hal yang jarang ada pada gelaran PRF sebelumnya,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Harold menyambut positif fokus PRF tahun ini yang mengusung seni dan budaya lokal, khususnya penggunaan bahasa daerah. Menurutnya, langkah ini sangat krusial di tengah mulai tergerusnya kebudayaan asli Papua oleh pengaruh dari luar.
“Langkah panitia yang mendorong penggunaan bahasa daerah sangatlah bagus, mengingat saat ini banyak seniman yang mulai tidak berani atau enggan tampil menggunakan bahasa daerah. Jika dibiarkan, tidak menutup kemungkinan budaya lokal kita akan semakin tergerus dan kalah oleh budaya luar. Melalui ajang seperti ini, kita dapat terus menjaga dan mempertahankan keberadaan bahasa daerah kita,” tegas Harold.
Harold menyampaikan pesan mendalam bagi masa depan Tanah Papua. Ia menyoroti pentingnya keberpihakan para pemangku kebijakan terhadap potensi dan bakat anak-anak daerah.
“Tanah Papua ini sangat kaya, luas, dan memiliki banyak peluang untuk mencapai kemajuan. Kami berharap kepada para kepala daerah dan pemegang kewenangan untuk memberikan kesempatan yang lebih luas kepada putra-putra daerah. Putra-putra daerah sebenarnya memiliki kemampuan yang tidak kalah saing, hanya saja mereka kerap kekurangan wadah dan dukungan untuk menampilkan potensi terbaiknya,” tutup Harold.