SASAGUPAPUA.COM, TIMIKA – Suster Agustina Tekege, SOSFS menjadi viral ketika berada di Vatikan untuk melayat Paus Fransiskus.
Dalam video yang berdurasi 29 detik tersebut, Suster Agustina menyapa seluruh umat di Papua.
“Selamat malam di Papua, saya suster Agustina Tekege sekarang berada di tempat Santa Marta, Vatikan Roma, tempat tinggal Sri Paus,” kata Suster Agustina.
Suster Agustina juga mengungkapkan ia mewakili Orang Papua untuk melayat Sri Paus.

Suster Agustina Tekege, SOSFS saat berada di Vatican untuk melayat Paus Fransiskus. (Foto: Capture video)
“Saya mewakili Orang Papua untuk pergi melayat Sri Paus, Gracias,Terimakasih Banyak. Ide umina (Bahasa Paniai yang berarti Terimakasih Banyak),” tutup Suster Agustina.
Suster Asli Papua Pertama Dari Kongregasi SOSFS
Suster Agustina Tekege merupakan seorang biarawati dari Kongregasi Suore Oblate di San Francesco Saverio atau Kongregasi Suster-suster Oblate Santo Fransiskus Saverius.Ia menjadi suster asli Papua pertama yang masuk dalam kongregasi SOSFS.
Kongregasi SOSFS ini didirikan di kota Ariano pada tahun 1732 oleh wasiat Filippo Tipaldi, yang saat itu menjabat sebagai uskup keuskupan Ariano.
Dikutip dari penjelasan seorang suster dari Kongregasi SOSFS dalam YouTube Komsos KAM menjelaskan pada tahun 1731 terjadi gempa bumi di Fontana Poli, Italia yang berimbas juga sampai Ariano Irpino.
Karena tidak adanya korban jiwa akibat dari gempa bumi itu, uskup Fillipo Dipaldi mengadakan satu Minggu misi Populare (mewartakan Injil) dimana misi ini umat Allah diajak berdoa dan berpenitensi agar gempa bumi tidak berkelanjutan.
Jadi misi ini adalah ucapan syukur dari uskup Fillipo Tipaldi karena Umatnya telah dibebaskan dari gempa bumi.
Buah dari misi Populare yang dibuat oleh Uskup di Ariano Irpino ada beberapa wanita yang ingin bertobat dan cara hidup mereka yang awal. Sehingga mereka datang kepada uskup Fillipo untuk meminta tempat dimana mereka bisa memulai hidup yang baru.

Para Suster SOSFS di Vatikan saat berfoto bersama Mgr. Sergio Mellilo. (Foto media sosial SOSFS Vatikan)
Jadi Uskup Fillipo Tipaldi memberikan sebuah rumah sakit tua yang sudah tidak lagi digunakan sebagai tempat untuk para wanita ini memulai hidup baru mereka.
Kemudian uskup Fillipo Tipaldi menamai tempat ini sebagai naungan atau tempat pertobatan. Namun pada tahun 1732 kembali gempa bumi menggoncang Ariano Irpino dan memporak porandakan naungan para wanita-wanita itu.
Oleh sebab itu, para wanita yang sudah memulai hidup penitensi mereka, kembali ke rumah mereka dan kehilangan semangat untuk meneruskan hidup dalam pertobatan.
Uskup Fillipo Tipaldi merasa sayang karena naungan untuk para wanita ini telah hancur sehingga ia merenovasi kembali bangunan itu dan mendedikasikan bangunan itu untuk para gadis yang baik, yang ingin mempersembahkan hidup mereka secara utuh kepada Tuhan dan membuka atau meresmikan Conservatorio atau biara Santo Fransiskus Xaverius khusus untuk para gadis yang ingin mempersembahkan hidup mereka untuk Tuhan.
Jadi, tepatnya pada tanggal 25 Desember 1732 secara resmi Kongregasi SOSFS berdiri dan diresmikan.
SOSFS Indonesia berada di Kota Medan, Sumatera Utara.
Misi Kongregasi ini dimulai pada tahun 2011 tetapi tahun 2000 pimpinan dari Filipina datang ke Indonesia dan bertanya melalui surat kepada Emeritus Uskup Datubara dimana beliau meminta ijin agar diijinkan untuk melakukan atau melaksanakan panggilan di Keuskupan Agung Medan.
Jawaban dari Emeritus Uskup Datubara pada saat itu adalah mengijinkan melaksanakan panggilan di Keuskupan Medan dan apabila mendapatkan calon maka perwakilan dari Filipina tesebut akan membawa langsung ke Filipina.
Begitulah cerita awal sampai saat ini (dua tahun lalu-red) sudah banyak suster-suster berkaul kekal. Jadi saat itu ada sekitar 12 orang Indonesia dan semuanya berasal dari Keuskupan Agung Medan yang sudah berkaul kekal.
Kongregasi ini mengambil bagian dalam kegiatan pastoral di Paroki yang ada di Keuskupan Agung Medan, misalnya liturgi, katakese baik itu untuk anak-anak atau kaum mua dan juga untuk orang tua.
Ciri khas dari pelayanan kongregasi ini sangat unik yaitu doa sebelum dan sesudah melaksanakan tugas-tugas dan juga sesuai dengan karisma mereka yaitu mencintai, menyambut orang-orang miskin yang bukan hanya dari segi ekonomi, juga dari segi rohani ataupun dari segi moral.
Contohnya dalam dunia pendidikan, biasanya mereka memberikan keringanan kepada keluarga-keluarga yang kurang mampu yang berasal dari kalangan bawah agar mereka tidak akan terbebani dengan biaya-biaya administrasi.
Dibidang pelayanan di rumah jompo, setiap suster dituntut untuk melayani dan mencintai orang-orang tua. Kemudian dalam pembinaan kaum muda mudi dituntut untuk melihat situasi keadaan kaum muda mudi dengan menempatkan posisi mereka sebagai muda-mudi untuk mengarahkan anak muda agar menjadi manusia yang kuat dan dekat dengan Tuhan.
Mereka juga berdedikasi untuk dunia pendidikan mulai dari Paud, TK, SD.
Mulai Bergabung dengan Kongregasi SOSFS di Keuskupan Medan
Dalam media sosial SOSFS Indonesia, tampak Suster Agustina Tekege mengikuti prosesi penerimaan saudari Musa SOSFS pada tahun 2022.
Biara Kongregasi SOSFS Indonesia tersebut berada di Kota Medan, Jl. Sakura III, Gg. Pertama, No. 10, Tanjung Selamat.
Agustina juga tampak sangat aktif mengikuti berbagai kegiatan disana. Ia juga terlihat lihai bermain gitar dan bernyanyi lagu berbahasa latin bersama rekan-rekan lainnya.
Suster Agustina Tekege adalah perempuan Papua pertama masuk Kongregasi SOSFS di Medan, dari medan ia dikirim ke Vatikan menjalankan Postulam dan Novis.
Dikutip dari media sosial Suore Oblate di San Francesco Saverio dijelaskan Suster Fransiska Tekege bersama rekannya yang bernama Suster Lusia Titiana Gebo menjalankan proses penerimaan sebagai pendatang baru di SOSFS yang berada di Vatikan pada 20 Februari 2024.

Momen Penerimaan Suster Agustina Tekege dan rekannya di Biara SOSFS Vatikan. (Foto media sosial SOSFS Vatican)
“Kemarin, 20 Februari, selama perayaan Ekaristik di Gereja biarawati Oblat San Francisco Saverio, dua pendaftar muda: Augustine Tekege dan Lusia Titiana Gebo, masuk ke pendatang baru. “Orang baru memperkenalkan kehidupan religius. Tujuan ini adalah untuk memperkenalkan kaum mud kepada esensi kehidupan bakti dan memperkenalkan mereka kepada pengetahuan dan praktek nasihat evangelis tentang ketaatan, kemiskinan dan kesucian. Pada masa para pemula anak muda menyadari panggilan ilahi, khususnya lembaga itu sendiri, mereka mengalami gaya hidup mereka, membentuk pikiran dan hati mereka sesuai dengan rohnya; dan pada saat yang sama niat dan kesesuaian mereka terfikasi”. Kami mengundang Anda untuk Berdoa, Mempercayai Tuhan dengan cara mereka. Salam sejahtera untuk berita Agustina dan Lusia, semoga Tuhan menyertai mereka dan memberikan ketabahan suci. Selamat berjalan menuju kekudusan!,” begitu tulis media tersebut.
Berjalannya waktu, tepat pada hari Sabtu 22 Maret 2025 pukul 11.00 waktu Vatican, Suster Agustina Tekege bersama rekannya Suster Lusia Titiana Gebo menerima kaul pertama mereka dalam Ekaristi Kudus yang dipimpin oleh uskup Ariano Irpinus- Lacedonia, Mgr.Sergio Mellilo.
“Panggilan adalah hadiah berharga yang Tuhan tabur dalam hati, panggilan untuk keluar dari diri sendiri untuk memulai perjalanan cinta dan layanan. Dan setiap panggilan di Gereja – baik pelayanan sekuler atau yang telah ditetapkan
atau kehidupan bakti – adalah tanda harapan yang Tuhan miliki untuk dunia dan untuk setiap anak-anak-Nya (Paus Fransiskus).Selamat kepada para profesional baru: Suster Augustine Tegeke dan Suster Lusia Titiana Gebo. Semoga Tuhan memberimu ketekunan yangsuci dan banyak berkat,” tulis media sosial dari Suore Oblate di San Francesco Saverio.

Suster Agustina Tekege (dua dari kanan) usai menerima kaul pertama dan telah mengenakan pakaian suster berwarna hitam sebagai identitas Biarawati dari SOSFS. (Foto: Media sosial SOSFS Vatikan)
Belum diketahui pasti biodata lengkap dari Suster Agustina Tekege, namun ia membuat bangga semua umat Katolik bahkan seluruh masyarakat yang ada di Papua dalam momen wafatnya Paus Fransiskus yang sangat dicintai di seluruh dunia.