Menu

Mode Gelap

Kesehatan · 20 Feb 2026 16:31 WIT

Terobosan Berani Papua Tengah: Transformasi Kesehatan dari Akar Rumput hingga Bayi Tabung


John saat menceritakan kisah anaknya Anton yang menerima bantuan kaki palsu dari Pemprov Papua Tengah melalui program Gubernur dan Wakil Gubernur Meki Nawipa-Deinas Geley. (Foto: Kristin Rejang/Sasagupapua.com) Perbesar

John saat menceritakan kisah anaknya Anton yang menerima bantuan kaki palsu dari Pemprov Papua Tengah melalui program Gubernur dan Wakil Gubernur Meki Nawipa-Deinas Geley. (Foto: Kristin Rejang/Sasagupapua.com)

SASAGUPAPUA.COM, Papua Tengah – Gubernur Papua Tengah, Meki Nawipa, bersama Wakil Gubernur Deinas Geley (MEGE), menggelar Talkshow capaian satu tahun kepemimpinan mereka di Ballroom Kantor Gubernur Papua Tengah, Jumat (20/2/2026).

Acara yang dipandu oleh jurnalis senior Andy F. Noya ini menyoroti berbagai kebijakan berani di sektor kesehatan, mulai dari subsidi BPJS, penguatan Puskesmas di daerah terpencil, hingga rencana inovatif program bayi tabung gratis bagi masyarakat asli Papua.

Mencari Formula Spesifik untuk Provinsi Baru

Dalam sesi diskusi, Gubernur Meki Nawipa menekankan sebagai provinsi baru, Papua Tengah memerlukan pendekatan yang spesifik dan tidak bisa disamakan dengan daerah lain. Tantangan geografis dan keberagaman karakter masyarakat menuntut pemerintah daerah untuk bekerja dengan hati dan hikmat.

“Jadi kita ini provinsi baru. Ini semua orang dengan cara yang berbeda-beda, karakter yang berbeda-beda kita kondisikan. Jadi sedang mencari formula yang tepat untuk bagaimana kita menangani secara khusus dan spesifik,” ujar Meki Nawipa.

- Advertising -
- Advertising -

Ia menjelaskan bahwa fokus utama saat ini adalah memastikan seluruh warga bisa berobat secara cuma-cuma melalui penguatan kerja sama dengan berbagai rumah sakit.

“Memang kita sekarang punya beberapa program. Pertama, bagaimana caranya mereka bisa berobat gratis, di mana saja. Terus BPJS ini kita dorong banyak hal, kita kerja sama dengan beberapa rumah sakit untuk tolong orang,” tambahnya.

Meki juga mengenang masa awal pelantikannya saat menangani korban konflik saat Pilkada di Puncak Jaya.

“Ada sekitar 4-5 orang di Puncak Jaya, itu ratusan orang kita terbangkan. Dan semua biaya itu kita tanggung. Ratusan orang terbang ke Jayapura, ke Makassar, terbang ke dokter spesialis, ada yang panah masuk ke jantung, tapi masih bisa hidup, kita bayar 400-500 juta per satu orang dan itu kita lakukan,” tegasnya.

Strategi Subsidi BPJS dan Penguatan Puskesmas Percontohan

Pemerintah Provinsi Papua Tengah kini tengah mengimplementasikan pemberian subsidi bantuan BPJS sebesar Rp50.000 kepada seluruh rakyat untuk memastikan akses kesehatan yang merata. Gubernur Meki meminta para bupati untuk bekerja dengan tulus menggunakan anggaran mandatory 10% untuk kesehatan secara efektif.

“Yang sekarang ini rencana kita sedang lakukan di Papua Tengah, kita juga memberikan subsidi bantuan BPJS 50.000 kepada seluruh rakyat Papua. Silakan berobat di mana saja. Karena anggaran itu sudah jelas, 20% pendidikan, 10% kesehatan dan itu mandatory,” jelas Meki.

Untuk mengatasi ketimpangan pelayanan, Gubernur memperkenalkan konsep satu puskesmas percontohan yang ditangani langsung oleh gubernur di setiap kabupaten. Langkah ini diambil untuk mengurangi beban rumah sakit yang selama ini kerap berfungsi sebagai “puskesmas raksasa” karena layanan dasar di tingkat bawah tidak berjalan.

“Kita hidupkan ambil alih satu kabupaten satu puskesmas, ditangani langsung oleh gubernur. Kita lakukan untuk bagaimana memperpendek jarak dari rumah masyarakat ke rumah sakit. Kalau bisa ditangani langsung di puskesmas, untuk apa ke rumah sakit? Rumah sakit itu kan harusnya ke sasaran,” tuturnya.

Selain infrastruktur, Meki berkomitmen mencetak SDM kesehatan lokal dengan membiayai beasiswa bagi 100 dokter spesialis dan 100 dokter umum asli Papua.

Tantangan Geografis dan Semangat Kemandirian Orang Asli Papua

Wakil Gubernur Deinas Geley turut memberikan pandangan mengenai beratnya medan tugas di Papua Tengah. Ia mengibaratkan kesulitan akses antarwilayah di Papua jauh berbeda dengan kemudahan transportasi di kota besar seperti Jakarta.

“Saya ambil contoh kalau Bapak-bapak itu dari Jakarta Timur ke Jakarta Barat itu kan cuma naik sepeda kendaraan. Tetapi di seluruh Papua, gunung-gunung ini semua—walaupun saat ini sementara dibangun, tapi kita harus naik pesawat,” kata Deinas.

Wagub Deinas menegaskan kesehatan dan pendidikan adalah fondasi sebelum membangun ekonomi. Ia juga mengatakan perubahan besar di Papua hanya bisa dilakukan oleh orang asli Papua itu sendiri. “Yang bisa berubah adalah orang asli Papua itu sendiri,” ucapnya.

Program Bayi Tabung: Solusi Pertumbuhan Populasi dan Masalah Reproduksi

Satu hal yang sempat mengejutkan publik adalah rencana pembangunan Rumah Sakit Provinsi yang menyediakan layanan unggulan berupa program bayi tabung. Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Papua Tengah, dr. Agus, menjelaskan bahwa program ini bertujuan untuk menjaga eksistensi populasi orang asli Papua yang cenderung berkurang akibat beberapa masalah kesehatan salah satunya masalah infeksi saluran reproduksi.

“Program bayi tabung ini, sebetulnya kita melihat dari data bahwa angka kelahiran atau penduduk di Papua, khususnya di Papua Tengah ini, sebetulnya berkurang. Sebetulnya semua, baik itu laki-laki atau perempuan sehat. Tapi kita tahu bersama karena pola perilaku yang saat ini, (mohon maaf) ada seks bebas dini, kemudian ada kebiasaan ‘bungkus-mebungkus’, di mana akhirnya ini menginfeksi saluran reproduksi baik itu laki-laki dan juga perempuan,” katanya.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Papua Tengah, dr. Agus saat memaparkan program. (Foto: Kristin Rejang/Sasagupapua.com)

Ia menambahkan bahwa program ini nantinya akan digratiskan bagi masyarakat Papua Tengah melalui kebijakan Gubernur dan Wakil Gubernur.

“Program bayi tabung jalan, semua masyarakat di Papua, baik itu mungkin di seluruh Papua Raya, tidak perlu lagi berobat ataupun program bayi tabung ke luar. Cukup ke Papua Tengah dan itu gratis,” ungkapnya.

Tiga Roh Program ‘Ko Harus Sehat’

Dalam kesempatan yang sama, dr. Agus menjelaskan filosofi program unggulan “Ko Harus Sehat” (Kartu Otsus Harapan Baru Sehat Papua Tengah) yang memiliki tiga “roh” utama.

Roh pertama adalah pencegahan (preventif-promotif) melalui skrining kesehatan dan imunisasi massal.

“Roh yang pertama sebetulnya. pencegahan lebih baik daripada mengobati, preventif-promotif. Dari mana kita bisa dari mulai cek kesehatan dalam bentuk screening deteksi dini,” jelas dr. Agus.

Kemudian kata dia ada pula penyakit-penyakit yang memang bisa dicegah dengan imunisasi.

“Karena memang potret kita saat ini imunisasi kita memang rendah, seperti itu. Dan memang kita harus dari yang Bapak Gubernur-Wakil Gubernur sampaikan kita harus kerja yang tidak biasa-biasa lagi, harus yang memang luar biasa,” ungkapnya.

Selain itu penyakit yang bisa dicegah dengan perilaku hidup bersih dan sehat, Gerakan Masyarakat Hidup Sehat.

“Nah, salah satunya adalah ujung tombaknya adalah Puskesmas tadi. Bahwa kita sekarang untuk Papua Tengah itu ada 150 Puskesmas. Dari 150 Puskesmas, hanya 127 yang teregistrasi. Dari 127, baru sekitar 60 yang terakreditasi,” ujarnya.

“Nah, apa yang kita ambil dari potret ini bahwa memang Puskesmas tadi belum bekerja secara maksimal seperti itu. Di mana tadi kita bukan superman, bahwa ada tupoksi antara Pusat, Provinsi, dan juga Kabupaten. Tugas kita menjadi support system untuk mengambil satu Puskesmas percontohan setiap Kabupaten untuk menjadi Puskesmas percontohan dari Provinsi. Di mana dari alat kesehatan, dari USG, EKG, alat lab-lab yang baru,” sambungnya.

Ada pula yang telah mereka laksanakan diantaranya Puskesmas Sinak di pasang solar cell agar alat-alat kesehata bisa digunakan secara maksimal.

Lainnya adalah berkolaborasi dengan Posyandu dalam hal ini kader.

“Kita menggunakan kader dari tokoh-tokoh agama. Nah, ini menjadi program juga dari Gubernur-Wakil Gubernur. Mungkin belum maksimal, belum seluruh tokoh-tokoh agama yang kita latih menjadi kader kesehatan, tapi baru di sekitar 40 di angkatan pertama kemarin di 2025 mudah-mudahan nanti bisa kami tambah di 2026 ini,” ungkapnya.

Pemprov terus menjadi support system untuk rumah rumah sakit yang dirasa mampu, tenaga dokter spesialis lengkap untuk mem-back up.

“Seperti Paniai, Deiyai, Dogiyai, Mimika mem-back up untuk Puncak-Puncak Jaya. Mungkin Mulia saat ini sudah lengkap, terima kasih Bapak Bupati komitmennya. Mulia mungkin nanti mudah-mudahan supaya tidak terlalu jauh bisa mem-back up ke Puncak seperti itu, semoga nanti tahun ini coba kami akan komunikasikan supaya-supaya tidak terlalu jauh mungkin dari Mimika ke Puncak atau Puncak Jaya,” tuturnya.

Roh kedua berkaitan dengan jaminan pembiayaan kesehatan di mana masyarakat cukup membawa Kartu Keluarga (KK) untuk berobat. Jika tidak tercover PBI JKN Pusat, maka akan dibiayai melalui Jamkesta Kabupaten.

“Roh yang kedua tadi sesuai dengan pertanyaan, bahwa setiap masyarakat yang datang berobat cukup bawa KK saja. KK akan dilihat nanti dicek di rumah sakit itu, terdaftar yang masuk PBI JKN berarti itu sudah bisa terjamin secara BPJS karena Pusat yang membayar PBI. Tapi kalau tidak, itu menggunakan Jamkesta Kabupaten (Cukai Rokok 37,5%-nya),” terangnya.

Sedangkan roh keempat yang disebut sebagai “Roh Kudus” atau roh sinergi menekankan pentingnya kerja sama antara pemerintah pusat, provinsi, dan kabupaten.

“Ini Roh Kudus yang bisa bekerja di semua kita. Kita tidak bisa sendiri, kita harus bersinergi antara pusat, provinsi, juga dengan kabupaten,” kata dr. Agus.

Kisah dari Akar Rumput: Dokter Terbang dan Kaki Palsu untuk John

Kesaksian nyata mengenai dampak kepemimpinan MEGE datang dari dr. Maria Louisa Rumateray, seorang “dokter terbang” yang telah melayani daerah terpencil sejak 2009. Ia menceritakan betapa sulitnya menjangkau wilayah yang bahkan tidak memiliki landasan pesawat.

“Daerah-beda yang saya datang ini nih hanya bisa menggunakan helikopter. Tahun 2009 saya juga dilatih bagaimana lompat dari ketinggian 2 meter ya karena tidak ada landas,” kenang dr. Maria.

Dokter Maria, memberikan apresiasi atas pelibatan hamba Tuhan sebagai kader. Ia pun menitipkan pesan agar kader-kader kesehatan di kampung, termasuk tokoh agama, terus diperhatikan.

Haru menyelimuti ruangan saat seorang ayah, John menceritakan bagaimana putranya, Anton, mendapatkan bantuan kaki palsu dari Meki Nawipa. John mengalami infeksi tulang serius setelah jatuh saat bermain bola di Paniai yang mengharuskan kakinya diamputasi.

“Bapak Gubernur bantu saya untuk anak saya bisa pasang kaki palsu. Sekarang sudah hebat, Pak. Sekarang dia sudah bisa ke gereja, sudah bisa ke sekolah, dia bisa bantu untuk cuci-cuci piring,” ujar Anton dengan.

dr. Maria Louisa Rumateray. (Foto: Kristin Rejang/Sasagupapua.com)

Anton yang juga seorang petani kopi berprestasi di Paniai menutup kesaksiannya dengan rasa syukur atas perhatian yang diberikan Meki Nawipa sejak menjabat sebagai Bupati hingga menjadi Gubernur.

“Bapak Gubernur, ini sejak dulu Bapak kan sebagai pemimpin kita nasihat-nasihat Bapak ini sangat terwujud. Bapa juga ketika jadi bupati di Paniai, kami para petani kopi diberikan gaji Jadi langkah-langkah selanjutnya nanti, Tuhan Yesus akan memberkati,” tutupnya.

Berikan Komentar
penulis : Kristin Rejang
Artikel ini telah dibaca 0 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Syukur Satu Tahun Kepemimpinan MEGE Diawali dengan Ibadah – Lima Poin Mengapa Tidak Boleh Lupa Tuhan ?

20 Februari 2026 - 09:17 WIT

368 Nyawa Melayang, Ribuan Pengungsi, Masyarakat Adat Menjerit – RSP Desak Presiden Jalankan Rekomendasi DPD RI

19 Februari 2026 - 22:30 WIT

Liga 4 Papua Tengah Siap Bergulir, Alfred Fredy Anouw: Kini Tahap Pendaftaran

18 Februari 2026 - 16:23 WIT

Pemprov Papua Tengah Siap Laksanakan Enam Perda

18 Februari 2026 - 13:55 WIT

Silwanus Sumule: ASN Papua Tengah Harus Punya Prinsip Kerja Keras, Cerdas, Jujur, dan Ikhlas

18 Februari 2026 - 10:59 WIT

DPR Papua Tengah Saran Pemprov Bentuk PMHA Terkait Konflik Tapal Batas Kapiraya

18 Februari 2026 - 10:34 WIT

Trending di Pemerintahan