SASAGUPAPUA.COM, Papua Tengah – Perhelatan Papua Reggae Festival (PRF) XI yang digelar di Lapangan Bandara Lama, Kabupaten Nabire, Provinsi Papua Tengah, berhasil mencatatkan rekor sejarah baru.
Selain memecahkan rekor MURI lewat jumlah lagu reggae terbanyak dan kehadiran grup band paling banyak saat keluar dari Kota Jayapura, festival musik ini juga mendongkrak perekonomian lokal secara signifikan.
Dalam kurun waktu dua hari penyelengaraan, yakni pada 16 hingga 17 Oktober 2026, total omset penjualan UMKM Orang Asli Papua (OAP) menembus angka Rp131.063.000.
UMKM Papua Reagge Festival yang dikhususkan bagi OAP ini berjumlah kurang lebih 50 pelaku usaha.
Ketua Komunitas Reggae Papua (KORK), Teddy Pekei, mengungkapkan rasa bangga dan apresiasinya atas pencapaian para pelaku usaha lokal pada festival tahun ini. Ia menegaskan memberikan panggung bagi ekonomi kerakyatan OAP merupakan komitmen utama di setiap perhelatan yang mereka gelar.
“Memang betul bahwa setiap perhelatan Papua Reggae Festival itu komitmen kami memberikan kesempatan kepada UMKM orang asli Papua di dalam event kami. Dan memang dalam event kita tahun ini banyak prestasi yang dimiliki oleh teman-teman di Provinsi Papua Tengah,” kata Teddy Pekei saat penutupan acara PRF XI.
Teddy menambahkan kesuksesan finansial kali ini menjadi salah satu tonggak sejarah penting bagi perjalanan Papua Reggae Festival dari tahun ke tahun.
“Selain rekor MURI, terus grup band yang terbanyak ketika kita keluar dari Kota Jayapura, terus menghasilkan lebih banyak lagu daerah di Tanah Papua baru sejarah pertama, terukir lagi sebuah sejarah bahwa UMKM dalam sebuah event Papua Reggae Festival omsetnya lebih dari 100 juta. Ada sekitar 130 juta lebih selama dua hari pergelaran,” ungkapnya.
Melihat dampak positif yang begitu besar bagi seniman dan pelaku UMKM, Teddy berharap pemerintah daerah dapat terus bersinergi untuk mendukung kegiatan serupa di masa depan.
“Kita berharap ke depan pemerintah daerah baik provinsi maupun kabupaten kota di seluruh Tanah Papua, mari kita bersama-sama bergandengan tangan bersama melakukan event-event seperti begini untuk menghadirkan semua grup seniman-seniman reggae di Tanah Papua dan memberikan kesempatan kepada para UMKM orang asli Papua, mereka bisa mendapat kesempatan untuk mendapatkan finansial yang banyak,” tutur Teddy.
Kemeriahan dan antusiasme pengunjung di Papua Tengah juga dirasakan langsung oleh Naway Rumateray, pedagang Sagu Bakar Sama Rasta yang memboyong produknya jauh-jauh dari Jayapura.
Naway, yang sebelumnya selalu setia mengikuti rekam jejak PRF di Tolikara hingga Wamena, mengaku takjub dengan warga di Nabire.
“Terlalu ‘sinting’ kaka. Kenapa sinting? Karena tidak bisa diungkapkan. Ini terlalu. Mungkin dari sekian banyak PRF yang saya ikuti, di event ini baru saya lihat hebohnya di Papua Tengah. Orang-orang di Papua Tengah tidak hitung-hitung begitu,” tutur Naway.
Naway menceritakan bahwa dorongan terbesarnya untuk terus melangkah dan berjualan mengelilingi Tanah Papua adalah niat mandiri serta janji tulus kepada sang ibu untuk memajukan olahan sagu lokal.
“Kak, kalau dari saya itu intinya itu kita kalau memulai itu yang penting kita punya niat saja, pasti semua itu jadi toh. Sa datang ke sini juga itu niat sendiri, tidak terikat dengan siapa-siapa, karena saya punya janji pertama itu ke mama toh, ‘mama punya sagu ini semua orang Papua, harus makan.’ Jadi mau ada PRF dimana saja, sa ikut saja,” jelas Naway.
Selain membagikan pengalamannya, Naway memberikan pesan mendalam bagi para pemuda Papua agar semakin mengenali dan mengelola potensi sumber daya alam yang melimpah di tanah mereka sendiri melalui aksi-aksi nyata.
“Saking kitong mendalami kitong punya sumber daya alam sendiri, kitong tidak akan kesusahan. Yang penting punya niat saja, daripada kita bertindak dengan tindakan yang lain. Tindakan-tindakan kecil yang nyata itu bagaimana kitong lakukan sehari-hari dalam bentuk begini sudah (jualan). Kitong kenali kita punya sumber daya alam lagi, kita kelola, dan kitong tidak jadi pendatang di atas kitong pu tanah sendiri. Orang pendatang tetap datang, belanja apa yang kita punya,,” ujar Naway.
Naway juga mengungkapkan rasa terkejutnya melihat respons para pembeli di Nabire yang ternyata sudah mengenali usahanya sejak awal.
“Dan yang satu tadi lihat itu, kejutan sekali, Kak. Hampir semua yang datang ke sini itu, bilang. ‘Ini yang dari Jayapura itu? Langsung dong beli, begitu,” pungkas Naway.
Manisnya hasil penjualan di PRF XI juga dirasakan oleh Vinaselt Wader, salah satu penjual pangan lokal khas Papua. Ia mengaku jualan seperti keladi tumbuk yang dijajakannya habis terjual hingga harus menambah stok jualan di hari kedua.
“Bagi saya kegiatan ini menambah pendapatan bagi khusus untuk Papua khususnya karena di sini kami semua adalah pedagang OAP yang jualan dan harapan kami semoga ada event-event ini lagi yang diadakan di Nabire. Hari pertama 1.600.000, hari kedua ini lebih lagi karena kita jual, habis kita tambah lagi,” kata Vinaselt Wader.
Vinaselt menuturkan bahwa tingginya minat pembeli membuat dagangannya habis sejak hari pertama perhelatan.
“Hari pertama kita jual Makanan lokal seperti keladi tumbuk, semuanya habis. Jualan yang hari pertama kita rubah lagi, hari kedua kita kasih tambah banyak lagi dan itu habis. Terima kasih untuk panitia,” tutup Vinaselt Wader.