Menu

Mode Gelap

Hiburan · 15 Feb 2026 10:45 WIT

Amoye Band Luncurkan Album Perdana dan Label Musik Sendiri di Papua Tengah: Bisa Bawahi 100 Artis


Ketua Amoye Band, Petrus Pigai saat memberikan keterangan pers. (Foto: Kristin Rejang/Sasagupapua.com) Perbesar

Ketua Amoye Band, Petrus Pigai saat memberikan keterangan pers. (Foto: Kristin Rejang/Sasagupapua.com)

SASAGUPAPUA.COM, Papua Tengah — Sejarah baru tercipta di belantika musik Papua Tengah. Unit Reggae yang membawa semangat otentik anak-anak Suku Mee, Amoye Band, akhirnya resmi meluncurkan album perdana mereka bertajuk “Rise Your Hand”. Acara peluncuran yang sarat akan identitas budaya ini berlangsung meriah di salah satu kafe di Kota Nabire pada Sabtu (14/2/2026).

Lahir pada 4 Oktober 2018 di Amoye Band bukan sekadar grup musik biasa. Mereka adalah representasi identitas kultural yang kuat, yang kini bertransformasi menjadi kekuatan digital dari Timur Indonesia di tengah arus tren musik yang dinamis.

Album bertema “Rise Your Hand” ini menyuguhkan daftar lagu original yang sarat akan makna, mulai dari Idima Meuwo Tiga, Gerbang Cenderawasih, Nona Cenderawasih, hingga lagu-lagu penyemangat seperti Rise Your Hand dan Freedom In the Air.

Dari Spontanitas di Perempatan Jalan hingga Kedewasaan dalam Grup

Perjalanan Amoye Band ternyata menyimpan cerita emosional yang panjang. Vokalis Aten Tebay mengenang kembali momen 4 November 2018, tepat saat terjadi gempa di Palu, sebagai titik awal terbentuknya band ini. Nama “Amoye” sendiri lahir secara spontanitas melalui tangan dingin seorang musisi Kurios Duwiri.

- Advertising -
- Advertising -

Kurios Duwiri (Pegang Mic). (Foto: Kristin Rejang/Sasagupapua)

“Kami berawal dari spontanitas. Kakak-kakak dari Bicom (Band Community Nabire) memberi kami panggung untuk ngamen dari sore sampai malam. Walaupun awalnya hanya satu atau dua orang, kami maju terus sampai terbentuk hubungan emosional yang kuat,” kenang Aten. Ia juga menjelaskan Amoye hadir ada sentuhan peran penting dari beberapa komunitas yang dulu merangkul mereka.

Kedewasaan grup ini juga didasari oleh prinsip yang kuat. Andy Tebai, sang keyboardist, menambahkan kunci eksistensi mereka adalah ego yang dikesampingkan.

“Menurut saya, untuk suatu band tetap eksis itu adalah kerendahan hati. Kami bersyukur semua rata-rata seumur. Kalau ada yang main salah, kami baku tegur dan baku terima koreksi. Itulah yang membuat kami tetap utuh tanpa harus berganti-ganti pemain,” ungkapnya.

Amoye Music Foundation: Wadah Digital bagi Ratusan Musisi Papua

Keberhasilan peluncuran album ini tidak lepas dari peran sang produser sekaligus maestro Reggae Papua, Dave Baransano. Melalui DSProduction Papua, Dave memberikan dukungan penuh bagi Amoye Band untuk melakukan lompatan besar: dari musisi panggung menuju musisi berbasis distribusi digital yang profesional.

Salah satu pencapaian terbesar dalam peluncuran ini adalah peresmian Amoye Music Foundation, sebuah label musik sekaligus Digital Service Provider (DSP) pertama yang representatif di Papua Tengah. Label ini didesain bukan hanya untuk Amoye, melainkan sebagai ekosistem besar yang mampu menaungi dan membawahi lebih dari 100 musisi lokal untuk mendistribusikan karya mereka ke platform global.

Artis Reggae Papua yang juga Produser Album Amoye Band, Dave Baransano. (Foto: Kristin Rejang/Sasagupapua.com)

“Puji Tuhan, Amoye bisa percayakan kami di Dave Solution (DS) Production untuk mengabulkan permintaan mereka membuat label musik atau musik distribusi. Saya tidak tahu di Nabire mungkin sudah ada, tapi untuk Amoye sudah representatif punya label musik di Papua Tengah. Namanya adalah Amoye Music Foundation,” ujar Dave Baransano dengan bangga.

Dave menekankan pentingnya validasi digital di era modern. “Musisi bukan sekadar ada di panggung, tapi kita harus jual kita punya karya di digital platform musik. Amoye punya label, jadi teman-teman yang mau rekaman atau daftarkan musik di platform bisa langsung ke manajemen Amoye. Jadi bisa tanggung jawab  100 artis lagi dibawah Amoye agar karya mereka bisa dinikmati dunia,” tambahnya.

Menjaga Orisinalitas di Tengah Gempuran “Musik Acara”

Di sela-sela sambutannya, Dave Baransano memberikan pesan menohok mengenai integritas dalam berkarya. Di saat tren musik saat ini banyak didominasi oleh fenomena “musik acara” yang hanya mengejar validasi sesaat, Amoye Band justru memilih jalur orisinalitas dengan membawa legasi musik reggae yang murni.

“Reggae musik itu musik yang lahir dengan legasi, bukan sekadar validasi seperti teman-teman yang sekarang. Saat ini, legasi ini butuh didukung oleh validasi untuk memperkenalkan karya kita agar orang tahu. Tetap hidup Amoye! Tetap hidup di tengah-tengah lagu acara yang sedang merajalela,” tegas Dave.

Ia pun mengungkapkan fakta mengejutkan bahwa karya orisinal itulah yang justru membuka pintu dunia. “Hampir semua lagu Amoye sudah didengar di 200 negara melalui informasi dashboard. Kenapa saya bisa diundang ke Barcelona, Jerman, Belanda, hingga Thailand? Karena banyak yang dengar lagu saya di luar sana. Mereka mencari karya orisinal, dan itulah yang Amoye miliki,” ungkap Dave yang baru saja kembali dari festival musik di Thailand.

Dave Baransano saat memberikan keterangan pers. (Foto: Kristin Rejang/Sasagupapua.com)

Makna di Balik Album “Rise Your Hand”

Album perdana ini berisi lima lagu original yang sarat akan makna filosofis dan pesan kemanusiaan. Sang vokalis, Aten Tebay, menjelaskan bahwa tema “Rise Your Hand” (Angkat Tanganmu) adalah sebuah seruan persatuan di tengah keberagaman.

“Dalam lagu itu, kami awali dengan salam-salam dari delapan kabupaten yang ada di Papua Tengah. Kami mengajak untuk mari bergoyang bersama dan katakan One Love, satu cinta. Walaupun kita beda suku dan bahasa, kita harus bersatu,” kata Aten.

Aten merinci bahwa lagu-lagu dalam album ini merupakan hasil kolaborasi kolektif:

  •  Rise Your Hand & Freedom In the Air: Diciptakan oleh Aten Tebay. Lagu Freedom In the Air menggambarkan kebebasan musik reggae yang santai seperti melayang di udara.
  • Idima Meeuwo Tiga: Diciptakan dan dikomposisi oleh Ketua Amoye Band, Petrus Pigai.
  • Gerbang Cenderawasih: Karya Nahason Pigai, seorang ASN di Dinas PUPR Provinsi Papua Tengah yang mendedikasikan karyanya untuk moto provinsi tersebut.
  • Nona Cenderawasih: Ditulis oleh Andy Tebai (Keyboard/Backing Vocal) berkolaborasi dengan musisi senior Papua, Abang Paul.

Visi Besar dan Formasi Amoye Band

Amoye Band digawangi oleh enam pria bertalenta: Aten Tebay (Vokal), Mochi Badii (Gitar), Petrus Pigai (Bas), duet keyboardist Andy Tebai dan Ronny Pekei, serta Rian Noman pada drum.

Ketua Amoye Band, Petrus Pigai, menyampaikan visi besarnya agar musik Papua bisa maju bersama. Ia juga memberikan pesan kuat terkait pentingnya penguasaan alat musik secara akustik sebagai dasar sebelum terjun ke dunia digital.

“Harapan kami, anak-anak muda yang punya wadah atau band hari ini, pertahankan dan kembangkan supaya api yang hampir padam itu menyala besar. Kami tidak mungkin mulai dari nol lagi. Pemerintah harus melihat potensi ini, yang ada inilah yang harus didorong agar berkembang,” tutur Petrus.

Andy Tebai berbagi rahasia soliditas grup. “Kunci kami tetap eksis adalah kerendahan hati. Kami rata-rata satu umur, jadi kalau ada yang main salah, kami baku tegur dan baku terima koreksi. Itu yang membuat kami tetap utuh,” tuturnya.

Impian Besar Petrus Pigai: Melawan Kepunahan Band dan Go Internasional

Menutup rangkaian peluncuran, Ketua Amoye Band, Petrus Pigai, menyampaikan orasi penuh harapan tentang masa depan musik band di Papua. Baginya, peluncuran album ini bukan sekadar ajang pamer kekuatan, melainkan undangan bagi seluruh musisi Papua untuk bangkit bersama.

“Tentunya kami punya impian dan impian itu sangat besar. Kami mau mencoba bersyukur dengan bakat yang Tuhan berikan untuk berkarya. Kami adakan launching ini bukan karena Amoye hebat, tapi kami mau supaya kita sama-sama. Kalau kami bisa ikut jalur ini, mari kita sama-sama supaya kita bisa go internasional,” ungkap Petrus dengan penuh haru.

Ketua Amoye Band, Petrus Pigai saat memberikan keterangan pers. (Foto: Kristin Rejang/Sasagupapua.com)

Petrus juga menyuarakan kekhawatirannya terhadap regenerasi musisi band yang mulai tergerus zaman. Ia menilai minat generasi muda untuk mempelajari instrumen musik seperti gitar, bas, dan drum kini semakin menurun dan terancam punah. Ia berharap adanya kolaborasi nyata antara komunitas dan pemerintah daerah.

“Kita terancam punah perkembangan band karena minat adik-adik untuk belajar bermain gitar, drum, bass, itu sangat kurang, dan biasanya anak-anak yang belajar itu kalau ada pelayanan di gereja,” katanya.

Ia juga berharap ada perhatian dari Pemda untuk merangkul band-band lokal.

“Perlu ada pentas yang dilakukan oleh Pemda atau siapapun untuk merangkul band-band yang sedang berkembang. Harapan kami, kami orang Papua juga bisa berkarya dan terus menyalakan api musik ini bersama-sama,” tutup Petrus Pigai.

Kini, lima lagu perdana Amoye Band sudah bisa dinikmati di berbagai platform musik digital seperti Spotify, iTunes, dan lainnya. Sebuah bukti nyata bahwa dari Nabire, suara anak-anak Suku Mee siap menggetarkan dunia dengan pesan damai dan karya yang murni.

Berikan Komentar
penulis : Kristin Rejang
Artikel ini telah dibaca 44 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Menuju Oktober 2026: Henes Sondegau Ajak Semua Pihak Sukseskan Festival Reggae Papua ke-XI

29 Maret 2026 - 22:24 WIT

Dave Baransano: “Kita Masih Manusia Kelas Dua di Bangsa Ini – Standar Musisi Papua Adalah Internasional!”

28 Maret 2026 - 17:46 WIT

Papua Reggae Festival XI Siap Menjadi Panggung Pembuktian Musisi Lokal Menuju Dunia

27 Maret 2026 - 22:58 WIT

Pemprov Papua Tengah Siap Dukung Penyelenggaraan Papua Reggae Festival ke-IX di Nabire

27 Maret 2026 - 22:30 WIT

Resmi Diluncurkan, Papua Reggae Festival XI Siap Dilaksanakan Oktober Mendatang: Usung Napas Budaya Lokal

27 Maret 2026 - 21:56 WIT

Sebentar Lagi Mulai! Panggung Launching PRF XI Siap Suguhkan Getaran Reggae dari Musisi Terbaik Papua

27 Maret 2026 - 17:46 WIT

Trending di Hiburan