Menu

Mode Gelap

Opini · 5 Agu 2026 12:49 WIT

Buku, Pena, dan Aksara: Menambal Ruang Kosong Pendidikan di Tanah Papua


Thomas Bagubau, (Founder Komunitas Lapak Baca Jalanan Kota Timika). Perbesar

Thomas Bagubau, (Founder Komunitas Lapak Baca Jalanan Kota Timika).

Opini Oleh: Thomas Bagubau 

Lapak Baca Buku Gratis dihadirkan sebagai sebuah gerakan kolektif untuk merawat budaya membaca masyarakat. Bagi kami, setiap gerakan literasi yang dibangun oleh anak-anak Papua adalah fondasi perubahan yang sangat esensial. Ruang ini menjadi wadah kebebasan bersama untuk menikmati bacaan secara murni ruang yang ramah bagi anak-anak, lansia, hingga kawan-kawan tunanetra dan tunarungu, baik yang berada di kota maupun di pedesaan.

Gerakan literasi bukanlah tindakan yang melintas tanpa arti, melainkan sebuah upaya membangun budaya membaca bagi siapa saja. Memperoleh hak pendidikan, hak membaca, hak berpikir, dan hak berdialog adalah hak setiap warga sipil untuk menyuarakan tulisan mereka kepada publik dan lingkungan sekitar. Gerakan ini hadir untuk memperluas jaringan pengetahuan anak-anak, orang tua, menjaga hutan, bumi, hingga tanah air sebagai bentuk pengisian nutrisi pengetahuan.

Pentingnya budaya membaca hingga ke pelosok desa bukan sekadar slogan literasi tanpa melihat realitas di lapangan. Lebih dari itu, literasi adalah peluang besar bagi generasi yang trauma, mereka yang kehilangan rumah, keluarga, dan tempat tinggal untuk mendapatkan akses pendidikan layak yang seharusnya diberikan secara gratis selamanya.

- Advertising -
- Advertising -

Jika mereka tidak diberikan buku dan pena, mereka akan terus merasakan penderitaan yang drastis, trauma, hingga kehilangan segalanya dalam kehidupan di lingkungan tempat mereka tinggal.

Banyak sekolah dibakar, dijadikan pos, dijadikan medan tempur, dan menciptakan budaya gangguan psikologis bagi masyarakat atau generasi yang pernah merasakan kecemasan serta trauma akibat kehilangan keluarga.

Perlu diketahui bahwa membaca buku, menulis, berdiskusi, dan berdialog adalah solusi yang lahir dari membuka lapak baca gratis. Semua persoalan harus diselesaikan secara matang melalui budaya literasi yang kuat. Jika tidak, kita akan terus merasakan penindasan berulang yang sama.

“Bangun budaya literasi, sebab ketidaktahuan telah banyak memakan korban”

Saat ini di era digital, pengaruh budaya luar maupun teknologi informasi yang kian kusut di negeri memakan saraf otak dan energi tubuh. selama, kurang lebih 300 tahun lalu, sampai sekarang masih belum selesai secara tuntas.

Apalagi Konstitusi mengatakan mencerdaskan kehidupan bangsa dan pelihara pagar Miskin. Tetapi, secara psikologis di wilayah Papua tidak seperti yang Konstitusi sampaikan. Ya, yang ada Masyarakat, generasi, anak-anak, mereka merasakan arti cerita ke cerita adalah budaya leluhur mereka, yang terus tumbuh dan kokoh dari generasi ke generasi. Sekalipun zaman menguasai semua ilmu pengetahuan, tetapi mereka mampu menjaga dan memelihara budaya bahasa adalah tulisan mereka.

Harapan kita sering kali hanya berfokus pada pembangunan sumber daya alam. Lantas, bagaimana dengan manusianya? Apakah kita memilih alam untuk dieksplorasi dan dirusak demi bisnis ilegal atau sekadar mengisi perut?

Ingatlah, membangun manusia tidak cukup dengan pengetahuan yang dangkal, apalagi dengan kemampuan literasi yang minim. Bagaimana mungkin kita membicarakan Sumber Daya Manusia, jika di lingkungan sekitar, kita justru memilih merusak alam demi uang, merusak bumi demi perusahaan, merusak pendidikan demi keamanan, dan merusak isi bumi hanya demi kepentingan diri sendiri?

“Apa pun yang Anda baca dari tulisan ini, semoga menjadi bacaan yang bermakna”.

Mengulang lagi, berbicara soal persaingan ekonomi dan kualitas masyarakat maupun generasi baik di luar maupun di dalam. Apakah semua ini benar-benar tercapai, atau sekadar bahasa manipulasi? Jika ya, katakan tidak.

Sebab, kami perlu buku, pena, dan papan tulis. Cerita ke cerita adalah budaya leluhur kami. Kami perlu buku-buku untuk mengembangkan pemikiran kami yang masih tertinggal dan tidak tahu ini, supaya kami bisa menghidupkan buku-buku di kampung, dusun, desa, distrik, bahkan hutan.

Sebab, pembagian buku ini adalah tindakan perubahan yang paling nyata. Selama 20 atau 100 tahun ke depan, generasi dan masyarakat akan sadar serta memahami secara perlahan.

Penulis mengatakan, “Kampanye literasi yang kami bangun di seluruh Tanah Papua ini berbasis pendidikan budaya, untuk mengisi ruang-ruang kosong yang tidak tersentuh oleh pemerintah. Dengan begitu, kita memastikan setiap anak Papua memiliki basis pengetahuan literasi yang mumpuni dan kokoh.”

Di setiap kampung ke kota perlu memberikan akses pendidikan layak dan unik, Berbagi pihak perlu berperan penting dan membuka akses agar mereka mendapatkan aksara bacaan secara untung dan matang.

Pilihan yang paling tepat adalah menjalankan pendidikan melalui aktivitas membaca, menulis, dan bercerita tentang belajar. Pendidikan yang sesungguhnya adalah jendela kehidupan bangsa yang harus diperhatikan secara penuh oleh negara dan pemimpin daerah.

Kadang-kadang, berbagai pihak tidak memahami secara matang konteks masyarakat dan generasi di tempat mereka tinggal atau ditempatkan. Apalagi, informasi yang kita terima dari media cetak maupun media massa sering kali tidak sesuai dengan kenyataan di lapangan.

Pengetahuan yang terus bertambah, akan membantu melihat arah dengan lebih jelas, memahami setiap tantangan dengan lebih analisis, dan mengambil keputusan yang lebih matang. Pikiran yang terus diasah akan menjadi sumber kekuatan dalam menghadapi perubahan didalam masyarakat maupun generasi di wilayah konflik entah tidak.

Setiap orang mempunyai hak untuk sekolah, berpikir, dan berpendapat, serta kritis dalam menyikapi berbagai hal. Tidak berhenti belajar hanya karena telah mengetahui banyak hal. Membaca, menulis, diskusi, analisis, dialog, cerita ke cerita, mendengarkan, bertanya, dan merenungkan setiap pengalaman sebagai kesempatan untuk bertumbuh. Dengan cara itu, ilmunya tidak hanya menambah kecerdasan, tetapi juga membentuk kesadaran masyarakat, dan kemampuan melihat kehidupan dengan lebih luas di lingkungan sosial.

Jadikan budayakan membaca sebagai kebiasaan yang menemani setiap harimu. Isi pikiranmu dengan ilmu yang bermanfaat, peliharalah rasa ingin tahu, dan gunakan pengetahuanmu untuk menghadirkan kebaikan bagi masyarakat maupun generasi.

Ketika pikiranmu dibentuk oleh ilmu dan kesadaran, engkau akan memiliki pedang yang menuntun setiap langkah menuju kehidupan yang lebih bermakna dan penuh harapan bagi kehidupan masyarakat. yang tidak memiliki alat menulis, engkau mampu memberikan kontribusi besar pada negeri maupun rakyat.

Semoga setiap pihak yang berjiwa sipil memegang anak panah di tangan kanan dan memegang buku bacaan di tangan kiri. Untuk menghancurkan ketidakadilan, tidak cukup hanya dengan tutur kata dan peluru. Kita membutuhkan kekuatan pengetahuan dan budaya membaca untuk melawan kebodohan di negeri ini. Oleh karena itu, teruslah mendorong kehadiran buku dan gerakan literasi untuk mengisi ruang-ruang yang masih kosong.

 

Penulis: Thomas Bagubau (Penggerak Literasi di Provinsi Papua Tengah dan Founder Komunitas Lapak Baca Jalanan Kota Timika)

Artikel ini telah dibaca 3 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Alokasi dan Realisasi Dana Bantuan Studi APBD Nduga 2026 Disorot, IPMNI Desak Evaluasi Total

26 Juli 2026 - 21:28 WIT

Kenang Jasa Guru Perintis dan Pemikiran Pendidikan Papua, Tiga Buku Siap Diluncurkan di Nabire

13 Juli 2026 - 08:08 WIT

OPINI | Bintang Kejora di Etalase Pasar: Ketika Simbol Perjuangan Papua Menjadi Komoditas Ekonomi (1)

10 Juli 2026 - 21:04 WIT

OPINI | Tangan Kanan Mama Aliana

23 Juni 2026 - 15:19 WIT

OPINI | Lima Tahun Menanti Air Bersih di Juta: Potret Inersia Birokrasi dan Alienasi Hak Konstitusional

23 Juni 2026 - 15:06 WIT

Ironi dari Trans Nabire-Dogiyai : Saat Panorama Pegunungan Weyland Membius, Tambang Ilegal Menggerus

22 Juni 2026 - 08:42 WIT

Trending di Opini