SASAGUPAPUA.COM, Papua Tengah – Di tengah kepulan duka akibat konflik bersenjata yang mengguncang Distrik Kembru dan Pogoma, Pemerintah Provinsi Papua Tengah bergerak cepat melakukan aksi kemanusiaan.
Pada Kamis, 23 April 2026, bantuan logistik dan tim terpadu resmi mendarat di Kabupaten Puncak Jaya sebagai bentuk respons darurat atas pengungsian massal yang melanda wilayah tersebut.
Laporan kegiatan penyerahan bantuan logistik tanggap darurat bencana sosial di Kabupaten Puncak ini disusun berdasarkan Surat Keputusan Bupati Puncak Nomor: 300.2.1/48/Tahun 2026.
Keputusan tersebut menetapkan status tanggap darurat akibat konflik bersenjata dari operasi keamanan pengejaran Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di Distrik Kembru dan Distrik Pogoma, yang mengakibatkan pengungsian massal ke Distrik Sinak dan Distrik Mulia.
Tercatat lima orang korban luka yang saat ini tengah menjalani perawatan intensif, yaitu Aliko Walia (7 tahun) di ICU RSUD Mulia, Onte Walia (4 tahun), Daniton Walia (3 tahun), dan Nokia Kogoya (24 tahun) di RSUD Mulia, serta Anite Telenggen (26 tahun) di RS Dian Harapan Jayapura.
Pemerintah Provinsi Papua Tengah merespons situasi ini dengan membentuk Tim Terpadu lintas sektor yang terdiri dari Dinas Sosial, BPBD dan Damkar, Dinas Kesehatan, serta Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana.
Tim Kesehatan berfokus pada keselamatan jiwa warga yang terluka, sementara Tim Perlindungan Perempuan dan Anak memberikan konseling psikis bagi pengungsi dan korban di rumah sakit. Adapun Tim BPBD dan Sosial bertanggung jawab pada pemenuhan logistik mendesak dan identifikasi data korban.

Asisten I Sekretariat Daerah Provinsi Papua Tengah, Alanthino Wiay. (Foto: Humas Pemprov Papua Tengah)
Sambutan Gubernur Papua Tengah, Meki Nawipa dalam sambutan yang dibacakan oleh Asisten I Sekretariat Daerah Provinsi Papua Tengah, Alanthino Wiay, menjelaskan koordinasi yang terbangun merupakan instruksi langsung pimpinan untuk memastikan pemerintah daerah hadir di tengah penderitaan rakyat.
“Atas nama Pemerintah Provinsi Papua Tengah mengucap syukur kepada Tuhan karena Tuhan baik, sehingga koordinasi kita bisa berjalan dengan baik dan hari ini kami bisa tiba menemui langsung saudara, keluarga kita di tempat ini. Kami menyampaikan salam sayang dari Bapak Gubernur, Bapak Wakil Gubernur yang oleh perkenanan Tuhan sejak awal kejadian Bapak Gubernur sudah langsung turun di tempat ini dan meninjau langsung,” ujar Alanthino.
Ia juga memberikan instruksi khusus agar bantuan ini tidak hanya sekadar diserahkan secara simbolis, melainkan langsung menyentuh kebutuhan perut masyarakat lewat penyediaan dapur umum.
“Kami hadir bukan sebagai pemerintah, tapi kami hadir sebagai bagian dari keluarga di sini. Kami turut merasakan duka dan kami juga turut merasakan apa yang saudara-saudara kami, keluarga kami rasakan di sini. Bantuan yang diberikan ini berupa bahan mentah kita lihat semua, untuk itu perlu ada tindakan-tindakan lebih lanjut, kita tidak memberikan dan kita melepas begitu saja, tapi kita perlu memberikan yang baik. Jika perlu dibangun dapur umum, bangunlah dapur umum karena saudara-saudara kita yang mengungsi ini tidak mungkin mereka jalan dengan membawa kompor dan alat dapur,” tegasnya.
Menembus Awan Nabire: Jembatan Udara Logistik 2 Ton Beras dan Kebutuhan Darurat
Kepala Dinas Sosial Papua Tengah, Roni Misikmbo, memaparkan laporan teknis mengenai jembatan udara yang dikerahkan untuk membawa bantuan.
Sebanyak empat penerbangan Smart Air dikerahkan untuk memastikan bantuan sandang dan pangan tiba tepat waktu di lokasi pengungsian dengan volume muatan yang signifikan.
“Izinkan saya menyampaikan laporan rincian bantuan logistik yang telah kami bawa sampai di sini. Kami mendatangkan muatan yang terdiri dari beras 2 ton, kemudian minyak goreng 40 liter, susu 40 dos, kopi 100 bungkus, gula pasir 400 kg, Supermi 80 karton, dan garam 70 gram. Selain itu, kami juga menyertakan kebutuhan sandang dan alat tidur berupa tikar 80 lembar, sabun cuci 80 bungkus, sabun mandi 80 batang, sikat gigi 59 buah, pasta gigi 90 buah, serta sandal jepit swallow sebanyak 90 pasang,” papar Ronny.
Selain logistik pangan, tim juga membawa 50 lembar terpal, 80 selimut dewasa, 70 bungkus pembalut, 80 popok bayi, 30 lembar sarung ibu, dan 40 selimut bayi. Ronny menjelaskan bahwa misi medis akan segera menyusul ke titik pengungsian lainnya.
“Laporan berikutnya adalah rencana tim dari kesehatan akan diterbangkan besok dari Nabire ke Sinak membawa beberapa peralatan kesehatan medis di antaranya adalah bahan makanan untuk tim medis selama bertugas, paket PMT untuk korban terdampak, bahan medis habis pakai, obat-obatan, dan alat kesehatan. Kemudian tim kesehatan juga akan diterbangkan dari Sinak ke Mulia untuk menyerahkan peralatan sesuai dengan janji Pak Gubernur yaitu oksigen generator dengan kapasitas besar dan genset untuk Rumah Sakit Umum Daerah Mulia,” tambahnya.
Isak Tangis Elvis Tabuni: “Rakyat Saya Tidak Salah, Mengapa Mereka Harus Menderita?”
Momen paling mengharukan terjadi saat Bupati Puncak, Elvis Tabuni, memberikan tanggapannya. Dengan mata berkaca-kira, ia tak kuasa menahan kesedihan melihat warga sipil yang tidak tahu apa-apa harus kehilangan tempat tinggal bahkan nyawa akibat konflik yang terjadi.
“Di tengah-tengah terjadi insiden pada tanggal 14 April yang lalu. Semua masyarakat saya ada di situ. Saya terharu, masyarakat hilang tak bersalah. Anak kecil tidak salah, mama-mama tidak salah, masyarakat saya tidak salah. Jadi masyarakat Puncak, Bapak Bupati duka, Dandim duka, Ketua DPR serta seluruh anggota Pemda Puncak duka, Puncak Jaya juga duka, Gubernur duka, karena rakyat kami tidak tahu apa-apa mereka mati,” ungkap Elvis sambil menitikkan air mata.

Bupati Puncak, Elvis Tabuni tampak menangis ketika membawakan sambutan. (Foto: Humas Pemprov Papua Tengah)
Di sela kedukaannya, ia tetap menekankan pentingnya akurasi data dan administrasi formal melalui SK Tanggap Darurat agar penyaluran bantuan dapat terdistribusi secara transparan dan tepat sasaran.
“Jadi hari ini aturannya bahwa Bupati Puncak Jaya, Bupati Puncak harus buat satu surat keputusan namanya tanggap darurat resmi. Saya tanda tangan, Bupati Puncak Jaya tanda tangan, kirim lalu bantuan turun begitu,” pungkasnya.







