Sore itu Jumat 5 September 2025, Herman You tampak puas melihat penampilan Seni Drama dan Tari (Sendratari) yang dibawakan oleh siswa binaannya dari Kabupaten Paniai dalam kegiatan Festival Budaya Pelajar (FBP) se-Papua Tengah.
Sembari memberikan minuman air mineral kepada siswanya ia terlihat memberikan senyum yang lebar, sambil menepuk pundak salah satu siswa pertanda bangga melihat mereka mampu membawakan pesan pentingnya pendidikan untuk anak adat melalui sentuhan budaya. Ia semakin menegaskan anak Papua Tengah bisa maju tanpa menghilangkan akar budaya.
Tak hanya itu, sebelumnya Herman You yang merupakan seniman dan budayawan sudah terlihat sibuk sejak acara pembukaan tanggal 3 September 2025 lalu. Ia menyiapkan siswa-siswi untuk memakai pakaian adat juga memamerkan accesories budaya mereka dengan penuh makna.
“Mereka tampil sesuai dengan juknis ada drama dan ada tari, kami bawa pesan mendalam tentang situasi yang sering terjadi sekarang ini di kalangan anak muda, dan pentingnya pendidikan,” ungkapnya.

Herman You (topi) saat tampil dalam parade pembukaan FBP, Rabu (3/9/2025).
Herman mengatakan generasi sekarang perlu diajarkan mencintai budayanya, berkebun secara tradisional, membuat noken, pagar, dan semua yang sudah diajarkan oleh leluhur perlu dilestarikan.
“Sekarang ini pembiaran terlalu banyak, oleh karena itu, dinas pendidikan dan kebudayaan Paniai di setiap sekolah mulai dari SD-SMA/SMK selalu ada muatan lokal selalu di lombakan tingkat sekolah,” ungkapnya.
Sehingga baginya, warisan leluhur terus terjaga sampai kapanpun.
“Anak-anak sekarang banyak terpengaruh dengan budaya luar sehingga kegiatan ini (FBP) sangat penting untuk memberikan semangat budaya kepada anak-anak,” ungkapnya.
Tak hanya Paniai, tampak persiapan dan sentuhan budaya juga ditunjukan oleh pelajar dari Mimika, Nabire, Puncak Jaya, Intan Jaya, Puncak, Deiyai, dan Dogiyai. Masing-masing lihai memperkenalkan dengan bangga akan budaya mereka.
Bukti Pelajar Mampu Rawat Budaya
Festival Budaya Pelajar (FBP) se-Papua Tengah ini diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan Provinsi Papua Tengah sejak tanggal 3 September dan akan berakhir pada 6 September 2025.
Total siswa perwakilan dari delapan Kabupaten di Papua kurang lebih 200 orang.
Mereka membawa pesan budaya yang khas dari masing-masing daerah. Mulai dari Nabire, Timika, Paniai, Dogiyai, Deiyai, Puncak, Puncak Jaya dan Intan Jaya.
Semua menampilkan busana adat mulai dari memakai koteka, cawat, noken, eba, gelang, waiyoo, busur dan panah dan lain sebagainya. Bertabur budaya terlihat natural di lokasi kegiatan yaitu Lapangan Bandara Lama Nabire.

Penari dari Kabupaten Nabire saat menari dalam acara pembukaan FBP di Bandara Lama Nabire, Rabu (3/9/2025).
“Kegiatan ini bertujuan untuk menumbuhkan kebanggaan pelajar terhadap budaya lokal Papua Tengah, memberikan ruang ekspresi dan apresiasi terhadap seni dan budaya daerah,” kata Ketua Panitia, Thomas Songgonao dalam momen pembukaan kegiatan Rabu (3/9/2025) lalu.
Ini juga untuk mendorong sekolah dan guru agar terus membina kegiatan ekstrakurikuler seni dan budaya.
Tak tanggung-tanggung semua siswa tampil dengan maksimal mereka lihai dalam menyajikan tarian dan drama bertajuk budaya yang kental, melalui tangan sendiri, mereka mampu membuat berbagai macam karya seni budaya seperti membuat noken, mahkota, miniatur honai, dan lain sebagainya.
Dari cara mereka menampilkan, menjadi bukti bahwa pelajar siap menjaga budayanya jika diberikan kesempatan.
Gubernur Papua Tengah, Meki Nawipa dalam sambutannya mengatakan jika tidak menjaga dengan bijak, ada resiko warisan luhur terkikis bahkan terlupakan.
Ia mengajak agar semua pihak bisa memastikan bahwa generasi muda Papua Tengah tetap mengenal akar budayanya sekaligus mampu berdiri tegak di era modern dengan identitas yang kuat dan berkarakter.
Salah satu tujuan besar dari Festival tersebut adalah membentuk pelajar sebagai agen pelestarian budaya, yang mampu menjaga warisan leluhur sekaligus berinovasi untuk masa depan.
“Kalian adalah duta budaya Papua Tengah, dari kalianlah masa depan budaya kita ditentukan,” serunya.

Gubernur Papua Tengah, Meki Nawipa saat membawakan sambutan acara pembukaan FBP di Bandara Lama Nabire, Rabu (3/9/2025). Foto: Edwin Rumanasen/Sasagupapua
Ia juga berpesan agar semua generasi Papua menjaga dan mencintai budaya sendiri sebab budaya adalah jati diri.
“Jangan pernah merasa minder menjadi orang Papua, tapi justru tunjukanlah Pada dunia bahwa anak Papua Tengah bisa maju tanpa hilang akar budayanya,” kata Meki.
Menurutnya, diluar negeri sana, banyak orang hidup tanpa budaya.
“Tapi kita punya koteka, kita punya warisan, kita punya cawat , kita punya budaya yang sangat kaya raya ini, kita bangga karena orang lain tidak akan dapat kesempatan seperti ini,” ujarnya.
“Kita tidak mungkin jadi orang lain diatas tanah ini. Kita bangga punya rambut keriting dan kulit hitam. Banggalah menjadi orang Papua,” pungkasnya.
Pelajar Bisa Rasakan Program Pemerintah
Bupati Intan Jaya, Aner Maisini mengapresiasi para pelajar yang menampilkan karya budayanya.
“Ini adalah kegiatan yang menunjukan generasi penerus bisa mempertahankan indentitas atau budaya mereka,” kata Aner.

Bupati Intan Jaya, Aner Maisini saat diwawancarai usai kegiatan pembukaan FBP di Bandara Lama Nabire, Rabu (3/9/2025). Foto: Kristin Rejang/Sasagupapua.com.
Menurutnya, dengan event ini membawakan semangat baru bagi generasi sehingga para pelajar pun merasakan program pemerintah.
“Bahkan budaya-budaya itu mereka bisa bawa, jadi sebagai bupati Intan jaya menyampaikan terimakasih kegiatan ini sangat positif untuk membangun di Provinsi Papua Tengah ini,” serunya.
Dalam kegiatan tersebut, Aner juga berkomitmen untuk memberikan perhatian kepada generasi penerus di Intan Jaya agar menjaga budaya dan tidak punah.
Anak Perlu Dibina Untuk Pertahankan Budaya
Anggota Majelis Rakyat Papua (MRP) Papua Tengah Pokja Adat, Thomas Mutaweyau mengatakan setiap ajang yang mengangkat budaya bagi generasi muda merupakan ajang yang positif.
Apalagi membawakan berbagai pesan cinta budaya, perdamaian, cita-cita dan sebagainya.
“Anak-anak generasi sekarang khususnya di Papua Tengah memang perlu dibina untuk tetap melestarikan dan mempertahankan budaya setempat dari 8 kabupaten ini,” katanya.

Anggota MRP Provinsi Papua Tengah, Thomas Mutaweyau saat diwawancarai usai kegiatan pembukaan FBP di Bandara Lama Nabire, Jumat (5/9/2025). Foto: Kristin Rejang/Sasagupapua
Ia berikan apresiasi kepada para guru dan yang membina serta mengajarkan tentang budaya di setiap sekolah.
“Ini belum perna saya lihat, tapi provinsi kita provinsi baru dan bapak gubernur sekarang senang sekali akan ajang ini tapi harus berkelanjutan untuk anak-anak generasi sekarang,” jelasnya.

Para siswa dari Kabupaten Paniai saat bersiap untuk parade dalam momen FBP, Rabu (3/9/2025). Foto: Edwin Rumanasen/sasagupapua.com
“Dan ini menjadi sukacita yang luar biasa, kegembiraan yang luar biasa. Ayo, para generasi muda, jangan terlena dengan budaya luar, mari kembali gali budaya setempat kita, mengangkat ke dunia luar,” sambungnya.
Harapan Agar Terus Dilaksanakam
Guru dari Puncak Jaya, Albert Lebang membawa sekitar 25 orang peserta dan pendamping. Semua biaya ditanggung oleh pemerintah Provinsi Papua Tengah melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan.
Bagi Albert, para siswa mampu melestarikan budaya, mampu menjaga budaya jika terus diberikan dukungan dan ruang.
“Semoga kedepannya boleh dikembangkan, dan harapan kami juga, kalau boleh tiap tahun diakan festival ini juga, supaya budaya-budaya kedepan secara khusus kita dari Puncak Jaya tidak punah,” ungkapnya.

Para Pejar dari Puncak Jaya saat momen parade pembukaan FBP di Bandara Lama Nabire, Rabu (3/9/2025).
Menurutnya dengan terselenggaranya kegiatan serupa seperti Festival Budaya Pelajar ini berdampak baik bagi anak-anak.
“Anak-anak bisa belajar dan mampu memperkenalkan secara khusus kepada masyarakat, terkait dengan budaya-budaya dari tiap-tiap kabupaten di Papua Tengah,” pungkasnya.








