SASAGUPAPUA.COM, Papua – Komika dan aktor kenamaan asal Papua, John Yewen, menyampaikan kritik terbuka dan mendalam menanggapi arahan serta program pemerintah pusat di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto terkait pembukaan lahan perkebunan sawit di tanah Papua.
Dengan nada emosional namun reflektif, Yewen mengingatkan bahwa kebijakan yang tidak berbasis pada kelestarian lingkungan dan kebutuhan lokal hanya akan menjadi luka baru bagi masyarakat adat.
John Yewen mengawali pernyataannya dengan mengakui legitimasi Presiden sebagai pilihan rakyat, namun ia menegaskan bahwa jabatan tersebut membawa tanggung jawab moral yang besar terhadap kelangsungan hidup warga di daerah.
“Beliau terpilih itu karena masyarakat, karena kita juga yang pilih. Tapi menurut saya, kita harus menentang kebijakan-kebijakan yang tidak pro terhadap masyarakat, walaupun mungkin itu bersifat arahan,” ujar Yewen kepada media ini.
Baginya, setiap ucapan orang nomor satu di Indonesia tersebut memiliki dampak nyata yang luar biasa di lapangan.
Kondisi alam Indonesia yang tengah dirundung berbagai bencana ekologis menjadi landasan utama kekhawatiran Yewen.
Ia menyoroti bagaimana cuaca ekstrem dan hujan yang terus-menerus melanda Indonesia seharusnya menjadi sinyal peringatan bagi pemerintah untuk berhenti merusak hutan.
“Arahan atau program yang berdampak pada perusakan hutan saya rasa mungkin bisa dihentikan. Indonesia ini kaya akan sumber daya alam dari segi laut, udara, darat, semua banyak. Jadi kalau bisa, kelola yang tidak berdampak pada lingkungan,” tambahnya.
Secara khusus, Yewen juga menyoroti rencana konversi hutan menjadi perkebunan sawit di Papua yang dinilainya sebagai langkah yang tidak tepat sasaran. Ia membandingkan sawit dengan komoditas lokal yang jauh lebih bersahabat dengan ekosistem Papua, yakni sagu.
“Kita merubah hutan menjadi sawit, menurut saya itu tidak tepat. Papua mending kita tanam sagu deh daripada sawit, karena kalau sagu itu dia bisa menjadi rumah bagi hewan-hewan yang lain, menjadi pangan yang baik untuk masyarakat, dan menjadi makanan pokok lokal,” jelasnya.
Yewen juga memberikan pesan menukik kepada para kepala daerah di Papua agar tidak hanya menjadi perpanjangan tangan pemerintah pusat tanpa mempertimbangkan dampak sosial bagi rakyatnya.
Ia mengingatkan bahwa pemimpin daerah adalah wakil Tuhan yang memegang amanah rakyat.
“Kepala-kepala daerah, kalian harus bisa membedakan posisi sebagai pimpinan daerah. Anda itu wakil masyarakat, Anda juga tangan kanan pemerintah pusat, tapi Anda harus tahu bahwa Anda adalah wakil Tuhan di bumi. Ketika Anda melakukan hal yang merugikan masyarakat, Anda bukan saja berdosa kepada masyarakat, tapi berdosa juga kepada Tuhan,” tutur aktor ini.
Terkait hutan yang sudah terlanjur dibabat, Yewen mendesak adanya langkah nyata berupa reboisasi dan penghijauan kembali. Ia melihat bencana alam di berbagai daerah sebagai “ultimatum” dari alam.
Baginya, merusak hutan bukan hanya soal lingkungan, tapi juga soal pelanggaran hak asasi manusia dan makhluk hidup lainnya.
“Kita merusak hutan itu bukan saja berdampak ke kita manusia, tapi berdampak kepada habitat lain. Hewan-hewan lain kehilangan rumah mereka, hancur semua,” katanya.
Momen Natal, Yewen menyampaikan sebuah permohonan yang ia sebut sebagai kado terbaik untuk tanah kelahirannya.
Ia mengajak seluruh elemen masyarakat, termasuk pekerja seni dan kreator konten, untuk terus bersuara menjaga hutan adat.
“Harapan saya untuk semua masyarakat, kita tetap bersuara. Sebagai pekerja seni terus menyampaikan lewat seni agar hutan kita jangan sampai habis, tanah adat kita terjaga. Masyarakat adat itu hidup bergantung pada hutan adat, pada pohon mereka, dan kebun mereka,” pesannya.
Sebagai penutup, Yewen memberikan sebuah ungkapan yang menyentuh sisi kemanusiaan dalam memandang ekologi Papua.
“Kado Natal terbaik untuk tanah Papua adalah jangan tanam sawit, karena orang Papua hidup dengan sagu, bukan dengan sawit. Ingat, hutan subur mata air mengalir, hutan hancur air mata mengalir,” pungkasnya.





