SASAGUPAPUA.COM, Papua Tengah –Akses lautan yang membelah ombak dan menyisir pesisir utara Papua menjadi akses menuju Kampung Napan, Distrik Napan, Kabupaten Nabire.
Pada Selasa, 9 Juni 2026, deru mesin perahu fiber memecah sunyinya perairan sejak bertolak dari Dermaga Muara Lagari. Di atas perahu yang berguncang dihantam ombak selama kurang lebih satu jam perjalanan itu, duduk Wakil Ketua IV DPR Papua Tengah, John Gobai, bersama timnya.
Kunjungan ini bukan sekadar perjalanan birokrasi formal di atas kertas, melainkan sebuah misi kemanusiaan yang mendalam untuk menyentuh langsung kehidupan masyarakat di salah satu wilayah paling bersejarah namun belum sepenuhnya tersentuh pembangunan.

Wakil Ketua IV DPR Papua Tengah, John Gobai dan tim saat menuju ke Napan menggunakan perahu fiber. (Foto: Kristin Rejang/Sasagupapua.com)
Begitu kaki melangkah turun di daratan Napan, John tidak canggung untuk langsung membaur dengan warga, memastikan timnya membuka kotak logistik, dan merakit unit lampu solar sel yang dibawanya demi memastikan malam di dermaga masyarakat tidak lagi mencekam.
Kedatangan legislator Papua Tengah ini membawa dua agenda besar yang dinilai krusial bagi masa depan dan eksistensi Distrik Napan.
Agenda pertama adalah penyerahan secara langsung dua unit Lampu Tenaga Surya yang dibeli dari pendapatan pribadinya untuk dipasang di dermaga kampung.
Sementara agenda kedua, yang menjadi fondasi masa depan kebudayaan setempat, adalah menggelar Rapat Dengar Pendapat (RDP) terkait draf Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) Provinsi Papua Tengah tentang Perlindungan dan Pengembangan Cagar Budaya.
Pertemuan yang berlangsung penuh khidmat di gedung sekolah SMP dan SMA Negeri 1 Napan ini menjadi wadah emosional bagi masyarakat untuk menumpahkan segala keluh kesah, harapan, serta memori kolektif mereka yang selama ini nyaris terlupakan oleh laju zaman.
Sebelum ke Napan, di hari yang sama, John Gobai juga memberikan bantuan Starlink untuk membantu masyarakat di Kampung Nifasi, Distrik Makimi, Kabupaten Nabire, Provinsi Papua Tengah. Starlink tersebut diserahkan langsung di Gereja GBI Rehobot Nifasi.

Wakil Ketua IV DPR Papua Tengah, John Gobai saat menyerahkan bantuan Starlink ke Kepala Suku Wate, Otis Monei. (Foto: Kristin Rejang/Sasagupapua.com)
Suara dari Akar Rumput: Menghidupkan Seni, Merawat Sejarah, dan Menagih Rumah Guru
Dalam ruang kelas yang menjadi ruang pertemuan RDP, atmosfer dipenuhi oleh antusiasme warga yang rindu akan pengakuan atas identitas leluhur mereka. Di hadapan tim DPR Papua Tengah, masyarakat menyampaikan kegelisahan mereka mengenai mulai pudarnya gerak kebudayaan lokal.
Mereka meminta agar seni tari tradisional kembali digerakkan secara masif lewat pembinaan berkala.
Tak hanya itu, jeritan ekonomi dari kaum perempuan juga mengemuka di dalam ruangan.
Perwakilan warga mengungkapkan bahwa para ibu pengrajin noken khas Napan selama ini hampir tidak pernah mendapatkan perhatian, pelatihan, ataupun bantuan modal dari pemerintah daerah untuk membuka ruang hingga ke level nasional bahkan internasional.
Kesadaran akan kekayaan sejarah Napan yang luar biasa juga terpancar kuat saat warga memaparkan keberadaan berbagai situs dan monumen penting yang terbengkalai.
Mulai dari Tugu Yesus yang ikonik hingga goa bersejarah dari masa lampau. Perhatian peserta rapat sempat tersedot pada pemaparan tentang sebuah batu keramat yang kini berada di bawah permukaan air.
Menurut penuturan lisan yang dijaga ketat dari generasi ke generasi, jauh sebelum Injil masuk ke tanah Napan, terjadi sebuah fenomena alam berupa ombak raksasa yang mengancam akan menenggelamkan seluruh pemukiman.
Kala itu, seorang tokoh berdiri di atas batu tersebut sambil memegang sebuah Alkitab besar.
Seketika itu pula, ombak dahsyat mereda dan kampung mereka selamat. Karena batu sakral tersebut masih ada hingga hari ini di dalam air, warga mengusulkan kepada pemerintah agar membangun tugu kecil dan mengangkat bantu yang mencuat ke permukaan sebagai penanda situs sejarah spiritual mereka.

Gereja Elim Napan, di belakangnya tampak sebuah tugu patung Yesus. (Foto: Kristin Rejang/Sasagupapua.com)
Aspirasi warga juga dengan tegas menggarisbawahi bahwa penyelamatan cagar budaya harus diintegrasikan ke dalam sistem pendidikan formal sejak dini. Saat ini, para guru di SMP Negeri 1 Napan mengalami kesulitan besar dalam meningkatkan kualitas bidang studi seni akibat keterbatasan fasilitas belajar yang sangat minim.
Menjawab tantangan tersebut, warga mengusulkan agar pemerintah membangun sebuah sanggar seni terpadu yang berada di bawah naungan sekolah SMP dan SMA. Di dalam sanggar ini, anak-anak muda Napan bisa mengasah bakat dalam seni musik, tari tradisional, dan kerajinan tangan.
Warga menyadari betul bahwa tanpa adanya ruang untuk berkembang dan tampil ke luar seperti dalam ajang pertandingan tingkat distrik atau kabupaten kekayaan budaya Napan akan tetap terisolasi dan tidak akan pernah dikenal oleh dunia luar.
Di balik diskursus kebudayaan yang hangat, krisis mendasar di sektor fasilitas publik juga mencuat sebagai catatan kritis. Masalah perumahan dinas bagi para tenaga pendidik menjadi sorotan tajam. Banyak guru yang sudah ditempatkan di Napan, namun mereka terpaksa bertahan hidup dengan fasilitas seadanya karena krisis rumah dinas yang layak.
Selain itu, masyarakat menaruh harapan besar agar momentum Raperda Cagar Budaya ini bisa melahirkan alokasi anggaran khusus untuk merehabilitasi Tugu Yesus yang berdiri tepat di belakang Gereja Elim Napan.
Kondisi tugu tersebut jika tidak dirawat mereka khawatir bisa rapuh dan mengalami kerusakan struktural yang parah.
Warga mencemaskan adanya risiko besar; jika tidak segera direnovasi oleh pemerintah, tugu tersebut sewaktu-waktu bisa runtuh dan langsung menghantam bangunan utama Gereja Elim Napan. Jemaat setempat mengaku sama sekali tidak memiliki swadaya dana yang cukup untuk membiayai renovasi dan merawat tugu tersebut.
Komitmen John Gobai: Menghidupkan Ekonomi Melalui Terang Dermaga dan Regulasi Adat
Menanggapi rentetan aspirasi yang mengalir deras, Wakil Ketua IV DPR Papua Tengah, John Gobai, memberikan penjelasan komprehensif mengenai alasan emosional dan strategis di balik langkahnya memilih Napan sebagai titik awal.

Dermaga Napan, tampak satu tiang lampu yang disumbang oleh Wakil Ketua IV DPR Papua Tengah, John Gobai telah berdiri, kini akan bertambah lagi dua lampu untuk menerangi dermaga. (Foto: Kristin Rejang/Sasagupapua)
John mengatakan kehadirannya merupakan bentuk tanggung jawab moral yang berkelanjutan bagi masyarakat distrik tua tersebut.
“Dulu saya memperjuangkan agar kapal perintis bisa masuk ke sini. Akhir tahun lalu, mama-mama mengeluh karena dermaga gelap gulita saat kapal bersandar malam hari, sehingga mereka terpaksa menggunakan senter untuk berjualan. Waktu itu saya bantu satu lampu, tapi itu belum cukup. Hari ini, dari penghasilan pribadi, saya kembali membawa dua unit lampu solar sel agar dermaga kita terang benderang,” ujar John Gobai.
Bagi John Gobai, urusan penerangan dermaga bukan sekadar masalah teknis lampu, melainkan variabel utama yang menggerakkan roda ekonomi wilayah pesisir. Ia berharap dengan fasilitas dermaga yang lebih representatif dan terang di malam hari, kapal-kapal dagang dan penumpang lainnya akan semakin intensif bersandar di Napan.
Hal ini dinilai penting untuk membuka jalur distribusi hasil laut, mengingat Distrik Napan memiliki potensi perikanan yang sangat melimpah.
Ketika akses transportasi laut terbuka dan terang, sektor lain seperti pendidikan dan pelayanan kesehatan diyakini akan ikut terkerek naik secara otomatis.

Wakil Ketua DPR Papua Tengah, John Gobai bersama tim saat memasang lampu solar sel untuk Dermaga Kampung Napan. (Foto: Kristin Rejang/Sasagupapua.com)
Lebih jauh, terkait agenda regulasi kebudayaan, John Gobai menjelaskan bahwa draf Raperda yang sedang digodok legislatif merupakan langkah hukum strategis untuk menyelamatkan sejarah besar Napan yang mulai tergerus zaman. Dalam penyusunan naskah akademik dan draf hukumnya, DPR Papua Tengah menggandeng Sekolah Tinggi Ilmu Hukum (STIH) Mimika guna memastikan produk hukum ini kuat secara akademis dan aplikatif bagi perlindungan hak masyarakat adat.
“Napan ini adalah salah satu distrik tertua di Paniai dulu, dan Nabire sekarang. Di sini penuh dengan situs sejarah, mulai dari peninggalan gereja, masyarakat adat, hingga jejak peninggalan Jepang dan Belanda seperti bekas tempat pendaratan pesawat air Korondof. Melalui Raperda Cagar Budaya tahun 2026 ini, kami ingin memastikan seluruh potensi ini dilindungi hukum dan diteliti oleh tim ahli. Saya optimis, Napan akan menjadi kawasan cagar budaya sekaligus destinasi wisata sejarah yang membanggakan di Provinsi Papua Tengah,” kata John Gobai.
Apresiasi Ketulusan Dewan dan Harapan Keberlanjutan Pembangunan Pemerintah
Kepala Kampung Napan, Darius Rumboi, mewakili seluruh perangkat adat dan pemerintahan kampung menyampaikan rasa haru sekaligus apresiasi yang mendalam atas konsistensi John Gobai. Baginya, langkah nyata seorang pimpinan dewan yang rela merogoh kocek pribadi demi kebutuhan dasar warga adalah teladan nyata yang memperjuangkan suara masyarakat.
“Kami sangat berterima kasih karena Bapak Wakil Ketua DPR sudah dua kali datang membantu kami. Tahap pertama beliau menyumbang satu lampu, dan hari ini ditambah lagi dua unit. Kini pelabuhan kami sudah terang saat kapal masuk malam hari, dan mama-mama bisa berjualan dengan nyaman untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Kami berharap pemerintah daerah bisa melihat ketulusan ini dan melanjutkan pembangunan penerangan hingga ke tengah jalan kampung,” ungkap Darius Rumboi.
Meskipun menyambut gembira perubahan wajah dermaga kampungnya yang kini mulai terang benderang, Darius tidak menyia-nyiakan kesempatan itu untuk menitipkan pesan mendalam terkait nasib pertaruhan masa depan anak-anak Napan yang sangat bergantung pada kesejahteraan para guru di sekolah.
“Kami juga bersyukur Bapak Wakil Ketua mau melihat langsung kondisi sekolah kami. Saat ini, kami sangat kekurangan rumah dinas untuk guru. Guru-gurunya sudah ada, tapi tempat tinggalnya tidak ada. Kami memohon kepada pemerintah untuk membantu membangun rumah guru, agar mereka bisa tenang mengajar demi masa depan anak-anak kami di Napan,” tutur Kepala Kampung.
Menanti Sentuhan Pemerintah untuk Sektor Pariwisata Sejarah
Senada dengan apa yang disampaikan oleh Kepala Kampung, salah seorang tokoh perempuan dan perwakilan masyarakat Kampung Napan, Afrida Matini, turut memberikan kesaksian atas rekam jejak John Gobai yang dinilai tidak pernah absen ketika masyarakat Napan membutuhkan uluran tangan, terutama di sektor pendidikan dasar.
“Ini bukan kunjungan pertama bagi Bapak John Gobai. Apa yang kami keluhkan sebelumnya, sedikit demi sedikit langsung dijawab oleh beliau, mulai dari penerangan pelabuhan hingga bantuan pendidikan untuk sekolah. Namun, kebutuhan mendesak kami saat ini adalah rumah dinas untuk guru-guru dari tingkat SD, SMP, hingga SMA. Kami sangat meminta perhatian pemerintah dalam hal ini,” kata Afrida.

Perwakilan masyarakat Kampung Napan, Afrida Matini saat memberikan aspirasi saat momen RDP dengan Wakil Ketua IV DPR Papua Tengah, John Gobai. (Foto: Kristin Rejang/Sasagupapua.com)
Afrida juga mengingatkan bahwa status cagar budaya yang nantinya akan ditetapkan melalui Perda Provinsi tidak boleh hanya berakhir sebagai dokumen administratif di lemari kantor pemerintahan.
Ia mendesak adanya penataan kawasan pariwisata berbasis sejarah yang nyata, agar potensi sejarah Napan bisa berbalik menjadi sumber pendapatan asli bagi masyarakat kampung.
“Mengenai cagar budaya, ada banyak daerah khusus di Napan yang belum dijangkau dan dikelola dengan baik. Kami berharap setelah Perda ini disahkan, pemerintah bisa menata tempat-tempat bersejarah tersebut agar wisatawan luar bisa datang dan melihat sendiri bukti sejarah yang ada di kampung kami,” pungkas Afrida.
Penulis: Kristin Rejang







