Menu

Mode Gelap

Peristiwa · 3 Jul 2026 15:30 WIT

Masyarakat Intan Jaya Antar Jenazah Merkiana Duwitau dan Bayinya dari RSUD ke Rumah Duka


Masyarakat Intan Jaya Antar Jenazah Merkiana Duwitau dan Bayinya dari RSUD ke Rumah Duka Perbesar

SASAGUPAPUA.COM, SUGAPA — Gerakan Pelajar Mahasiswa dan Rakyat Intan Jaya bersama ratusan masyarakat menggelar aksi solidaritas dengan membawa jenazah Almarhumah Merkiana Duwitauw dan bayinya, Jumat (3/7/2026).

Aksi ini merupakan respons atas peristiwa tragis yang merenggut nyawa ibu hamil berusia 7 bulan di Distrik Sugapa, Kabupaten Intan Jaya.

Peristiwa penembakan tersebut terjadi pada Kamis malam, 2 Juli 2026. Sebutir peluru tajam dilaporkan menembus dinding rumah korban dan seketika merenggut nyawa Merkiana.

Beberapa menit setelah ibunya tertembak, upaya operasi darurat segera dilakukan di RSUD Sugapa untuk menyelamatkan bayi di dalam kandungannya. Namun, bayi tersebut dinyatakan sudah tidak bernyawa.

- Advertising -
- Advertising -

Pada Jumat pagi menjelang siang, massa mengantarkan jenazah dari RSUD Sugapa menuju Lapangan Sepak Bola Sugapa.

Setelah berada di lapangan selama beberapa jam, masyarakat kembali mengantarkan jenazah ke rumah duka di Kampung Wandonga.

Hingga sore hari, berdasarkan laporan yang diterima media ini, masyarakat Intan Jaya masih menduduki kawasan sekitar Wandonga dan menyatakan tiga tuntutan utama kepada pemerintah:

1. Segera adili pelaku pembunuhan ibu hamil sesuai proses hukum yang berlaku secara adil, transparan, dan bertanggung jawab.

2. Pemerintah Daerah (Pemda) Intan Jaya segera memfasilitasi Tim Investigasi untuk turun ke lapangan guna menyelidiki kasus pelanggaran HAM di Soangama serta berbagai kasus pelanggaran HAM lainnya di Intan Jaya.

3. Pemda Intan Jaya segera memfasilitasi mahasiswa dan berbagai elemen yang ada di Intan Jaya untuk bertemu dan berdialog langsung dengan Menteri Pertahanan serta Presiden Republik Indonesia terkait status darurat militer di Intan Jaya.

Perwakilan mahasiswa, Yance Pogau yang ikut menyaksikan situasi di Intan Jaya menegaskan komitmen mereka untuk terus mengawal kasus ini hingga tuntas.

“Kami menuntut agar pelaku diproses sesuai hukum yang berlaku secara adil, transparan, dan bertanggung jawab terkait beberapa kasus pembunuhan berturut-turut tiga orang, termasuk satu anak dalam kandungan mama,” ujar Yance kepada media ini.

Yance juga membeberkan bahwa situasi keamanan di distrik tersebut sangat mencekam, terutama pada malam hari akibat intensitas suara tembakan yang terus berulang.

“Suasana Intan Jaya malam hari juga bunyi tembakan itu masih berjalan, mulai jam 08.00 sampai jam 12.00 malam baru berhenti,” ungkapnya.

“Itu bunyi tembakannya jelas. Bunyi tembakan itu seram. Malam hari jadi masyarakat langsung trauma. Mereka ambil tempat, tidak bicara, langsung tidur dengan trauma. Ini di jantung kota ini yang mereka melakukan begitu,” lanjut Yance menggambarkan situasi kepanikan warga.

Akibat rentetan tembakan tersebut, warga terpaksa bersembunyi dalam kegelapan demi keselamatan mereka.

“Jadi masyarakat mendengar tembakan itu akhirnya kasih mati lampu, mereka tidak bicara, mereka dalam situasi trauma. Masyarakat tiap hari dengar suara tembakan,” tuturnya.

Meskipun pada pagi hari aktivitas di area pusat kota tampak berjalan seperti biasa, ruang gerak masyarakat untuk memenuhi kebutuhan ekonomi di luar kota menjadi sangat terbatas.

“Kalau mulai pagi, aktivitas di area kota seperti biasa. Ah, tapi kalau kita sedikit keluar untuk mau masuk ke kebun dan lain sebagainya, itu memang pemerintah maupun masyarakat trauma dan masih berada di bagian kota saja, tidak bisa masuk ke hutan dan lain sebagainya. Tidak bisa aktivitas, karena masih ada pinggir-pinggirnya tuh dikuasai oleh aparat atau TNI non-organik,” jelas Yance.

Ia berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk memulihkan kedamaian dan menarik aparat keamanan dari wilayah pemukiman warga.

 

“Saya harapkan untuk Intan Jaya ini, masyarakat harus damai, sejahtera. Itu pemerintah harus melakukan… pos-pos militer yang pendekatan di wilayah Intan Jaya ini segera dicabut atau dikosongkan agar masyarakat Intan Jaya bisa beraktivitas seperti biasa,” ujarnya.

Menurut Yance, kehadiran pos militer non-organik justru mengubah situasi wilayah yang dulunya aman menjadi penuh dengan ketakutan.

“Karena saya sendiri di Intan Jaya, anak Intan Jaya sendiri merasakan dulu beda daripada sekarang. Dulu itu mereka kalau TNI tidak ada itu mereka hidup aman-aman, damai. Tetapi adanya pos-pos militer pendekatan, masyarakat trauma, masyarakat mati kiri-kanan. Dengan ini saya punya harapan besar pos-pos pendekatan ini, ada apa pendekatan pos militer di Intan Jaya? Segera dicabut pos-pos militer yang non-organik ada di Kabupaten Intan Jaya,” desaknya.

Sebagai bentuk protes keras dan pernyataan sikap dari elemen mahasiswa, Yance menegaskan jika stabilitas dan keamanan tidak segera dikembangkan, mereka menuntut pencabutan status administratif kabupaten tersebut.

“Kami meminta agar SK Kabupaten Intan Jaya dikembalikan sebagaimana mestinya. Jikalau tidak, kembalikan SK Kabupaten Intan Jaya ke jantung ibu kota di Paniai, agar kita dapat distrik saja. Itu pernyataan sikap yang tuntutan kami sebagai mahasiswa melihat situasi yang di Intan Jaya. Segera pemerintah Intan Jaya kembalikan SK Kabupaten Intan Jaya,” pungkasnya.

Artikel ini telah dibaca 42 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Komnas HAM Papua Buka Suara Soal Tragedi Intan Jaya

3 Juli 2026 - 14:01 WIT

Ibu Hamil Tewas Tertembak di Intan Jaya, Tomas Agimbau: Rakyat Papua Habis Cuma Tersisa Batu

3 Juli 2026 - 09:22 WIT

Koops TNI Habema Jelaskan Kronologi Kontak Tembak di Intan Jaya yang Menewaskan Okto Tigau

2 Juli 2026 - 13:58 WIT

Bupati Intan Jaya Minta TPNPB Tinggalkan Permukiman Masyarakat Sipil

2 Juli 2026 - 13:13 WIT

Gereja Katolik Mengutuk Keras Penembakan Seorang Gembala di Intan Jaya

2 Juli 2026 - 12:01 WIT

Nekat Bermalam di Kantor Gubernur, Ratusan Mama Papua di PBD Tuntut Modal Usaha hingga Tolak PSN

1 Juli 2026 - 22:32 WIT

Trending di Peristiwa