Menu

Mode Gelap

Umum · 18 Agu 2023 20:48 WIT

Melihat Semangat Siswa Berkebutuhan Khusus Berlomba 


Keseruan para siswa SLB saat mengikuti lomba.Foto: Kristin Rejang-Sasagupapua.com Perbesar

Keseruan para siswa SLB saat mengikuti lomba.Foto: Kristin Rejang-Sasagupapua.com

KELUARGA besar Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri Kabupaten Mimika, Papua Tengah mengadakan berbagai perlombaan memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-78 Republik Indonesia (RI), Jumat (18/8/2023) di halaman SLB. 

Keseruan perlombaan ini diikuti oleh anak-anak berkebutuhan khusus. Tak hanya anak-anak, namun para guru dan orang tua siswa juga ikut terlibat menambah keseruan perlombaan.

Lomba-lomba yang diselenggarakan pun terbilang unik diantarannya makan kerupuk, jepit pipet, lari karung, kait gantung, merangkak dengan karton, giring bola menggunakan corong, lomba bocce dan lainnya.

Kepala SLB Negeri Mimika, Sunardin menjelaskan perlombaan yang digelar disesuaikan dengan hambatan yang dialami anak-anak.

“Jadi misalnya lomba menggunakan karton ini khusus untuk tunanetra dan autism karena mereka terkendala dengan fokus dan sebagainya apalagi yang tidak bisa melihat,” katanya ketika diwawancarai di sela-sela kegiatan.

Lomba tahun ini diselenggarakan oleh pihak SLB berbeda dengan tahun lalu.

Tahun ini, tidak hanya anak-anak dan guru saja namun orang tua juga turut berpartisipasi dalam perlombaan.

“Jadi orang tua juga terlibat, dimana kita juga libatkan semua anak-anak, kita buat perlombaan sesuai dengan kebutuhan dan layanan yang berbeda-beda, jadi kita memang mencari jenis perlombaan yang bisa merangkul semua,” ungkapnya.

Sunardin mengatakan, pihaknya menggelar perlombaan dengan berbagai hadiah yang merupakan partisipasi dari para orang tua dan hadiah dari sponsor yakni Hotel Grand Tembaga yakni vocher menginap untuk guru-guru yang menang dalam perlombaan.

Sunardin menerangkan jumlah siswa SLB saat ini sekitar 130 siswa terdiri dari siswa SD hingga SMA. SLB melayani karakteristik anak dengan kondisi Tuna netra atau tidak bisa melihat, Tunarungu atau tidak bisa berbicara, Tunagrahita yakni anak dengan hambatan intelektual di bawah rata-rata, anak tunadaksa atau memiliki hambatan gerak secara fisik anggota tubuh dan anak Autism hiperaktif.

Untuk jumlah guru sendiri di SLB sebanyak 14 krang diantaranya dua orang merupakan ASN dan tiga orang P3K, selebihnya tenaga honorer.

“Masih belum mencukupi, efektifnya satu kelas untuk jenjang SD satu guru lima anak, kalau yang anak autism hiperaktif satu guru satu anak, kalau menengah efektifnya standar delapan anak satu guru, itu saru ketunaan jadi kalau misalnya daksanya cuman dua berarti satu kelas, satu guru dua siswa tidak boleh digabung-gabung,” pungkasnya.

 

Penulis: Kristin Rejang

Berikan Komentar
Artikel ini telah dibaca 192 kali

badge-check

Reporter

Baca Lainnya

Akhirnya Kapal Telkom Tiba di Lokasi Gangguan Ruas Timika-Merauke

29 Agustus 2025 - 20:37 WIT

Tinjau Korban Kebakaran di Smoker, Bupati Nabire Serahkan Bantuan

29 Agustus 2025 - 18:55 WIT

Kebakaran di Smoker, Bagaimana Peran Pemkab Nabire ?

28 Agustus 2025 - 18:48 WIT

Tim Fire And Rescue PTFI Raih Tiga Piala Emas IMERC 2025, Claus Wamafma: Tim Penting

27 Agustus 2025 - 09:57 WIT

FGD KPA Papua Tengah Bentuk Respon Serius Soal Kasus HIV/AIDS

27 Agustus 2025 - 00:05 WIT

HIV/AIDS di Papua Tengah Tembus 23.188 Kasus, Kemendikdasmen Sampaikan Tiga Poin 

26 Agustus 2025 - 23:45 WIT

Trending di Kesehatan