SASAGUPAPUA.COM, Papua Tengah – Jemaat Gereja Kingmi Bukit Zaitun Kalisusu menggelar Pawai Syukuran dalam rangka memperingati perayaan Yubileum 50 tahun (Tahun Emas) gereja tersebut pada Jumat (9/10/2026).
Dengan mengusung tema “Berubah Menjadi Kuat” serta subtema “Berakar, Bertumbuh, dan Berbuah”, seluruh warga jemaat antusias mengikuti jalannya pawai dengan berjalan kaki menyusuri sejumlah ruas jalan protokoler di Kota Nabire.
Kegiatan pawai ini mengambil rute mulai dari Gereja Bukit Zaitun Kalisusu, melintasi Jalan Manado, lalu berbelok kanan menuju Jalan Kusuma Bangsa hingga kawasan Taman Makam Pahlawan.
Rombongan kemudian melintasi Jalan SMP Negeri 1, berbelok kiri ke Jalan Yos Sudarso hingga Tugu Cenderawasih, lalu berbelok kiri melintasi Jalan Merdeka, melewati area Kantor Kejaksaan dan Pengadilan Negeri Nabire, hingga berbelok ke Jalan Suroyo Tanoyo.
Di lokasi Bakso Prego, seluruh peserta pawai sempat berhenti sejenak untuk memanjatkan doa bersama.
Tempat tersebut memiliki nilai sejarah yang sangat mendalam karena menjadi lokasi awal berdirinya Gereja Bukit Zaitun, yang mulanya merupakan asrama bagi suku Lani, Damal, dan Nduga saat pertama kali tiba di Nabire.
Setelah berdoa, rombongan melanjutkan perjalanan melintasi Jalan Jakarta dan mengakhiri pawai di Gereja Bukit Zaitun.
Ketua Panitia Yubileum, Yerry Lukas Tabuni, menjelaskan pembentukan awal ibadah Sekolah Minggu yang menjadi cikal bakal gereja ini terjadi pada 10 Oktober 1976 di Bethesda. Hal tersebut dilatarbelakangi oleh keterbatasan bahasa para orang tua murid kala itu.
“Alasan pembentukannya karena para orang tua yang hadir saat itu belum bisa berbahasa Indonesia, sedangkan ibadah di dalam gedung menggunakan bahasa Indonesia. Orang tua mereka hanya mengenal nama Yesus dan nama Allah. Mereka mengeluh karena meskipun bisa mendengar nama Allah dan nama Yesus, mereka tidak dapat memahami isi firman Tuhan,” ujar Yerry Lukas Tabuni.
Yerry menambahkan pemerintah kemudian membangun asrama gabungan bagi suku Lani, Damal, dan Dani. Di tempat itulah kelas Sekolah Minggu resmi dibuka pada 10 Oktober 1976. Pada rentang tahun 1969 hingga 1976, para pemuda dari Lani Jaya, Tolikara, dan berbagai suku lainnya berjuang dengan berjalan kaki untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
“Peringatan hari ini tepat 50 tahun, dari tahun 1976 hingga 2026. Panitia memilih aksi jalan kaki untuk mengibaratkan perjalanan bangsa Israel yang mengembara selama 40 tahun. Suku Lani, Damal, dan Nduga dan lainnya juga berjalan kaki. Sehingga tepat di usia 50 tahun ini kita mau mengajarkan agar anak-anak mereka dapat mengetahui sejarah perjuangan tersebut,” jelas Yerry.
Ia juga mengatakan kegiatan pawai ini berjalan tertib dan mendapat pengawalan ketat dari pihak keamanan panitia serta Satlantas.
Rangkaian perayaan Yubileum akan dilanjutkan dengan puncak ibadah syukuran pada Sabtu (10/10/2026).
Yerry berharap peristiwa bersejarah ini dapat dicatat dan diteliti oleh para mahasiswa teologi sebagai acuan sejarah bagi generasi mendatang sebelum memasuki usia 100 tahun.
Sementara itu, Sekretaris Panitia, Arnol Yarinap, mengungkapkan Gereja Bukit Zaitun didirikan atas dasar kebersamaan dari berbagai latar belakang suku dan organisasi denominasi gereja.
“Berdirinya Gereja Bukit Zaitun tidak hanya berlatar belakang dari warga Kingmi saja, tetapi dari berbagai domisili awal, seperti Baptis, GIDI, dan GKI yang saat itu statusnya adalah mahasiswa. Awal mulanya memang lahir dari lintas latar belakang organisasi sebelum akhirnya berkembang menjadi Kingmi,” ungkap Arnol Yarinap.
Arnol berharap semangat pengorbanan para perintis gereja dapat diteruskan oleh generasi muda sebagai pemegang tongkat estafet kepemimpinan di masa depan.
“Gereja bukan sekadar bangunan fisik, melainkan ada pengorbanan besar berupa tenaga, pikiran, waktu, dan material yang semuanya dikorbankan demi memuliakan nama Tuhan. Harapan kami ke depan, anak-anak Kingmi, khususnya Jemaat Bukit Zaitun, terus berkembang dan semakin kritis terhadap berbagai persoalan sosial yang terjadi di tanah Papua,” tutur Arnol.










