Matahari begitu terik menyengat kulit di Nabire, Papua Tengah, Selasa (28/7/2026). Di bawah langit yang membakar itu, Putra (26) tampak bersimbah keringat, berulang kali menyeka dahi sembari menimba air dari sumur daruratnya
Air yang didapat tak banyak hanya tersisa sedikit di dasar yang sengaja digali seadanya demi menyambung napas ladangnya di tengah kemarau akibat fenomena El Nino.
Dengan telaten, ia memasukkan air yang berharga itu ke dalam alat penyemprot. Di hadapannya, hamparan tanaman ketimun, semangka, cabai dan kacang panjang miliknya sedang sekarat.

Putra saat mengambil air di sumur darurat yang dibuatnya untuk memenuhi kebutuhan air. (Foto: Edwin Rumanasen/Sasagupapua.com)
Daun-daun ketimun mulai layu dan meranggas, dikelilingi rumput yang menguning mati, di atas tanah kebun yang kini tandus dan retak-retak. Buah ketimun yang berhasil tumbuh pun kerdil, tak sekekar biasanya.
“Sejak tahun 2021 bertani, memang tahun ini yang paling terparah cuacanya. Kami sudah sangat kesulitan dan harus bekerja lebih ekstra setiap hari,” ujar Putra kepada Sasagupapua.com sembari melepas topinya dan menghela napas dalam ketika mengungkapkan tantangan yang dia alami.
Putra adalah satu dari sekian banyak petani di Nabire yang kini dipaksa bertaruh nyawa dan tenaga, melawan gejolak alam yang kian tak ramah demi bertahan hidup.
Bertaruh Peluh di Tanah yang Retak
Sambil memandangi hamparan kebunnya, raut wajah Putra tak bisa menyembunyikan kepenatan yang mendalam. “Berat banget ini tantangannya, apalagi hujan tidak kunjung turun. Pertumbuhan tanaman melambat, semuanya melambat,” keluhnya.
Di ladang itu, Putra menggantungkan hidup pada tanaman semangka, ketimun, kacang panjang, dan cabai. Namun, teriknya matahari membuat banyak tanamannya layu sebelum berkembang, bahkan tak sedikit yang berujung mati mengering.
Bayang-bayang ancaman gagal panen kini menghantui pikirannya. Bagi Putra, dampak El Nino terhadap masa panen bukan lagi sekadar prediksi, melainkan kenyataan pahit yang harus ditelan.

Hamparan kebun milik Putra. Tampak beberapa tanaman masih terlihat hijau namun lebih banyak telah kering. (Foto: Edwin Rumanasen/Sasagupapua.com)
“Sangat berdampak banget. Panen pasti menurun dari biasanya. Kalaupun hujan turun esok atau lusa, mungkin paling tidak mencegah gagal panen total, tapi otomatis hasil panen tetap menurun,” ungkapnya pasrah. Terutama untuk semangka, tanaman yang sangat bergantung pada pasokan air yang melimpah.
Situasi ini diperparah dengan minimnya infrastruktur pertanian di wilayahnya. Tidak seperti kawasan lain yang memiliki sistem irigasi, kebun Putra yang berada di Jalan Bandara Baru itu sama sekali tidak tersentuh fasilitas tersebut. Sebelumnya ia biasa merasa aman karena parit di dekat kebunnya selalu dialiri air. Ia hanya perlu menyalakan mesin penyedot untuk mengairi tanamannya.
Namun, kemarau telah merampas kemewahan kecil itu. Parit mengering, dan mesin penyedot air kini tak berguna karena debit air di kolam penampungan terlalu sedikit untuk disedot.
Sebagai satu-satunya jalan bertahan hidup, Putra terpaksa melakukan semuanya secara manual. Ia menggali sumur-sumur darurat.
“Kalau air di permukaan sudah habis, ya kami harus gali lebih dalam lagi. Jadi manual saja, tenaga semakin ekstra,” ceritanya.
Rutinitas Putra kini berubah drastis dan jauh lebih menyiksa. “Biasanya, penyiraman di luar pemupukan itu paling satu minggu dua kali sudah cukup. Tapi sekarang ini setiap hari harus disiram, bahkan sehari bisa dua atau tiga kali penyiraman. Soalnya layu akibat panas sekali. Tanahnya saja sampai pecah-pecah dan kering banget,” ungkapnya.
Bayang-Bayang Gagal di Balik Dua Bulan Menanti
Tak jauh dari ladang Putra, Edi bersama rekannya tampak duduk termenung di bawah sengatan matahari siang. Pandangan mereka tertuju pada hamparan daun semangka yang baru berusia 28 hari. Di antara desau angin kering, keduanya terlibat diskusi yang berat: apa yang akan terjadi jika sebulan lagi panen yang mereka gadang-gadang justru berujung gagal?
Kecemasan itu bukan tanpa alasan. Di usia yang hampir menginjak satu bulan, pertumbuhan semangka mereka tampak melambat, tak sepesat biasanya. Musim panas yang telah berlangsung lebih dari sebulan telah mengubah ritme kerja di ladang menjadi sebuah siklus yang melelahkan, mereka harus lebih rutin menyiram tanamannya.
“Bagi petani, keluhan utamanya jelas air. Kalau tidak ada air, pertumbuhannya kurang maksimal dan perawatannya jadi tambah berat. Kerja kami tambah banyak, belum lagi ambil airnya jauh,” tutur Edi.

Edi (baju kuning) dan rekannya ketika beristirahat sembari bercerita terkait perkembangan tanaman semangka mereka di musim kemarau. (Foto: Edwin Rumanasen/sasagupapua.com)
Tanaman semangka biasanya membutuhkan waktu kurang lebih dua bulan hingga masa panen tiba, dan selama itu pula pasokan air yang cukup menjadi harga mati. Dalam kondisi normal, hujan yang turun berkala akan mengambil alih tugas menyiram, sehingga Edi dan rekan-rekannya tinggal fokus pada pemupukan. Namun kini, alam memaksa mereka memeras keringat lebih dalam. Satu-satunya jalan bertahan adalah menggali sumur darurat demi melakukan penyiraman manual atau kocor setiap hari.
Edi menyadari, meski mereka diprediksi tetap bisa memanen semangkanya bulan depan, hasilnya tidak akan pernah sama lagi. “Kalau panen sih tetap panen, tapi buahnya tidak bisa maksimal. Tidak bisa besar karena kurang air,” keluhnya.
Melihat situasi yang kian mencekam, Edi berharap ada mata yang melihat dan tangan yang mengulur dari pihak berwenang. Bagi para petani di Nabire, kemarau ekstrem akibat El Nino ini bukan lagi sekadar fenomena cuaca, melainkan sebuah bencana yang memukul telak produktivitas dan urat nadi perekonomian mereka.
“Harapannya kami Pemerintah bisa lebih memperhatikan untuk menanggulangi situasi ini. Ini sebenarnya sudah masuk dalam situasi bencana karena kemarau, dan berakibat pada produksi semangka yang berkurang sekarang,” tegas Edi.
Kini, lembaran daun semangka di usia 28 hari itu masih bertahan dan tampak lumayan di atas tanah yang kering. Namun, hari-hari ke depan adalah pertaruhan yang berbahaya jika langit tak kunjung mencurahkan air. Sembari terus menimba dari sumur darurat, Edi hanya bisa menyisipkan harapan pada gumpalan awan yang lewat. “Mudah-mudahan dalam beberapa hari ini bisa hujan. Kalau tidak, yah pasrah saja,” ucapnya.
Kangkung yang Kerdil dan Kepasrahan di Tengah Kemarau yang Membakar
Bergeser ke wilayah Kaladiri, guratan lelah yang sama juga membekas di wajah Viktor (58). Di usianya yang senja, ia harus menyaksikan ladang jagung dan kangkung yang menjadi tumpuan hidupnya perlahan layu tanpa daya. Kemarau yang membakar membuat seluruh tanamannya mogok tumbuh subur.
Hamparan sayur kangkung miliknya kini telah melewati usia 14 hari masa yang seharusnya menjadi puncak panen. Namun, alih-alih hijau melimpah, kangkung-kangkung itu tumbuh kerdil dan meranggas. “Kalau mau ambil, silakan dicabut saja sudah,” ucap Viktor kepada jurnalis Sasagupapua.com saat mewawancarai Viktor. Ia tampak pasrah, merelakan hasil jerih payahnya yang tak berharga lagi di pasar.

Tanaman kangkung milik Viktor yang harusnya sudah bisa dipanen karena lebih dari 14 hari namun tampak kecil-kecil akibat kemarau. (Foto: Edwin Rumanasen/Sasagupapua.com)
Kondisi tanaman jagungnya yang sudah berumur dua bulan lebih pun tak kalah memprihatinkan. Batang-batang jagung itu sebenarnya sudah mulai belajar berbuah. Secara teori, tanaman ini membutuhkan satu kali pemupukan akhir agar bijinya terisi padat. Namun di sinilah Viktor didera dilema yang hebat.
Di tengah tanah yang kering kerontang, memupuk tanaman justru bisa menjadi vonis mati. “Kita mau pupuk juga ragu karena kemarau. Teman-teman petani lain yang telanjur memupuk jagungnya, tanamannya malah layu dan mati,” keluh Viktor. Ketakutan itu kian beralasan mengingat harga pupuk yang mencekik kantong. “Mana harga pupuk mahal, kalau dipupuk lalu sia-sia dan mati, ladang kami malah habis total,” ucapnya.
Jika pada akhirnya jagung-jagung itu tak menghasilkan bulir, Viktor hanya bisa mengelus dada. Kegetiran ini kian berlapis karena berdampak langsung pada urat nadi ekonominya. Biasanya, para pembeli akan datang langsung ke kebun untuk memborong hasil ladangnya. Namun dengan kualitas tanaman yang merosot tajam akibat El Nino, harga jual otomatis akan ikut terjun bebas.

Tanaman jagung milik Viktor yang kini mulai berbuah namun tampak mulai mengering. (Foto: Edwin Rumanasen/Sasagupapua.com)
Pihak pemerintah melalui Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) sebenarnya sudah sempat turun langsung untuk mengecek kondisi kekeringan di ladang Kaladiri. Kendati demikian, kunjungan tersebut belum melahirkan solusi konkret yang bisa meredakan kecemasan petani.
“Pemerintah memang sudah ada yang turun dan cek ke sini karena situasi kemarau. Tapi, ya kami juga bingung apa yang akan dibuat oleh pemerintah selanjutnya,” aku Viktor jujur.
Bagi Viktor dan rekan-rekan seprofesinya, situasi ini sudah selayaknya dikategorikan sebagai bencana. Mereka sangat membutuhkan tindakan nyata dan uluran tangan pemerintah agar roda pertanian mereka bisa kembali berputar di tengah cuaca ekstrem ini. Namun, sembari menunggu bantuan yang masih abu-abu, Viktor memilih untuk tidak berpangku tangan.

Viktor saat menabur pupuk sebelum nantinya penanaman, namun tetap menunggu hujan turun baru bisa melakukan penanaman. (Foto: Edwin Rumanasen/Sasagupapua)
“Padahal kita harus kerja lebih ekstra kalau musim kemarau begini. Tapi ya namanya kerja, ya tetap kerja saja meskipun situasi seperti ini,” ujarnya.
Ketika Induk Kali Bumi Menyumbat Rezeki
Debu-debu tanah beterbangan saat mata cangkul Imam Badar (58) menghantam bumi yang keras. Sore itu, Rabu (29/7/2026), ia berdiri di tengah hamparan tanah tandus yang retak bekas area persawahan di Kampung Bumi Raya yang kini meranggas. Meski raut lelah tergambar jelas di wajah senjanya, Imam tetap menyambut kedatangan tim sasagupapua.com dengan sebuah senyuman hangat.
Imam dan para petani padi di Bumi Raya, nestapa sebenarnya sudah dimulai sejak musim tanam lalu. Akibat proyek perbaikan saluran irigasi, pasokan air ke sawah mereka tersendat. Produksi padi mereka terjun bebas.

Imam saat mencangkul lahan bekas persawahannya untuk ditanami komoditi jangka pendek. (Foto: Edwin Rumanasen/Sasagupapua.com)
“Biasanya kalau satu hektar itu paling tidak kita bisa dapat 2,5 sampai 4 ton beras. Tapi kemarin itu paling hanya 1,5 ton saja. Gara-gara air kurang lancar,” kenang Imam.
Kini, situasinya kian kritis. Hantaman El Nino datang bersamaan dengan penutupan total saluran primer induk irigasi yang bersumber dari Kali Bumi. Padahal, ironisnya, alam sebenarnya sangat berbaik hati pada wilayah ini. Imam menegaskan bahwa seandainya aliran irigasi itu lancar dan tidak ditutup, kemarau seekstrem apa pun tidak akan pernah mampu menggoyahkan sawah mereka.
“Kalau saluran selesai dan airnya lancar, sekalipun di sini kemarau panjang, air pasti masih tercukupi. Kali Bumi ini luar biasa, masanya panas satu tahun pun airnya tidak akan pernah kering,”ungkap Imam dengan penuh keyakinan.
Bagi para petani padi, perpaduan antara cuaca panas yang melimpah dan pasokan air irigasi yang stabil justru merupakan kondisi paling ideal untuk menghasilkan padi berkualitas tinggi. Namun, berkah alam itu kini tersumbat total. Pintu air induk ditutup rapat untuk proyek Balai Wilayah Sungai yang menurut informasi yang diterima oleh para petani, proyek itu memakan waktu hingga 6 sampai 7 bulan.
Akibat proyek yang menutup total satu-satunya jalur primer ini, ratusan hektar sawah subur seketika berubah menjadi gurun pasir dadakan. Petani pun terpaksa gigit jari dan menganggur.

Irigasi di Bumi Raya tampak kering total akibat proyek yang rencananya baru selesai enam bulan kedepan. (Foto: Edwin Rumanasen/sasagupapua)
Sawah-sawah ditinggalkan. Sebagian besar rekan Imam memilih menepikan cangkul mereka dan beralih profesi menjadi buruh bangunan demi menyambung asap dapur. Imam sendiri sempat mencicipi kerasnya semen dan batu.
“Saya kan sudah tua, selama ini tidak pernah kerja bangunan. Tapi kemarin terpaksa ikut kerja bangunan sampai setengah bulan karena situasi begini, tidak bisa menanam apa-apa,” ungkapnya.
Namun, Imam tidak bisa terus-terusan mengadu nasib di proyek bangunan yang jauh. Di rumahnya, ada anak-anak dan istri yang sedang kurang sehat yang butuh penjagaannya. Pilihan hidupnya menjadi sangat terbatas.
Di tengah kepungan tanah yang mengering, Imam menolak menyerah pada keadaan. Hari itu, ia memaksakan diri mencangkul, membalik bongkahan tanah kering untuk menyiapkan lahan alternatif.
Sembari menunggu keajaiban dari langit, ia berencana mengalihkan sawahnya untuk menanam sayuran jangka pendek seperti kacang panjang, tomat, atau jagung jika hujan nanti sudi mampir.

Imam Badar saat bekerja di kebunnya untuk menanam tanaman jangka pendek. (Foto: Edwin Rumanasen/sasagupapua)
Sama seperti ribuan pasang mata petani lainnya di Nabire, tatapan Imam kini hanya tertuju pada langit-langit abu. Harapannya sederhana, namun menjadi penentu hidup dan mati ladangnya.
“Ndak bisa kalau tidak ada hujan, ndak bisa. Sekarang hanya kerja begini saja, sambil menunggu mudah-mudahan nanti hujan turun lah. Itu saja harapannya,” pungkas Imam.
Menakar Dahaga Nabire dari Balik Lensa BMKG
Jeratan dilema dan peluh yang membanjiri ladang-ladang di Nabire bukanlah sekadar keluhan tanpa dasar. Data ilmiah dari BMKG UPT Stasiun Meteorologi Nabire mengonfirmasi bahwa wilayah ini memang sedang dicengkeram oleh kekeringan meteorologis yang parah.
Yunus Geddy, seorang prakirawan sekaligus observer BMKG Nabire, menjelaskan bahwa kondisi ini merupakan bagian dari situasi regional di mana defisit air hujan terjadi secara masif. Biang keladinya berada jauh di level global.
“Kondisi El Nino yang berkepanjangan sejak Juli ini diprediksi masih akan berjalan hingga akhir tahun, dengan intensitas lemah hingga kuat,” urai Yunus berdasarkan basis data terupdate per 28 Juli 2026.
Nabire yang secara geografis kerap diuntungkan oleh faktor lokal seperti topografi teluk dan embusan angin barat laut yang biasanya memicu hujan kali ini tidak berkutik. Hantaman El Nino global terlalu perkasa, melindas potensi hujan lokal yang biasa membasahi bumi Papua Tengah.
Kekeringan kali ini pun mencetak rekor kelam. Jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, situasi tahun 2026 adalah yang terburuk. Tahun lalu, hujan masih sudi menyapa ladang petani meski intensitasnya di bawah normal, yakni berkisar 150 mm per bulan. Namun, pada Dasarian 3 Juli 2026, langit Nabire benar-benar pelit.
Curah hujan anjlok drastis hanya menyentuh angka 52,6 mm dengan total hari hujan yang bisa dihitung jari: cuma 5 hari dalam sebulan berjalan. Angka-angka ini menjadi bukti sahih mengapa merkuri termometer di Nabire melonjak ekstrem, dengan suhu tertinggi mencapai 34,3°C dan suhu rata-rata bulanan bertengger di angka 27,5°C.
Penderitaan para petani di permukaan tanah kian beralasan karena ancaman lain turut mengintai dari udara. BMKG mengeluarkan imbauan keras agar masyarakat menghemat air seefisien mungkin dan menggunakan tabir surya demi melindungi kulit.
Lebih dari itu, kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan harus ditingkatkan berkali-kali lipat. “Saat ini kita juga sedang mengalami musim angin dari Tenggara yang membawa udara kering dari Australia. Jadi, kalau tidak dijaga, aktivitas seperti membakar sampah pasti bisa menyebabkan kebakaran besar,” tegas Yunus.
Kendati situasi di darat begitu membakar, laporan dari sektor transportasi udara sejauh ini masih terpantau aman. Begitu pula dengan sektor maritim; tinggi gelombang di perairan Nabire Teluk Cendrawasih berkisar antara 0,5 hingga 1,25 meter, masih berada di batas wajar.
Di tengah kecemasan yang membubung, citra satelit terkini menangkap secercah harapan dari langit. Sebuah bibit siklon tropis terpantau sedang menggeliat di Samudra Pasifik utara bagian Papua Barat Daya. Kehadirannya memicu penumpukan awan konvektif tebal yang mulai menyebabkan cuaca buruk di sebagian wilayah Waropen dan utara Papua.
Bagi Nabire yang sedang dahaga, pusaran awan di Pasifik utara tersebut bisa jadi adalah juru selamat yang dinanti-nanti.
“Ini menjadi peringatan untuk beberapa hari ke depan karena ada potensi terjadi hujan dan gelombang. Ada kemungkinan dalam beberapa hari ke depan bakal ada hujan di Nabire. Kita berharap semoga segera turun hujan dengan adanya situasi siklon tropis ini,” pungkas Yunus.
Siasat Pemerintah Menjaga Urat Nadi Pangan
Jeritan dari bawah tanah dan peringatan dari langit itu akhirnya sampai juga ke meja birokrasi. Dinas Pertanian Kabupaten Nabire mengakui bahwa potret ladang yang retak-retak di Distrik Nabire hingga Nabire Barat bukanlah isapan jempol semata.
Ditemui di ruang kerjanya pada Rabu (29/7/2026), Kepala Bidang Hortikultura Kabupaten Nabire, Marloza Roy, membeberkan hasil evaluasi lapangan yang dilakukannya dalam beberapa pekan terakhir. Dari Kelompok Tani Kaipoa, Cendrawasih, hingga Kelompok Tani Ansor di Waroki dan Wadio, kondisinya seragam: semua menjerit kekurangan air.
Situasi para petani kian terjepit akibat hantaman ganda faktor alam yang ekstrem dan lumpuhnya infrastruktur pengairan utama. Di saat El Nino diprediksi bakal membakar tanah Nabire hingga dua sampai tiga bulan ke depan, pasokan air dari jaringan irigasi pertanian justru terhenti total.
Marloza mengungkapkan bahwa saat ini sedang ada proyek perbaikan besar-besaran pada sistem pengairan tersebut yang dilakukan oleh otoritas terkait.
“Kami juga mengalami kendala dengan adanya kekurangan air karena sementara perbaikan irigasi yang ada di areal pertanian kita dari pihak Balai Wilayah Sungai,” jelas Marloza.

Tim Dinas Pertanian saat turun ke lapangan mengecek kondisi petani. (Foto: Istimewa for Sasagupapua)
Proyek rehabilitasi dari Balai Wilayah Sungai ini sayangnya berjalan di waktu yang krusial, memaksa ladang-ladang hortikultura maupun tanaman pangan kehilangan satu-satunya pasokan air struktural mereka di tengah puncak kemarau.
Akibatnya, petani tidak punya pilihan selain melakukan kerja ekstra bin manual untuk menyedot sisa-sisa air kali atau menggali sumur buatan. Sebagai langkah darurat untuk menyambung hidup tanaman, Dinas Pertanian telah menyalurkan bantuan pompa air kepada Kelompok Tani Ansor dan Cendrawasih untuk menyedot air dari sumur darurat atau kali terdekat.
Namun, bantuan yang ibarat setetes air di gurun pasir ini memicu riak di kalangan petani. Mengapa hanya sebagian yang dibantu? Mengapa nasib petani lain seolah digantung?
Menjawab kecemburuan sosial tersebut, Marloza berbicara blak-blakan mengenai kenyataan pahit di balik meja anggaran. Ia mengakui bahwa program bantuan Pemkab Nabire untuk tahun anggaran 2026 ini sebenarnya belum sepenuhnya berjalan.

Tim Dinas Pertanian saat turun ke lapangan mengecek kondisi petani. (Foto: Istimewa for Sasagupapua)
“Bantuan-bantuan sementara masih dalam tahapan proses untuk bisa tersedia di Dinas Pertanian. Kami mencoba memaksimalkan anggaran yang ada untuk menjawab kebutuhan petani. Setelah kegiatan itu siap, baru akan kami distribusikan ke petani-petani lainnya,” jelas
Marloza menerangkan lambatnya birokrasi berpacu dengan kecepatan kemarau.
Kini, pemerintah daerah tengah memutar otak. Efek domino dari tanah yang gersang ini bukan lagi sekadar urusan petani yang gagal panen, melainkan bayang-bayang inflasi yang siap mencekik leher konsumen di pasar.
Otoritas setempat terus berkoordinasi dengan Bupati dan Wakil Bupati untuk menjaga pasokan komoditi krusial seperti padi, bawang merah, bawang putih, tomat, hingga cabai rawit agar harganya tidak melambung liar.
Sebagai langkah taktis menahan benturan ekonomi, Dinas Ketahanan Pangan bersama instansi terkait mulai menggelar pasar murah demi menjaga daya beli masyarakat.
Meski ladang-ladang di Nabire sedang sekarat, Marloza mengklaim ketersediaan pangan secara umum untuk masyarakat saat ini masih berada di batas aman. Namun, ia juga sadar daya tahan itu ada batasnya. Di akhir penuturannya, sang penentu kebijakan ini melontarkan kepasrahan yang sama dengan Putra, Edi, dan Viktor di ladang.
“Mudah-mudahan di bulan Agustus nanti musim bisa berubah dan kami mendapatkan sumber air dari hujan. Karena kalau petani kita terus dituntut membuat sumur lagi di lahan-lahannya, ya sangat tidak memungkinkan dengan kondisi yang ada sekarang,” pungkasnya.
DPRP : Harus Ada Intervensi
Mata rantai penderitaan para petani di Nabire akhirnya memantik perhatian dari gedung parlemen.
Anggota DPR Papua Tengah Komisi II, Nancy Raweyai, menyatakan keprihatinan yang mendalam atas krisis air yang kini mencekik urat nadi perekonomian warganya akibat fenomena global yang kian tak terkendali.
“El Nino ini terjadi di seluruh dunia. Kemarin di Prancis saja cuaca sampai tembus 40 derajat Celsius, tingkat kepanasannya cukup tinggi. Dan sekarang, dampaknya nyata di Papua Tengah,” ujar Nancy prihatin.
Sebagai anggota komisi yang bermitra langsung dengan Dinas Pertanian, Nancy menegaskan bahwa situasi ini tidak boleh dibiarkan tanpa penanganan yang agresif.
Ia menyoroti pentingnya intervensi cepat dari pemerintah daerah, terutama dalam hal penyediaan infrastruktur pengairan yang selama ini menjadi momok utama di ladang.
Masalahnya kini kian kompleks. Krisis air di Nabire bukan lagi sekadar urusan satu sektor. Petani padi terpukul akibat penutupan jalur irigasi primer, sementara petani hortikultura di sisi lain terseok-seok mencari sumber air alternatif yang mahal. Kondisi inilah yang dinilai Nancy harus segera diurai oleh eksekutif.
“Ini menjadi masukan yang sangat bagus untuk pemerintah. Bagaimana penanganannya untuk petani lain yang memerlukan sumber air? Kita harus fokus di situ. Sayur dan buah-buahan itu juga termasuk pangan yang sangat dibutuhkan, dan bagaimanapun, ada petani yang sumber ekonominya dari situ yang harus kita perhatikan,” tegasnya.
Nancy juga mengingatkan adanya ancaman bom waktu ekonomi yang siap meledak di pasar-pasar tradisional Nabire jika gagal panen masal benar-benar terjadi. Hukum ekonomi supply and demand (penawaran dan permintaan) tidak akan bisa dihindari: ketika barang langka, harga dipastikan meroket.
“Musim kemarau ini menyebabkan gagal panen. Kalau hasil panen sedikit, pasti berdampak dengan harga di pasar yang meningkat. Nah, bagaimana pemerintah bisa mengintervensi pasar dan melindungi petani serta konsumen, itu yang akan kita tanyakan dan kawal bersama-sama,” janji Nancy.
Petaka Ulah Manusia di Musim yang Membakar, Damkar Tangani 5-6 Kasus Tiap Hari
Ketika para petani di ladang sibuk mencari air untuk menghidupkan tanaman, di sudut lain Nabire, sekelompok pria berpakaian biru justru harus berkejaran dengan waktu demi menjinakkan si jago merah.
Kemarau ekstrem akibat El Nino tidak hanya memicu dahaga, tetapi juga menyulut rentetan bencana kebakaran lahan yang kian tak terkendali.
Matahari belum lagi tinggi, namun sirine armada Damkar Provinsi Papua Tengah sudah melolong membelah jalanan. Martinus Sada, salah seorang anggota Damkar, mengungkapkan betapa kuwalahannya mereka menghadapi eskalasi kebakaran yang melonjak tajam dalam satu bulan terakhir.
“Pagi, siang, sore, dalam sebulan ini penuh kami menangani kebakaran lahan. Dalam satu hari, kasusnya bisa mencapai lima sampai enam kali kejadian,” ungkap Martinus.
Setiap hari mereka harus menangani kebakaran yang terjadi di beberapa titik misalnya mereka memadamkan lahan yang terbakar di belakang dan depan PLTMG Kalibobo, kawasan Wonorejo, area dalam bandara, Kimi, depan Polres, hingga lingkungan Korem. Bahkan, kebakaran lahan gambut dan tumpukan ampas serbuk kayu di dekat Sekolah Menara Ilmu Kali Semen, serta titik api di pinggir jalan SP2 hampir saja melalap habis usaha mebel milik warga setempat.

Damkar Provinsi Papua Tengah saat memadamkan lahan yang dilalap api. (Foto: Dok Damkar Papua Tengah)
Rentetan peristiwa ini memaksa para petugas bekerja melampaui batas kemampuan fisik mereka. “Tenaga kami luar biasa terkuras. Kami ini bukan robot. Walaupun ada tiga regu yang bergantian, tetap saja kami harus saling back-up satu sama lain karena kewalahan,” akunya jujur.
Ironisnya, musuh terbesar para petugas damkar di lapangan bukan hanya kobaran api yang membesar akibat embusan angin kering, melainkan juga krisis air yang ikut mencekik armada mereka.
Debit air di tempat pengisian biasa seperti BBI (Balai Benih Ikan) terus menyusut drastis karena kemarau. Demi mengisi ulang tangki, mereka terpaksa bolak-balik mengandalkan pasokan air dari kolam Kodim yang tersisa.

Damkar Provinsi Papua Tengah saat memadamkan lahan yang dilalap api. (Foto: Dok Damkar Papua Tengah)
Nahasnya lagi, petaka ini hampir seluruhnya dipicu oleh tangan-tangan manusia yang teledor. Kebiasaan buruk membakar kebun atau membersihkan sampah lalu ditinggalkan begitu saja, menjadi sumbu utama meletusnya kebakaran lahan berskala besar.
Oleh karena itu, Martinus menitipkan pesan mendalam bagi seluruh warga Nabire.
“Kami mengimbau keras kepada masyarakat, saat badai El Nino dan kemarau panjang begini, tolong kalau bakar sampah dijaga! Jangan dibakar lalu ditinggal pergi. Kalau api sudah mulai menyebar, segera siram. Jangan biarkan kelalaian kita berujung pada bencana yang merugikan banyak orang,” tegasnya.
El Niño 2026 Diperkirakan Moderat, Kemarau Lebih Panjang Tetap Perlu Diwaspadai
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memastikan peluang terjadinya fenomena Godzilla El Niño, yaitu El Niño dengan intensitas sangat kuat yang dapat memicu kekeringan ekstrem, sangat kecil pada tahun ini.
Meski demikian, masyarakat dan pemerintah tetap perlu mewaspadai musim kemarau yang diperkirakan berlangsung lebih panjang dibandingkan kondisi normal.
Hal tersebut disampaikan Kepala Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, Albertus Sulaiman, dalam laporan perkembangan El Niño 2026.
Menurut Albertus, hasil analisis berbagai model iklim dunia menunjukkan bahwa kondisi iklim global saat ini lebih mengarah pada El Niño kategori moderat dengan peluang sekitar 27 persen.
Kondisi tersebut berbeda dengan El Niño super kuat atau Godzilla El Niño yang pernah terjadi pada tahun 1997 dan 2015.
“El Niño 2026 diperkirakan tidak akan mencapai tingkat ekstrem. Namun, musim kemarau diprediksi berlangsung lebih lama dengan curah hujan yang berada di bawah rata-rata klimatologis,” jelas Albertus, Sabtu (20/6/2026) seperti dikutip dari website resmi BRIN.
Ia menjelaskan El Niño merupakan fenomena pemanasan suhu permukaan laut di wilayah Samudra Pasifik bagian tengah dan timur yang mengganggu pola pembentukan awan hujan di Indonesia. Dalam kondisi normal, perairan Indonesia yang hangat menjadi pusat pembentukan awan dan hujan. Namun saat El Niño terjadi, pusat pembentukan awan bergeser ke arah Pasifik Tengah sehingga curah hujan di Indonesia berkurang secara signifikan.
Menakar Luka Ekologi di Balik Siklus Bencana
Dahaga yang mencekik Nabire dan anomali cuaca yang melanda Papua Tengah sejatinya tidak berdiri sendiri di ruang hampa udara. Dr. Cahyo Pamungkas, peneliti senior dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), membedah bahwa petaka El Nino yang hari ini dirasakan para petani dan petugas damkar di garis depan merupakan akumulasi dari luka ekologi yang telah lama tertanam di bumi Papua.
Secara sains, El Nino memang dipicu oleh pergeseran awan hujan dan kenaikan suhu permukaan laut ke Pasifik Tengah. Namun bagi Cahyo, ada andil besar manusia di balik kian panasnya suhu udara dan satu fenomena yakni mencairnya salju abadi di puncak-puncak pegunungan Papua, seperti Puncak Jaya dan Carstensz.
“Turunnya atau mencairnya salju abadi itu bisa saja terjadi karena perubahan alih fungsi lahan secara besar-besaran di tanah Papua,” ungkap Cahyo ketika diwawancarai sasagupapua.com, Rabu (29/7/2026).
Selama bertahun-tahun, hutan alam yang berfungsi sebagai spons raksasa penyerap air terus dibabat habis. Hutan-hutan itu beralih fungsi menjadi kawasan industri ekstraktif skala masif; mulai dari perkebunan kelapa sawit, pertambangan besar dan rakyat, hingga ekspansi pemukiman dan pembangunan infrastruktur selama sepuluh tahun terakhir.
Ironisnya, Nabire menjadi salah satu wilayah yang ikut menanggung beban alih fungsi lahan ini dengan menjamurnya perkebunan sawit juga pertambangan.
“Tanaman seperti kelapa sawit itu tidak menyerap air secara baik untuk lingkungan, sementara pertambangan justru malah menyedot air. Padahal, tanaman asli yang andal menyerap air adalah sagu, buah merah, dan hutan rawa, tapi semuanya ikut dibabat,” kritiknya.

Tim Investigasi WALHI saat berada di hutan Nabire dan Waropen yang dibongkar oleh perusahaan. (Foto: Tim Investigasi WALHI Papua)
Ketika El Nino menghantam di atas lahan yang telah rusak, dampaknya menjadi berkali-kali lipat lebih mematikan bagi kehidupan subsisten masyarakat. Baik Orang Asli Papua (OAP) di perdesaan maupun para transmigran yang menggantungkan hidup dari bertani, semuanya tergilas tanpa pandang bulu. Krisis air bersih langsung mencuat ke permukaan menuntut pemenuhan kebutuhan dasar untuk sekadar minum dan memasak.
Di sektor pangan, ancaman yang mengintai pun tidak main-main. Nabire dan wilayah Papua lainnya kini dibayangi kerapatan pangan yang rapuh akibat ketergantungan pada beras.
Ketika pasokan beras lokal dari para petani transmigran anjlok drastis akibat kekeringan, suplai terpaksa harus didatangkan dari luar pulau seperti Jawa atau Makassar. Akibatnya, hukum pasar kembali menjerat: harga beras meroket, dan pengeluaran warga kian membengkak.
“Jika masyarakat semakin bergantung pada beras dan mengabaikan ketahanan pangan lokal seperti petatas (ubi jalar) dan sagu yang dulu menjadi penyangga saat krisis, maka El Nino akan mendatangkan kesulitan yang sangat besar,” urai Cahyo.
Menghadapi peliknya situasi ini, Cahyo menegaskan penanganan krisis air dan pangan di Papua tidak bisa hanya dibebankan ke pundak pemerintah daerah yang anggarannya terbatas.
Perusahaan-perusahaan besar yang selama ini mengeruk keuntungan dari hasil ekstraksi bumi Papua memiliki tanggung jawab moral untuk turun tangan. Dana Corporate Social Responsibility (CSR) dari korporasi pertambangan hingga perkebunan sawit harus diintervensi untuk membangun fasilitas air bersih, seperti mengalirkan air dari pipa-pipa hulu ke pemukiman warga yang terdampak.
Sebagai solusi jangka panjang untuk memutus rantai bencana banjir dan kekeringan yang silih berganti di tanah Papua, Cahyo melontarkan sebuah desakan visioner bagi pemegang kebijakan di bumi cenderawasih.
“Sudah saatnya seluruh provinsi di Papua itu kembali sebagai provinsi konservasi. Ekstraksi sumber daya alam harus dibatasi hanya untuk kepentingan masyarakat adat, bukan lagi untuk gurita industri dan bisnis yang merusak kelestarian alam,” pungkasnya.
Penulis: Kristin Rejang


















