Menu

Mode Gelap

Umum · 6 Mar 2026 21:37 WIT

Patok Adat Berdiri, Masyarakat Konda Pagari Hutan dari Incaran Sawit


Foto: Istimewa Perbesar

Foto: Istimewa

SASAGUPAPUA.COM, Sorong Selatan – Aksi penanaman patok batas ulayat menjadi simbol perlawanan masyarakat adat Distrik Konda dalam menjaga hutan mereka dari ancaman investasi. Dengan membawa kain merah dan cat merah, puluhan warga melakukan pemalangan dan penandaan titik-titik krusial di wilayah hutan Kordaimahkrah, Sun, Mondarmbe, dan Nimadaduk, pada Rabu (4/3/2026).

Langkah ini diambil guna memperjelas kepemilikan marga secara fisik sekaligus membentengi wilayah adat dari izin konsesi PT Anugerah Sakti Internusa (ASI) yang mencapai 14.000 hektar.

Yance Mondar, yang turun langsung dalam prosesi penanaman patok bersama keluarga besar dari Kampung Nakna dan Kampung Keyen, menegaskan tindakan ini adalah harga mati untuk melindungi sisa hutan yang mereka miliki.

“Kami survey dan buat patok adat ini karena ada perusahaan dan beberapa pihak rencana kasi masuk kelapa sawit, jadi kami juga takut jaga karena kelapa sawit ini kalau masuk nanti dia bongkar torang pu hutan yang sedikit ini baru kami mau hidup dimana? Kami mau berburu dimana? Kami mau berkebun dimana? Jadi kami hak ini kami trabisa kasi, kalau tempat ini digarap sawit lalu kami pu hidup ini mau taru dimana?” ujar Yance Mondar sambil menunjuk batas wilayah yang baru saja ditandai.

- Advertising -
- Advertising -

Foto: Istimewa

Bagi masyarakat, patok-patok yang ditanam merupakan pesan kuat bagi pihak luar bahwa tanah tersebut bukan lahan kosong.

Penegasan batas ini melibatkan tetua adat, mama-mama, hingga pemuda dari marga Kareth Sarus, Sianggo, Karet, dan Kemeray.

“Hutan ini dari Orang Tua Moyang untuk kami, dan kami juga akan wariskan untuk anak cucu kami, jadi kami tetap tolak kelapa sawit di tong hutan ini,” tegas Mama Grice Mondar yang ikut mengawal pemasangan tanda batas tersebut.

Kelestarian ekosistem di balik patok-patok adat itu juga menjadi alasan utama mengapa perlindungan fisik ini begitu krusial.

Yustus Mondar menjelaskan bahwa di dalam wilayah yang dipagari tersebut, keanekaragaman hayati Papua masih terjaga dengan sangat baik.

“Tong pu hutan ini ada babi hutan, kasuari, lao-lao, kanguru, kus-kus, maleo, rusa dan hewan liar banyak disini, jadi kami keluarga besar tolak kelapa sawit itu,” kata Yustus Mondar.

Sementara itu, tokoh adat Afsya, Yulian Kareth, mengingatkan para investor agar menghormati batas-batas adat yang kini telah dipertegas oleh masyarakat.

“Hutan ini bukan tanah kosong, ada pemiliknya jadi sampai kapanpun kami tetap tolak kelapa sawit,” tegas Yulian. Baginya, penanaman patok adalah langkah kedaulatan untuk memastikan tidak ada lagi pencaplokan sepihak atas nama investasi.

Aksi ini ditutup dengan penegasan dari Mama Fransina Sianggo mengenai fungsi hutan sebagai ruang hidup yang menyediakan segala kebutuhan mereka.

“Tong pu hutan ini untuk ramuan obat-obatan jika ada kluarga yang sakit dan biasa juga kami ambil daun tikar dan rumput untuk buat noken dan tikar untuk tong pu kebutuhan,” tuturnya.

Penanaman patok ini pun menjadi babak baru dalam perjuangan panjang masyarakat adat Distrik Konda untuk mempertahankan hak-hak ulayat mereka di Sorong Selatan.

Berikan Komentar
penulis : Tim
Artikel ini telah dibaca 0 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

28 Maret 2026, Akses Media Sosial Anak Mulai Dibatasi

6 Maret 2026 - 21:23 WIT

Donatus Mote Desak Kolaborasi Sinergis Selesaikan Konflik Batas Adat di Kapiraya

4 Maret 2026 - 21:10 WIT

‎PBT Tolak Pembongkaran Jalan di Wegemuka ‎‎

11 Februari 2026 - 12:19 WIT

LMA Kabupaten Puncak Resmi Miliki Kantor: Perkuat Sinergi Adat dan Pemerintah

10 Februari 2026 - 21:09 WIT

Filosofi Lampu Penerang: Apresiasi Tinggi Wagub Deinas Geley untuk Insan Pers

9 Februari 2026 - 13:57 WIT

Linda Bubun Langi Resmi Nahkodai Jurnalis Perempuan Mimika Periode 2026-2028

8 Februari 2026 - 18:48 WIT

Trending di Umum