SASAGUPAPUA.COM, Papua Tengah – Anggota DPR Papua Tengah, Nancy Raweyai memberikan apresiasi tinggi bagi para pegiat literasi yang tersebar di seluruh tanah Papua, khususnya di Provinsi Papua Tengah. Menurutnya, literasi dan pendidikan merupakan senjata yang paling ampuh untuk mengubah dunia serta memperbaiki berbagai kondisi sosial yang terjadi saat ini.
Nancy mengungkapkan di tengah situasi Papua Tengah yang sering diwarnai konflik dan provokasi, kehadiran gerakan literasi menjadi sangat penting.
Nancy merupakan salah satu anggota DPR Papua Tengah yang kerap mendukung gerakan literasi sehingga ia selalu mendorong dan mendukung penuh setiap kegiatan literasi yang muncul dari inisiatif masyarakat.
“Saya betul-betul mendorong dan support untuk kegiatan literasi karena hanya dengan literasi dan pendidikan itu adalah senjata yang paling ampuh untuk mengubah dunia, terutama untuk kondisi di Papua saat ini,” ujar Nancy Raweyai.
Lebih lanjut, Nancy menekankan pentingnya bagi kaum intelektual dan tokoh muda pegiat literasi untuk melakukan refleksi diri terhadap kondisi yang sedang terjadi. Ia berharap para pegiat literasi tidak hanya bersuara, tetapi juga mampu membangun kritik yang konstruktif agar tidak terjadi perpecahan antar kelompok atau suku.
Ia menyayangkan jika kaum intelektual justru ikut memperkeruh suasana dengan sentimen-sentimen yang memicu konflik. Nancy menegaskan Papua sudah kehilangan banyak waktu, sehingga para penggerak literasi diharapkan mampu menyalakan harapan baru bagi pembangunan melalui buku dan wawasan yang luas.
“Bagaimana anak Papua itu bisa mengangkat buku, bermimpi, dan membuka wawasan mereka. Jangan tambah lagi konfliknya, sudah cukup banyak,” tegas Politisi perempuan dari partai Nasdem tersebut.
Terkait dengan mulai bermunculannya kelompok-kelompok baca di Papua Tengah, mantan Jurnalis ini menyarankan agar mereka segera bersatu dalam sebuah wadah atau forum pegiat literasi. Persatuan ini dianggap penting untuk mendiskusikan tujuan bersama dan apa yang ingin dicapai ke depannya bagi kemajuan daerah.
Meskipun menyadari adanya tantangan geografis dengan delapan kabupaten yang memiliki jarak cukup jauh, Nancy menilai hal tersebut harus menjadi bahan diskusi yang dibicarakan sejak dini. Dengan adanya teknologi yang semakin canggih, koordinasi dan pembentukan peraturan atau kesepakatan bersama antar pegiat literasi seharusnya bisa lebih mudah dilakukan.
“Kita harus bersatu, hanya dengan bersatulah kita bisa. Harus ada forum pegiat literasi Papua Tengah dan saat ini sepertinya sudah dibentuk. Nah ini untuk mendiskusikan tujuan dan apa yang mau dicapai bersama-sama,” pungkasnya.