Menu

Mode Gelap

Pemerintahan · 16 Apr 2026 17:23 WIT

Sorong Akan Jadi Pusat Peluncuran Program Bedah 21.000 Rumah se-Tanah Papua


Suasana rapat bersama kepala daerah, Rabu (15/4/2026) di Jakarta. (sumber foto: Humas Kementerian PKP) Perbesar

Suasana rapat bersama kepala daerah, Rabu (15/4/2026) di Jakarta. (sumber foto: Humas Kementerian PKP)

SASAGUPAPUA.COM, Papua – Enam gubernur di Tanah Papua menghadiri pertemuan strategis dengan Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian serta Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait pada Rabu, 15 April 2026 di Jakarta.

Pertemuan yang juga dihadiri oleh Komite Eksekutif Percepatan Pembangunan Otonomi Khusus Papua dan Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) ini membahas langkah konkret intervensi kebijakan perumahan yang akan dilaksanakan secara serentak di seluruh wilayah Papua.

Usai kegiatan tersebut, kepada awak media menteri PKP Maruarar Sirait mengumumkan peluncuran program perumahan masif di wilayah Papua.

Dikutip dari laman resmi kementerian PKP,

- Advertising -
- Advertising -

Maruarar menyampaikan program tersebut merupakan tindak lanjut arahan Presiden Prabowo Subianto dan Ketua Satgas Perumahan Hashim Djojohadikusumo.“Kami merencanakan peluncuran pada 27 April di Sorong dan diikuti serentak di enam provinsi di Papua. Program ini masif dan langsung bisa dijalankan,” ujar Menteri PKP.

Dalam program tersebut, pemerintah menargetkan pelaksanaan bedah rumah minimal 21.000 unit di wilayah Papua. Dengan total 42 kabupaten/kota di enam provinsi Papua, setiap daerah ditargetkan memperoleh minimal sekitar 500 unit rumah.

Selain program bedah rumah, Menteri Ara mengatakan pemerintah juga menghadirkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) Perumahan yang menjadi terobosan baru untuk mendukung pembiayaan sektor perumahan. Program ini memberikan akses pembiayaan bagi pelaku usaha tanpa agunan dengan bunga rendah.

“Presiden Prabowo adalah presiden pertama yang membuat KUR perumahan tanpa jaminan. Bunganya hanya sekitar 6 persen per tahun. Harusnya tidak ada lagi rentenir di Papua,” ujar Menteri PKP.

Pemerintah juga meningkatkan kuota rumah subsidi menjadi 350.000 unit dari sebelumnya 220.000 unit. Selain itu, kebijakan terbaru dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terkait SLIK yang tidak menampilkan catatan kredit di bawah Rp1 juta diharapkan dapat mempermudah masyarakat berpenghasilan rendah mengakses pembiayaan rumah.

Tak hanya itu, Menteri Ara mengungkapkan, Kementerian PKP juga akan melakukan penataan tiga kawasan kumuh di Papua, yakni di Jayapura, Papua Selatan, dan Sorong. Seluruh program tersebut dijalankan berbasis data statistik yang disiapkan oleh BPS.

“Dengan data dari BPS, program negara bisa berjalan berdasarkan keadilan dan penelitian sehingga hasilnya lebih tepat sasaran,” kata Menteri PKP.

Sementara itu, Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian menyampaikan bahwa program perumahan di Papua menjadi langkah besar pemerintah dalam mengatasi persoalan hunian masyarakat. “Problem perumahan di Papua cukup signifikan. Banyak yang belum punya rumah ataupun tinggal di rumah tidak layak huni,” ujar Mendagri.

Ia juga menyampaikan bahwa program bedah rumah yang diinisiasi Menteri PKP merupakan program terbesar yang pernah dilakukan di Papua. “Belum pernah ada program sedemikian masif, minimal 21.000 bedah rumah di Papua,” kata Tito.

Menurutnya, program tersebut sangat membantu pemerintah daerah yang memiliki keterbatasan anggaran. “Kalau mengandalkan APBD daerah tentu sangat sulit. Oleh karena itu kami menyampaikan apresiasi tinggi kepada Menteri PKP atas program perumahan yang sangat signifikan di Papua,” tambahnya.

Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti menjelaskan bahwa program perumahan ini didukung dengan data statistik yang komprehensif, mulai dari backlog kepemilikan rumah, data rumah tidak layak huni, hingga data tunggal sosial ekonomi nasional berbasis by name by address. “Kami mendukung program perumahan dengan data statistik agar intervensi kebijakan lebih tepat sasaran,” ujar Amalia.

Berdasarkan data BPS, wilayah Papua masih memiliki angka rumah tidak layak huni yang cukup tinggi, terutama di Papua Pegunungan dan Papua Tengah. “Papua Pegunungan memiliki persentase rumah tidak layak huni tertinggi sekitar 89 persen, sedangkan Papua Tengah sekitar 67 persen,” jelasnya.

Ia juga menambahkan bahwa Kota Sorong dipilih sebagai lokasi peluncuran karena memiliki jumlah rumah tidak layak huni tertinggi di wilayah Papua Barat Daya.

“Kota Sorong memiliki jumlah rumah tidak layak huni tertinggi di Papua Barat Daya, sehingga menjadi lokasi peluncuran program,” kata Amalia.

Berikan Komentar
penulis : Kristin Rejang
Artikel ini telah dibaca 4 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Rakortekrenbang 2026: Papua Tengah Fokus Selaraskan Program Daerah dengan Target Nasional

14 April 2026 - 10:31 WIT

Tingkatkan Layanan ASN, BKPSDM Papua Tengah Benahi Data Pegawai 32 OPD

14 April 2026 - 00:14 WIT

Jhon Kemong Gelar Syukuran Bersama Keluarga, Siap Bangun Distrik Iwaka dengan Dasar Doa

11 April 2026 - 13:34 WIT

Sekda Nabire Jelaskan Terkait Pembatalan Pelantikan Eselon III dan IV: Jadi Proses Pembelajaran bagi ASN

9 April 2026 - 14:09 WIT

Bupati Mesak Magai Rolling Jabatan di Nabire, Pelantikan Eselon III dan IV Diberhentikan: Berantakan !

9 April 2026 - 13:25 WIT

Yulianus Pasang Resmi Jadi Sekda Definitif Kabupaten Nabire

9 April 2026 - 12:07 WIT

Trending di Pemerintahan