SASAGUPAPUA.COM, SORONG SELATAN – “Jangan hidup dari menjual tanah, tapi hiduplah dari mengelola tanah.”
Melalui rilis yang diterima ini, Sabtu (10/01/2026). Pesan mendalam ini bukan sekadar slogan, melainkan napas perjuangan bagi masyarakat adat di wilayah Knasaimos, Sorong Selatan.
Di bawah pendampingan LSM Bentara Papua (Bentang Nusantara Papua), masyarakat adat Knasaimos kini menempuh jalan baru yaitu mengelola kekayaan hutan secara mandiri dan berkelanjutan tanpa harus menumbangkan satu pohon pun.
Transformasi Ekonomi: Dari Konsumsi ke Nilai Tambah
Selama ini, kekayaan alam Papua seringkali hanya berakhir di meja makan sebagai konsumsi harian. Namun, melalui program pemberdayaan, potensi lokal tersebut kini bertransformasi menjadi produk bernilai ekonomi tinggi yang siap bersaing di pasar.
Berikut adalah beberapa inovasi produk yang telah berhasil diproduksi oleh warga:
Diversifikasi Pangan: Sagu kini hadir dalam bentuk tepung siap pakai dan aneka kue kering, sementara pisang diolah menjadi tepung pisang dan keripik renyah.
Produk Unggulan: Warga mulai memproduksi Sambal Udang kemasan dan Virgin Coconut Oil (VCO) dengan standar kebersihan yang terjaga.
Ketahanan Pangan Mandiri: Pemanfaatan pekarangan rumah untuk tanaman sayur dan cabai.
Strategi pertanian pekarangan ini merupakan langkah cerdas untuk mencegah pembukaan lahan baru di dalam hutan. “Dengan menanam di dekat rumah, warga tetap produktif meski cuaca buruk dan hutan tetap terjaga kelestariannya,” ungkap perwakilan Bentara Papua.
Pemetaan Partisipatif: Benteng Terakhir Hak Adat
Bagi Bentara Papua, menjaga hutan bukan hanya soal perut, tapi juga soal kedaulatan. Masyarakat adat diajarkan melakukan pemetaan partisipatif untuk mempertegas batas wilayah mereka secara hukum.
Langkah ini diambil untuk melindungi titik-titik keramat dan ruang hidup mereka dari ancaman pihak luar. Pemetaan ini menjadi dokumen krusial untuk membentengi wilayah Knasaimos dari ekspansi perusahaan skala besar, baik di sektor pertambangan maupun Proyek Strategis Nasional (PSN) seperti perkebunan sawit, tebu, dan padi yang berisiko merampas hak-hak mereka.
“Memetakan wilayah adalah cara kami memagari rumah agar anak cucu kami tidak menjadi penonton di tanah sendiri,” ujar salah satu tokoh adat setempat.
Filosofi Suci: Hutan Adalah Ibu
Kesadaran kolektif ini berakar pada filosofi “Tabraw’o mamfe teme”, yang dalam bahasa lokal berarti “Hutan adalah kami punya Mama”. Bagi masyarakat Knasaimos, hubungan mereka dengan alam bersifat sakral—menyakiti hutan identik dengan menyakiti ibu yang memberi mereka kehidupan.
Dengan kemandirian ekonomi yang mulai terbangun dan kepastian hukum atas wilayah adat, masyarakat Knasaimos kini berdiri tegak. Mereka membuktikan bahwa kemajuan tidak harus mengorbankan akar budaya, dan hutan Papua yang hijau adalah warisan paling berharga yang tak bisa ditukar dengan uang.





