SASAGUPAPUA.COM, TIMIKA – Ribuan Masyarakat Sorong menghantar Mgr. Bernardus Bofitwos Baru, O.S.A menuju ke Gereja Tiga Raja untuk ditahbiskan menjadi Uskup Keuskupan Timika, Rabu (14/5/2025).
Uskup Bernardus Bofitwos Baru merupakan putra asli Suku Maybrat sehingga mereka mengawali prosesi menuju Pentahbisan dengan rangkaian adat yang dinamakan Wuon.
Mereka melakukan arak-arakan dari SMP YPPK Santo Bernardus menuju ke Gereja Katedral Tiga Raja, tampak Uskup terpilih terlihat mengenakan pakaian adat begitupun para penari yang menghantar.
Ketua Kerukunan Ayamaru, Aitinyo dan Aifat (A3) Kabupaten Mimika, Matius Way menjelaskan mereka sangat menyambut dengan sukacita atas kehadiran uskup Keuskupan Timika yang baru dan merupakan putra asli Maybrat.
“Sehingga kita membuat prosesi Wuon dimana dari awal uskup ini harus ada di rumah adat disana dilakukan pendidikan khusus kepada uskup ini supaya beliau mengetahui segala hal menyangkut adat istiadat dulu baru masuk kepada gereja,” jelasnya.

Umat dari suku Maybrat saat mengikuti misa Pentahbisan Uskup Timika. (Foto: Edwin Rumanasen/Sasagupapua.com)
Ia menjelaskan, dari lokasi yang sudah disiapkan, Uskup dididik beberapa hari mengenai adat lalu tiba hari H-nya keluarga besar menghantar ke gereja untuk ditahbiskan.
Matius Way menjelaskan setelah mereka mendapatkan informasi bahwa Paus memberikan kepercayaan kepada Pastor Bernardus untuk memimpin gereja Katolik di Keuskupan Timika mereka sangat terharu sebagai keluarga besar.
“Sebab didunia pemerintahan kita bisa menguasai tapi di gereja baru dari gereja katolik ini baru orang pertama sehingga kami sangat terharu,” ucapnya.
Ia menjelaskan sesuai dengan ajaran mereka sebagai masyarakat adat, ada empat hukum yang ditetapkan.
“Pertama harus memelihara kesatuan dan persatuan keluarga besar kami, terus yang kedua adalah kami harus melakukan kerencahan hati, ketiga kami harus mengasihi semua orang, dan keempat menjaga kehormatan semua orang,” ucapnya.
Sehingga kata dia, uskup hadir disini, dan mereka sebagai keluarga besar akan terus mendukung.
“Kami terus mendukung terus kami berharap semua keluarga besar katolik menerima bapak uskup ini dengan sepenuh hati baik, merawat untuk menjadi gembala umat,” ungkapnya.
Wuon, Sebuah Tradisi yang Hampir Punah
Dikutip dari aman.or.id, Wuon merupakan kearifan turun-temurun dari Suku Miyah dan Ireres yang mendiami wilayah pedalaman Tambrauw. Saat ini, tradisi itu dapat dikatakan hampir punah karena nyaris tidak pernah dilakukan lagi. Seingat saya, tradisi Wuon terakhir yang digelar adalah pada 1990-an.
Dalam bahasa setempat, kata “Wuon” disebut rumah adat bagi kaum laki-laki untuk belajar nilai-nilai tradisional dan kearifan lokal. Untuk mempertahankan budaya dan nilai sakral yang ada dalam tradisi itu, generasi muda Suku Miyah dan Ireres harus menempuhnya lewat inisiasi pendidikan melalui sekolah adat.
Secara umum, pendidikan Wuon pertama kali diterapkan oleh tiga suku besar yang mendiami Tambrauw, yaitu Suku Abun, Suku Miyah, dan Suku Ireres. Kemudian, pendidikan Wuon menyebar ke wilayah yang kini menjadi Kabupaten Maybrat, Sorong Selatan, dan Sorong.
Dalam tulisan yang ditulis oleh jurnalis rakyat dari Papua Barat yakni Yaku Ayes dan Apriadi Gunawan ini menjelaskan Sekolah adat dari suku-suku tersebut tidak mengenal batasan umur.
Dimana Anak-anak adat sejak dini akan mendapat perlakuan khusus dan ada penerapan tertentu dalam keluarga ketika ada anak-anak adat yang menunjukkan minat untuk menempuh sekolah adat.
Bahkan, jika si anak masih dalam kandungan dan si ibu yang mengandungnya itu tertarik menyertakan anaknya kelak, perlakuan khusus maupun penerapan tertentu itu sudah bisa dilakukan ketika si anak belum lahir, seperti penerapan pola makan maupun pantangan atau larangan saat tengah mengandung.

Umat dari suku Maybrat saat mengikuti misa Pentahbisan Uskup. (Foto: Edwin Rumanasen/Sasagupapua.com)
Selanjutnya, ketika si anak lahir sampai umur 12-15 tahun, anak itu akan diasingkan dari kampungnya dengan dikirim ke sekolah adat yang dikenal dengan nama rumah adat Wuon yang berada jauh dari kampung. Biasanya, jarak sekolah adat dari kampung sekitar 15-30 km.
Keluarga tentu bisa mengantar makanan ke tempat si anak bersekolah, tapi tidak semua makanan. Mungkin satu atau dua jenis saja. Begitu pun dengan sayur yang juga tidak semua boleh diantar atau diberikan. Selama enam bulan atau satu tahun, anak-anak adat yang sedang menempuh pendidikan adat itu pun sekadar makan beberapa jenis lauk maupun sayur dalam jumlah yang terbatas.
Masa lamanya sekolah adat dibagi ke dalam tiga tahap, yakni tiga bulan, enam bulan, dan satu tahun. Dalam menjalani pendidikan di sekolah adat, bila ada yang sudah berkeluarga, maka pasangan dari peserta sekolah adat harus mengikuti aturan yang berlaku. Misalnya, jika seorang suami mengikuti sekolah adat di Wuon, maka tata aturan yang sama harus diikuti oleh istrinya di rumah (kampung). Bila dalam menjalani pendidikan adat ada kejadian yang luar biasa yang menyebabkan celaka hingga meninggal, pihak keluarga tidak akan marah sebab mereka menyakini bahwa kejadian itu disebabkan oleh si peserta sekolah adat yang kemungkinan melanggar aturan yang berlaku dan berdampak pada datangnya musibah.
Itulah nilai-nilai sakral pendidikan adat di Suku Miyah. Kesiapan mental dan kesepakatan keluarga sudah menjadi prosedur sebelum orangtua atau anggota keluarga lain menyetujui anaknya untuk bersekolah di sekolah adat, termasuk kesiapan atas konsekuensi selama menjalani proses tersebut. Bila ketahuan melanggar aturan yang sudah ditetapkan, para pendidik tidak akan segan memberikan hukuman.
Anak-anak adat yang tamat dari pendidikan adat, akan dihargai di kampung oleh penduduk sebab mereka layak mendapatkannya usai menempuh berbagai tantangan dan rintangan, di mana tidak semua warga dapat menghadapinya. Lalu, setelah selesai melewati pendidikan adat, keluarga pun akan membuat pesta penyambutan sebagai ungkapan rasa syukur.
Sewiam Sedik, seorang tokoh Masyarakat Adat Tambrauw, menjelaskan bahwa Wuon hanya dikhususkan untuk anak laki-laki yang sudah masuk fase dewasa. Anak laki-laki yang masuk dalam pendidikan itu, minimal berusia 14 tahun ke atas. Ia juga mengatakan kalau mereka akan diasingkan ke hutan untuk mendapat pendidikan khusus selama enam bulan sampai satu tahun.
“Mereka akan dibentuk, digembleng, dan dibina di tempat khusus untuk menjadi seorang laki-laki yang bertanggung jawab dan dewasa,” katanya. “Mereka juga akan dididik untuk menanam obat-obatan, meracik ramuan obat, memanah, memancing, berburu, dan lainnya.”
Sewiam mengaku kalau tradisi itu telah hampir punah. Ia mencontohkan bagaimana di daerahnya di Miyah Raya, Wuon terakhir yang digelar adalah pada 1990-an. Selain peserta didik, tenaga pengajarnya juga tinggal sedikit.
“Saat ini, pengajar Wuon tinggal empat orang dan sudah lansia,” katanya.
Melihat kondisi itu, ia berinisiatif menemui para tetua adat pada awal 2021 lalu untuk membuka kembali pendidikan adat tersebut. Dan ketika usulan Sewiam disetujui, pada Juni 2021, Wuon akhirnya kembali dibuka.
“Di awal pembukaan, ada lima pemuda adat yang ikut. Kemudian pada Agustus, kami merekrut tujuh pemuda adat. Mereka dididik sampai 29 April 2022 dan telah ditarik keluar dari hutan untuk ditahbiskan,” ungkapnya.
Sewiam menjelaskan bahwa Wuon lahir dari keinginan Masyarakat Adat dengan tujuan untuk menyiapkan generasi muda yang mandiri dan memiliki jati diri. Ada yang mengistilahkannya sebagai gentleman versi Papua Barat. Menurutnya, pendidikan itu merupakan salah satu cara meditasi.
“Meditasi tentang bagaimana berhubungan dengan Tuhan dan berhubungan dengan alam,” ujarnya.
Bonifasius Syufi, tokoh Masyarakat Adat lain, berharap pendidikan adat tersebut bisa terus dikembangkan sebab itu dapat membina mental, memperlihatkan cara berpikir yang tenang, menyemangati hidup, memberikan harapan kepada orang lain, dan menunjukan sikap baik dalam perilaku hidup untuk menjadi laki-laki yang bertanggung jawab dan dewasa.
Sementara itu, Paul, seorang pemuda adat asal Tambrauw, mengutarakan kalau tradisi tersebut perlu dijaga dan dilestarikan untuk anak dan cucu kelak. “Tradisi Wuon ini sangat bermanfaat dalam membentuk mental pemuda yang bertanggung jawab dan ini harus terus dilestarikan,” katanya.
Kebanggaan Bagi Masyarakat Maybrat
Uskup Bernardus Bofitwos Baru lahir di Maybrat 22 Agustus 1969 menjadi kebanggaan bagi seluruh Orang Asli Papua (OAP) sebab merupakan OAP ke-dua yang dipercayakan menjadi uskup.
Kebanggan ini juga khususnya dirasakan oleh masyarakat suku Maybrat.
Gubernur Papua Barat Daya, Elisa Kambu mengatakan, masyarakat Papua Barat Daya lebih khusus masyarakat suku Maybrat mengucapkan syukur kepada Tuhan karena memiliki uskup dari suku Maybrat.
“Per hari ini sukacita bagi Orang Asli Papua dan khususnya bagi orang Maybrat, kehadiran saya Gubernur Papua Barat Daya beserta semua Bupati di wilayah cangkupan Papua Barat Daya dan masyarakat Papua Barat Daya di Tanah Mimika hari ini adalah untuk menghadiri langsung acara tahbisan uskup Timika yang kebetulan adalah putra Maybrat,” kata Elisa Kambu.
Ia mengatakan, perasaan sukacita yang dirasakan tidak bisa terukur sehingga masyarakat Kabupaten Maybrat juga telah menyiapkan beberapa acara ungkapan syukur.
Elisa juga mengungkapkan pihaknya akan meminta ijin kepada umat Gereja Katolik yang ada di Keuskupan Timika ketika setelah ditahbiskan mereka akan meminta Uskup Bernardus untuk pulang ke Papua Barat Daya.
“Kita minta beliau pulang ke Papua Barat Daya dulu, di Sorong dan kita akan ada acara misa di ibu kota Provinsi tapi juga dilanjutkan di tanah kelahirannya. Dan kita acara disana kurang lebih 1 Minggu sebagai prosesi kegembiraan karena hadirnya uskup asli Papua putra Maybrat,” ucapnya.
Dikatakan, pemerintah dan masyarakat Kabupaten Maybrat menyampaikan ungkapan terimakasih kepada Pimpinan Gereja Katolik yakni Paus yang telah memberikan kepercayaan kepada Seorang Bernardus Bofitwos Baru untuk menjadi Uskup.
“Kami terus berdoa supaya beliau benar-benar melaksanakan tugas sesuai dengan panggilan ilahinya karena sudah berkomitmen untuk melayani Tuhan dan kami keluarga hanya menopang dengan doa dan kami akan menopang beliau dengan segala hal, kami akan selalu mendukung,” ujarnya.
Ia juga mengatakan, menitipkan Uskup Bernardus Bofitwos Baru, OSA kepada umat yang akan dilayani dimana ia sebagai gembala akan menggembalakan dombanya.
“Beliau kan terbatas, dan kita juga harap bahwa umat dimana beliau menggembalakan, terus memberikan dukungan untuk melayanan beliau supaya umat di wilayah keuskupan di Mimika sungguh diberkati dan menjadi berkat untuk sesama yang lain diatas tanah Papua, Mee, Amungsa dan Kamoro dan lainnya,” ujarnya.
Ia juga berterimakasih kepada panitia dan seluruh umat yang telah mempersiapkan acara Pentahbisan dengan luar biasa.
“Kita harap tempat ini bisa menjadi berkat bagi banyak orang,” pungkasnya.