SASAGUPAPUA.COM, SORSEL PBD – Di tengah tantangan ekonomi dan fluktuasi harga kebutuhan pokok yang kian tidak menentu, sebuah gerakan perubahan muncul dari tangan-tangan kreatif di pelosok Kampung Mlaswat.
Melalui Rilis yang diterima media ini, Minggu (18/01/2026). Sekelompok anak muda yang tergabung dalam Pemuda Adat Knanmlas mulai membuktikan bahwa kedaulatan pangan tidak harus dimulai dari lahan berhektar-hektar, melainkan bisa tumbuh subur dari pekarangan rumah sendiri.
Dipimpin oleh Yoab Sagisolo, yang menjabat sebagai Koordinator Pertanian, para pemuda ini menyulap lahan-lahan tidur di sekitar pemukiman menjadi pusat pembibitan tanaman produktif. Fokus utama mereka saat ini adalah menyediakan bibit cabai dan tomat, dua komoditas yang seringkali menjadi beban pengeluaran dapur warga karena harganya yang kerap melonjak tajam di pasaran.
Sentuhan NGO: Sinergi Pengetahuan dari EcoNusa dan Bentara Papua
Keberhasilan Yoab Sagisolo dalam mengelola pembibitan ini tidak datang begitu saja. Ia mengakui bahwa visi dan keterampilan teknis yang ia miliki saat ini merupakan buah dari pengalaman dan pelatihan berharga yang didapatkan melalui kolaborasi dengan dua lembaga non-pemerintah (NGO) yang berfokus pada pemberdayaan tanah Papua, yakni EcoNusa dan Bentara Papua.
Melalui berbagai program penguatan kapasitas masyarakat adat, Yoab belajar bagaimana mengelola sumber daya alam secara berkelanjutan tanpa merusak ekosistem. Bentara Papua (www.bentarapapua.org) berperan besar dalam memberikan pemahaman mengenai kedaulatan pemuda adat atas tanahnya, sementara EcoNusa (econusa.id) memperkuat sisi edukasi lingkungan dan ekonomi hijau.
“Saya mendapatkan banyak pengalaman berharga dari EcoNusa dan Bentara Papua. Mereka mengajarkan kami bahwa anak muda adat harus menjadi garda terdepan dalam menjaga hutan dan tanah. Salah satu cara konkretnya adalah dengan bertani secara bijak dan mandiri di pekarangan sendiri,” ungkap Yoab dengan penuh semangat.
Ilmu tentang pembuatan pupuk organik, manajemen persemaian, hingga strategi pengembangan ekonomi komunitas ia serap dari pelatihan tersebut untuk kemudian diterapkan secara nyata di Kampung Mlaswat.
Kualitas yang Berakar pada Tanah Sendiri
Inisiatif ini bermula dari keprihatinan Yoab melihat banyaknya pekarangan warga yang dibiarkan kosong dan hanya ditumbuhi rumput liar. Dengan modal pengetahuan dari para pendamping, ia mendirikan rumah semai sederhana menggunakan jaring peneduh (paranet). Ribuan benih cabai dan tomat kini disemai menggunakan media polybag dan gelas plastik bekas—sebuah langkah kecil yang berdampak besar dalam mengurangi limbah plastik di lingkungan kampung.
Keunggulan bibit produksi pemuda Knanmlas ini terletak pada daya tahan yang luar biasa karena faktor adaptasi lokal. Disemai langsung di bawah langit dan iklim asli Mlaswat membuat tanaman telah melewati fase aklimatisasi yang sempurna sehingga tidak mudah layu saat dipindahkan ke lahan warga.
Selain kualitasnya yang tangguh, harga yang dipatok pun sangat terjangkau, dirancang khusus agar warga dari kalangan ekonomi menengah ke bawah mampu memulai kebun mandiri tanpa terbebani biaya modal. Tidak berhenti di situ, Yoab dan timnya memberikan nilai tambah berupa pendampingan langsung. Mereka secara terbuka berbagi tips, teknik pemupukan organik, hingga cara penanganan hama agar tanaman milik warga bisa berbuah lebat.
Dampak Nyata di Meja Makan
Kehadiran bibit siap tanam ini disambut antusias oleh masyarakat. Salah satu warga, Mama Maria, menceritakan bagaimana ia kini bisa menghemat pengeluaran dapur secara signifikan.
“Dulu kalau mau sambal atau masak, saya harus tunggu hari pasar atau pergi ke kota dengan biaya transportasi yang mahal. Sekarang, saya cukup beli bibit dari anak muda Knanmlas. Bibit mereka sangat kuat, ditanam langsung tumbuh besar dan subur. Saya sangat senang karena anak-anak muda ini juga mau datang dan ajarkan kami cara urus tanamannya agar tidak mati,” ujarnya dengan bangga.
Membangun Ekonomi Kreatif dan Harapan Masa Depan
Hasil penjualan bibit ini dikelola secara transparan untuk diputar kembali menjadi modal usaha kelompok pemuda adat Knanmlas. Gerakan ini bukan sekadar aktivitas pertanian, melainkan jawaban atas tantangan regenerasi petani di tingkat kampung. Yoab berhasil membuktikan bahwa dengan dukungan pengetahuan yang tepat, pemuda adat mampu menjadi aktor ekonomi yang tangguh di tanahnya sendiri.
Visi jangka panjang Yoab Sagisolo adalah menjadikan Kampung Mlaswat sebagai “Kampung Mandiri Sayur”. Ia memimpikan setiap rumah memiliki ketahanan pangan yang kuat, di mana kemakmuran diraih tanpa harus merusak kelestarian hutan. Di tangan Yoab dan pemuda Knanmlas, pekarangan bukan lagi sekadar tanah kosong, melainkan simbol harapan bagi masa depan Papua yang lebih mandiri, sejahtera, dan lestari.





