SASAGUPAPUA.COM, Timika — Wakil Gubernur Papua Tengah, Deinas Geley, hadir di Graha Sinode GKII, Jalan Mayon, Distrik Kuala Kencana, Kabupaten Mimika, Selasa (13/10/2026).
Mewakili Gubernur Papua Tengah, kedatangan Deinas ke Konferensi Sinode ke-IV Gereja Kemah Injil Indonesia (GKII) Wilayah II Papua Tengah adalah untuk merangkul dan menyampaikan pesan-pesan kebersamaan.
Di hadapan para jemaat yang memenuhi gedung sinode, Deinas menyampaikan rasa syukurnya atas terselenggaranya acara yang akan berlangsung selama empat hari tersebut. Dengan penuh kehangatan, Deinas mengenang perjalanan sejarah gereja di tanah Papua, mulai dari masa lalu hingga kini terbentuknya Provinsi Papua Tengah sebagai daerah otonom baru.
Pesan persatuan menjadi titik tekan yang disampaikan dengan bijak. Deinas mengajak seluruh umat untuk merawat keutuhan gereja dan meninggalkan cerita lama tentang perpecahan.
“Jangan ada lagi perpecahan di dalam gereja. Cukuplah sejarah masa lalu menjadi pelajaran bagi kita. Sekarang, di Provinsi Papua Tengah yang baru ini, mari kita bergandengan tangan menjaga gereja kita agar tetap kuat dan kokoh dalam kasih,” tutur Deinas dengan penuh kelembutan.
Deinas juga mengingatkan bahwa organisasi gereja pada akhirnya adalah tentang manusia yang ada di dalamnya. Oleh karena itu, kerukunan antar-denominasi gereja di Papua Tengah harus terus dijaga agar umat dapat beribadah dengan tenang, damai, dan semakin mendekatkan diri kepada Tuhan Yesus.
“Gereja itu suatu nama organisasi, tetapi manusianya jangan pecah belah. Kalau pecah belah, kita habislah dan kita musnahkan antara satu sama lain, baku ribut, baku perang, dan lain-lain,” tegasnya
Suasana semakin akrab ketika Deinas menyapa para pemuda yang hadir. Deinas menyebut generasi muda sebagai tulang punggung masa depan gereja, yang harus dirangkul untuk bersama-sama membangun dan membesarkan pelayanan keagamaan.
Di luar ruang konferensi, Deinas juga menyempatkan diri untuk berdialog secara kekeluargaan dengan perwakilan warga dari Suku Dani, Suku Lani, dan Suku Nduga yang tinggal di Timika. Dengan pendekatan yang persuasif, Deinas mengajak masyarakat untuk senantiasa hidup damai berdampingan tanpa ada perang.
“Saudara-saudaraku semua, kita hidup dan lahir di dunia ini untuk saling mengasihi. Mari kita tinggalkan segala perselisihan. Mulai hari ini, lewat momentum konferensi ini, mulai hari ini dengan adanya acara konferensi ini, semua panah untuk perang harus diikat dan tidak boleh perang lagi,” kata Deinas,” pesan Deinas.
Deinas juga mengingatkan kader-kader gereja dan masyarakat untuk menghentikan kebiasaan minum minuman beralkohol serta praktik seks bebas yang dapat menularkan HIV. Ia memperingatkan bahwa jika kebiasaan buruk ini terus dipelihara, eksistensi masyarakat Papua Tengah di masa depan terancam punah.
“HIV harus dihentikan. Kalau kita pertahankan ini, lima puluh tahun ke depan masyarakat Papua Tengah akan punah seperti di kota-kota besar yang kita tahu. Saya ambil contoh di Amerika Latin dan di Australia, dulu kulit hitam banyak, tetapi gara-gara minuman beralkohol musnah habis. Hal yang sama suatu saat bisa terjadi di Papua atau tidak, itu pertanyaan besar yang saya kasih ke mereka kemarin,” pungkasnya.





