Menu

Mode Gelap

Pemprov Papua Tengah · 11 Jun 2026 14:01 WIT

Akselerasi Indeks IGA: Pemprov Papua Tengah Pacu OPD Cetak Terobosan Inovasi


Suasana Kegiatan Bimbingan Teknis Tata Cara Penginputan Indikator Inovasi sekaligus Koordinasi Teknis Aplikasi Innovative Government Award (IGA) di Guest House, Kabupaten Nabire, Kamis (11/6/2026). Foto: Kristin Rejang/Sasagupapua.com. Perbesar

Suasana Kegiatan Bimbingan Teknis Tata Cara Penginputan Indikator Inovasi sekaligus Koordinasi Teknis Aplikasi Innovative Government Award (IGA) di Guest House, Kabupaten Nabire, Kamis (11/6/2026). Foto: Kristin Rejang/Sasagupapua.com.

SASAGUPAPUA.COM, NABIRE – Pemerintah Provinsi Papua Tengah terus melaksanakan berbagai cara dalam memperkuat tata kelola pemerintahan yang adaptif dan modern.

Melalui Badan Perencanaan Pembangunan, Riset, dan Inovasi Daerah (Bapperida), pemerintah provinsi menggelar Bimbingan Teknis Tata Cara Penginputan Indikator Inovasi sekaligus Koordinasi Teknis Aplikasi Innovative Government Award (IGA) di Guest House, Kabupaten Nabire, Kamis (11/6/2026).

Agenda yang berlangsung selama dua hari (11-12 Juni 2026) dihadiri oleh para kepala bidang dan operator aplikasi IGA dari seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) ini menghadirkan narasumber ahli, Arzat Sectio.

Arzat menjabat sebagai Analis Kebijakan Ahli Muda pada Pusat Strategi Kebijakan Pengembangan Sumber Daya Manusia, Teknologi Informasi, dan Inovasi Pemerintahan Dalam Negeri pada Badan Strategi Kebijakan Dalam Negeri (BSKDN), yang memiliki unit kerja di Pusat Strategi Kebijakan Pengembangan Sumber Daya Manusia, Digitalisasi Pemerintah, dan Inovasi, Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia.

- Advertising -
- Advertising -

Pemateri dari Kemendagri, Arzat Sectio (Batik). Foto: Kristin Rejang/Sasagupapua.com.

Kehadiran pemateri pusat ini bertujuan untuk membedah instrumen aplikasi IGA serta memastikan penginputan parameter inovasi daerah berjalan serius, valid, dan akuntabel.

Menjadikan Inovasi sebagai Budaya Kerja, Bukan Sekadar Penghargaan

Saat membuka kegiatan secara resmi, Staf Ahli II Bidang Kemasyarakatan, SDM, dan Pengembangan Otonomi Khusus Provinsi Papua Tengah, Ukkas, menegaskan tantangan pembangunan yang semakin kompleks menuntut jajaran pemerintah daerah untuk keluar dari zona nyaman.

Dirinya menyampaikan apresiasi tinggi kepada Bapperida yang dinilai tanggap dalam mengawal penguatan tata kelola pemerintahan yang terukur dan berorientasi pada kebutuhan riil masyarakat.

“Saat ini pemerintah daerah dituntut untuk tidak bekerja secara biasa-biasa saja. Tantangan pembangunan semakin kompleks. Kebutuhan masyarakat terus berkembang, sementara sumber daya dan kapasitas daerah harus dikelola secara efektif dan tepat sasaran,” ungkapnya.

Karena itu, kata dia inovasi daerah menjadi salah satu instrumen penting dalam meningkatkan kualitas pelayanan publik dan mempercepat pembangunan daerah.

Staf Ahli II Bidang Kemasyarakatan, SDM, dan Pengembangan Otonomi Khusus Provinsi Papua Tengah, Ukkas saat membawakan sambutan pembukaan kegiatan Bimbingan Teknis Tata Cara Penginputan Indikator Inovasi sekaligus Koordinasi Teknis Aplikasi Innovative Government Award (IGA) di Guest House, Kabupaten Nabire, Kamis (11/6/2026). Foto: Kristin Rejang/Sasagupapua.com.

Menurutnya, Innovative Government Award bukan hanya soal penilaian atau penghargaan semata, tapi yang lebih penting adalah bagaimana inovasi menjadi budaya kerja dalam pemerintahan.

“Inovasi harus hadir dalam bentuk kebijakan yang efektif, pelayanan lebih cepat atau tata kelola yang lebih sederhana, dan program yang benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat,” ungkap Ukkas.

Gerakan Satu OPD Satu Inovasi dan Strategi “Studi Tiru” yang Efisien

Dalam arahan Gubernur yang dibacakan oleh Ukkas, pemerintah provinsi menginstruksikan kebijakan tegas yang mewajibkan setiap instansi untuk melahirkan minimal satu terobosan.

Menariknya, inovasi tidak selalu diidentikkan dengan anggaran besar atau pembangunan sistem dari nol, melainkan melalui pendekatan adaptif yang efisien dan sesuai dengan karakteristik wilayah Papua Tengah.

“Pada kesempatan ini ada beberapa hal yang perlu kita highlight yaitu aitu penyampaian saya kepada seluruh OPD, baik itu di sebuah kabupaten tingkat provinsi maupun di kabupaten. Kepala OPD harus mencanangkan satu OPD satu inovasi. Satu OPD satu inovasi. Dan ini dikonsultasikan ke pimpinan, bahwa pimpinan harus menyiapkan anggaran. Kalau inovasi, kan saya sampaikan di awal tadi bahwa inovasi tidak mesti harus dimulai dari nol, karena inovasi itu kadang-kadang berbiaya tinggi. Kalau kita mulai dari nol itu biayanya besar,” ungkapnya.

Namun kata dia, jika inovasi itu dimodifikasi dari apa yang sudah ada di daerah lain dan sesuai dengan karakter daerah di Papua Tengah bahkan tidak harus keluar dari Papua maka biayanya akan lebih rendah.

Para peserta kegiatan Bimbingan Teknis Tata Cara Penginputan Indikator Inovasi sekaligus Koordinasi Teknis Aplikasi Innovative Government Award (IGA) di Guest House, Kabupaten Nabire, Kamis (11/6/2026). Foto: Kristin Rejang/Sasagupapua.com

“Sekarang bukanlah studi banding istilahnya, studi tiru atau ATM (Amati, Tiru, Modifikasi). Apa yang ada di daerah-daerah yang sudah maju inovasinya, itu kita studi banding saja, studi tiru ke sana. Apa yang kita lihat, kita kembali dan terapkan sesuai dengan kondisi,” lanjut Ukkas.

Membumikan Inovasi pada Sektor Pendidikan, Kesehatan, dan Konektivitas Digital

Pemerintah provinsi turut memetakan sejumlah sektor penting yang membutuhkan sentuhan inovatif mutakhir.

Mulai dari keberlanjutan program Sekolah Sepanjang Hari (SSH) di bidang pendidikan, hingga program pelayanan kesehatan “jemput bola” guna memangkas biaya transportasi masyarakat yang tinggal di wilayah kepulauan, seperti salah satunya di sekitar Pulau Mora dan program lainnya yang sudah berjalan.

Staf Ahli II Bidang Kemasyarakatan, SDM, dan Pengembangan Otonomi Khusus Provinsi Papua Tengah, Ukkas, saat membuka kegiatan Bimbingan Teknis Tata Cara Penginputan Indikator Inovasi sekaligus Koordinasi Teknis Aplikasi Innovative Government Award (IGA) di Guest House, Kabupaten Nabire, Kamis (11/6/2026). Foto: Kristin Rejang/Sasagupapua.com.

Selain itu, tantangan digitalisasi di wilayah pedalaman yang masih terkendala keterbatasan bandwidth dan area tanpa sinyal (blank spot) menjadi perhatian serius untuk dicarikan solusi berbasis sistem rekam data luring (offline).

“Di bidang pemerintahan, bagaimana kita punya sistem perancangan itu terkoneksi. Apakah sistem perencanaan kita dengan sistem sudah terkoneksi OPD dan di kabupaten? Supaya kalau itu sudah terkoneksi dengan baik, kita bisa memantau program jangan sampai terjadi tumpang tindih program, jangan sampai terjadi duplikasi anggaran. Itu potensi fraud itu kalau terjadi duplikasi anggaran. Ini ini yang harus kita bangun dalam sistem kita,” ucapnya.

“Di bidang pencatatan penduduk atau Dukcapil bagaimana orang nikah ya kan harus punya akta nikah. Bagaimana orang melahirkan, ibu melahirkan, ada satu pelayanan ketika mengurus itu dia sudah bawa akta kelahiran anaknya, surat kelahiran. Mati, nikah, itu sudah harus terkoneksi semua. Nah ini yang inovasi-inovasi ini harus dibangun di level sampai level-level tingkat bawah,” sambungnya.

Mempertahankan Predikat Tertinggi di Tanah Papua dan Persiapan Pameran Besar DOB

Senada dengan arahan tersebut, Kepala Bapperida Provinsi Papua Tengah, Eliezer Yogi, mengingatkan seluruh peserta bahwa Papua Tengah saat ini memegang tanggung jawab besar sebagai provinsi dengan nilai indeks inovasi tertinggi di antara enam provinsi di tanah Papua.

Prestasi berupa penghargaan daerah inovatif dari Kemendagri yang diraih tahun lalu menjadi pemacu untuk terus meningkatkan performa, terlebih karena penilaian dilakukan berbasis klaster wilayah.

Eliezer mengungkapkan, Bapperida berkomitmen untuk mengawal, mendata, dan memberikan dukungan pembiayaan khusus bagi program-program inovasi yang diajukan OPD dalam penyusunan RKPD.

“OPD baik di provinsi tapi juga kabupaten kota, untuk bisa melaksanakannya. Saat ibu khususnya di tanah Papua, enam provinsi yang ada di tanah Papua, untuk kita Papua Tengah menurut penilaian dari pusat, dalam hal ini dari BKSDN Kemendagri, kita Papua Tengah itu sudah agak sedikit baik. Artinya kalau diurut, mungkin nilainya tertinggi untuk enam provinsi. Dan itu terbukti tahun lalu, selain yang tadi dari OPD, tapi secara kolektif kita kemarin diberikan penghargaan dari Kemendagri sebagai daerah yang inovatif tadi. Untuk di Papua Tengah itu provinsi kita, terus kabupaten itu Kabupaten ada Mimika. Mimika ini juga mereka punya inovasi yang baik, kalau tidak salah satu minggu yang lalu mereka ada buat kegiatan juga, dan di situ mereka untuk Papua Tengah, Mimika, terus kedua mungkin Nabire, yang berikutnya kabupaten yang lain,” jelas Eliezer Yogi.

Kepala BAPPERIDA Provinsi Papua Tengah Eliezer Yogi saat memberikan pengantar sebelum dimulai materi dalam momen kegiatan Bimbingan Teknis Tata Cara Penginputan Indikator Inovasi sekaligus Koordinasi Teknis Aplikasi Innovative Government Award (IGA) di Guest House, Kabupaten Nabire, Kamis (11/6/2026). Foto: Kristin Rejang/Sasagupapua.com.

Lebih lanjut, Eliezer menekankan pentingnya komitmen bersama demi mempertahankan prestasi yang sudah diraih serta menyiapkan panggung pameran inovasi yang matang untuk menyambut hari ulang tahun provinsi yang akan datang.

“Kita sudah ada di tahapan itu. Kadang-kadang orang biasa bilang untuk mempertahankan itu susah, kalau meraih itu mungkin gampang, artinya posisi ya, tapi untuk mempertahankan atau meningkatkan itu susah. Ini yang mungkin nanti Bapak Ibu yang ada di sini, mewakili dari pimpinan OPD, mungkin ini juga bisa didiskusikan dengan baik supaya ke depan nanti inovasi dalam bentuk program kegiatan sesuai dengan tupoksi, itu kita perlu perhatikan. Langkahnya saya pikir mungkin teman-teman di OPD-nya sudah ikuti, kami dari Bapperida lewat bidang riset sudah menyampaikan surat juga untuk meminta satu, dua program kegiatan yang akan dilakukan dalam bentuk inovasi. Dan ini saya pikir sesuai rekapitulasi kami, teman-teman dari OPD sudah kirim. Ini kami akan data, dan ini akan kita kawal sama-sama untuk ke depan karena tiap tahun ini ada penilaian,” ucapnya.

Dijelaskan, Penilaian dari Kemendagri ini memiliki dampaknya besar, jika memiliki  poin tinggi, maka akan mendapat reward juga seperti penambahan dana dan lain-lain.

“Jadi kita sebenarnya berterima kasih Kemendagri juga karena penilaian mereka itu tidak secara nasional, tapi dibagi wilayah-wilayah cluster begitu. Jadi wilayah bagian Sumatera, bagian Jawa, Sulawesi, Maluku dan NTT, dan kami Papua itu ada enam provinsi saja. Dan untuk enam provinsi, kami di Papua Tengah yang menurut penilaian dari Kemendagri masih tertinggi. Ini yang saya tadi bilang, untuk mempertahankan atau meningkatkan itu susah, kalau meraih itu itu mungkin gampang. Sehingga kami mohon Bapak Ibu sekalian yang ada di OPD, silakan mari kita sama-sama mendorong ini,” papar Eliezer.

Strategi pendanaan dan persiapan teknis jangka panjang juga terus digodok oleh Bapperida guna memastikan seluruh program inovasi OPD dapat terakomodasi dan terekspos dengan maksimal kepada publik.

“Tadi seperti yang Pak Staf Ahli sampaikan, ini nanti kita akan lihat ke depan program kegiatan dengan inovasi itu mungkin ada perhatian khusus. Kita akan lapor ke pimpinan, mungkin itu dalam hal pendanaan atau seperti apa bisa didorong supaya ke depan memang bisa lebih serius lagi dilakukan oleh teman-teman di OPD, dan kita sama-sama kawal,” ucapnya.

Ia juga menyinggung tahun ini Papua Tengah memamasuki usia empat tahun menjadi DOB.

“Tahun lalu 2025 kemarin, waktu hari ulang tahun itu kebetulan kami masuk dalam panitia, itu ada diskusi-diskusi. Kita ulang tahun provinsi ini kita harus buat expo, harus buat pameran, pokoknya banyak ide dan masukan. Sekarang pertanyaan kita waktu itu, sekarang kita mau expo, kita mau pameran, apa yang kita mau tampilkan? Akhirnya kita diskusi, karena baru tiga tahun jadi kita tidak usah buat expo atau pameran, kita hanya talkshow saja waktu itu,” ucapnya.

Untuk itu, dengan adanya langkah untuk memacu hadirnya inovasi terbaik dari OPD maka akan membantu dalam kegiatan HUT DOB Papua Tengah nanti.

“Kami sedang mendorong instrumen ini agar setiap OPD melahirkan minimal satu inovasi, bahkan bisa dua, tiga, atau lebih. Kami ingatkan sejak awal, pada momentum hari ulang tahun provinsi nanti, seluruh OPD wajib mendirikan stan. Namun, yang kita tampilkan di sana bukan lagi proses pelayanan manual, melainkan etalase inovasi yang nyata. Ini adalah kesempatan bagi setiap OPD untuk mengoptimalkan tupoksinya. Inovasi tidak harus selalu dimulai dari nol; kita bisa menerapkan strategi ATM (Amati, Tiru, Modifikasi) dari daerah lain yang sudah maju dan menyesuaikannya dengan karakter wilayah kita. Terkait program kegiatan inovatif yang sudah diajukan oleh teman-teman OPD, saat ini sedang kami data dan verifikasi. Melalui Bidang Inovasi Bapperida, kami berkomitmen memberikan dorongan khusus, termasuk dari sisi penganggaran dan pembiayaan, agar program-program terobosan ini benar-benar dapat diimplementasikan secara konkret oleh OPD maupun Bapperida,” pungkas Eliezer Yogi.

 

Penulis: Kristin Rejang

Artikel ini telah dibaca 1 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Siasat Global Pemprov Papua Tengah, Program Bahasa Inggris Tembus 980 Siswa

11 Juni 2026 - 15:01 WIT

Bapperida Papua Tengah: OPD Wajib Setor Minimal Satu Inovasi yang Menyentuh OAP

11 Juni 2026 - 14:33 WIT

Cegah Kebocoran Data, Pemprov Papua Tengah Gelar Bimtek Siber

9 Juni 2026 - 23:03 WIT

Resmi Diluncurkan, Koperasi Honai Papua Tengah Terang Jadi Motor Ekonomi Rakyat

9 Juni 2026 - 21:47 WIT

Dinas Pendidikan Paniai Bekali 132 Guru Kontrak 3T dan Sebar ke 55 Sekolah

5 Juni 2026 - 17:58 WIT

Dinas Kesehatan Pemprov Papua Tengah Gelar OJT ATM di Puskesmas Enarotali 

3 Juni 2026 - 19:40 WIT

Trending di Pemprov Papua Tengah