Penulis: Kristin Rejang
Pagi itu, suasana di Pasar Karang, Kabupaten Nabire, Papua Tengah, sudah mulai berdenyut. Di tengah keriuhan pedagang dan pembeli, di atas sebuah meja tegel sederhana yang dialasi karung, berjejer ubi dan keladi bakar yang masih hangat. Aroma khas panggangan kayu meruap tipis, mengundang selera siapa pun yang melintas.
Di sana, duduk empat orang ibu asli Papua yang sedang berbagi cerita sembari menunggu pelanggan. Namun, ada satu sosok yang menarik perhatian; ia sesekali mengusap matanya yang tampak membengkak. Saat dihampiri, perempuan itu melempar senyum tulus meski guratan kelelahan tak bisa disembunyikan dari wajahnya. Dia adalah Mama Dominika You.

Seorang mama Papua sedang melayani pembeli ubi bakar di Pasar Karang, Nabire. (Foto: Kristin Rejang/Sasagupapua)
“Mata saya bengkak, seperti ada luka,” ucapnya lirih saat disapa jurnalis Sasagupapua. Namun, rasa sakit itu tak sedikit pun menyurutkan semangatnya. Dia adalah Mama Dominika You, seorang ibu tangguh yang telah menghabiskan sebagian besar hidupnya di pasar ini.
Modal Mandiri di Tengah Keterbatasan
Bagi Mama Dominika dan kawan-kawannya, Pasar Karang bukan sekadar tempat mencari nafkah, melainkan rumah yang mereka rawat dengan keringat sendiri.
Mirisnya, fasilitas pasar yang seharusnya disediakan pemerintah, terpaksa diperbaiki dengan uang kantong pribadi para pedagang kecil ini.
Sambil menunjuk ke arah tiang beton dan lantai tegel tempatnya berjualan, Mama Dominika merinci biaya yang ia keluarkan demi memperbaiki tempat ia berjuang menghidupi ekonomi keluarga.
“Itu biaya tegelnya 150 ribu, semen 30 ribu, jadi 180 ribu. Ditambah jasa orang yang pasang itu 50 ribu,” jelasnya. Jika ditotal, ia harus merogoh kocek sebesar Rp230.000 hanya agar tempatnya berjualan layak digunakan.
“Iya, perbaiki sendiri. Ini yang beton di tiang-tiang ini, kami yang buat sendiri. Mama lihat toh? Lihat ini,” tambahnya sambil memperlihatkan hasil swadaya mereka.
Menenun Masa Depan dari Bara Api Subuh
Setiap hari dari Senin hingga Sabtu, perjuangan Mama Dominika dimulai saat dunia masih terlelap. “Mama sudah mulai bakar dari jam dua subuh. Bakar ubi di rumah lalu dibawa ke Pasar Karang,” tuturnya.
Jika persediaan ubi sedang banyak, ia bisa membakar hingga 20 buah, namun jika sulit, ia hanya membawa 10 buah.
Sekitar jam setengah tujuh pagi, ia sudah bersiap di depan rumah. Namun, transportasi di wilayahnya bukanlah perkara mudah. Terkadang ia harus menunggu hingga jam sepuluh pagi karena ojek dan angkutan umum yang jarang melintas. Sekali jalan, ia harus membayar ojek Rp35.000, dan pulangnya menggunakan kendaraan umum sebesar Rp20.000. Total biaya transportasi Rp55.000 per hari adalah beban berat, mengingat keuntungan yang ia bawa pulang sangatlah tipis.

Mama Dominika You bersama mama Papua lainnya yang berjualan Ubi di Pasar Karang. (Foto: Kristin Rejang/Sasagupapua)
“Ubi ini kalau habis, dapat 100 sampai 70 ribu. Tapi kalau tidak laku, Mama makan sendiri atau kasih ke keluarga,” ungkapnya. Jika dihitung secara matematis, keuntungan bersihnya terkadang hanya Rp5.000 atau Rp10.000 saja—bahkan terkadang impas hanya untuk ongkos dan modal ubi berikutnya. Namun, dari recehan seribu dan dua ribu rupiah yang dikumpulkan dengan sabar itulah, keajaiban terjadi.
Cinta Seorang Ibu Tunggal
Mama Dominika adalah seorang pejuang tunggal. Suaminya telah berpulang sejak anak-anaknya masih bayi. Di atas pundaknya sendiri, ia memikul beban membesarkan dua buah hati hingga jenjang pendidikan tinggi di Universitas Satya Wiyata Mandala (USWIM). 26 tahun sudah Pasar Karang menjadi cerita perjuangan mama Dominika yang menjadikannya seorang ibu yang tegar dan kuat.
“Sudah lama sekali Mama di sini (Pasar Karang-red) Mungkin dari sekitar tahun 2000-an. Karena anak Mama juga sudah Mama biayai dari hasil jualan di sini,” kenangnya dengan nada bangga. Meski kini anak-anaknya telah sarjana, kehidupan tetap penuh tantangan.
Anak laki-lakinya mengalami kecelakaan yang menyebabkan kaki patah dan tangan mengecil. Meski dengan keterbatasan fisik, sang putra tetap membantu Mama Dominika membuka kebun baru hanya dengan tangan kirinya yang sehat. Sementara anak perempuannya mencoba mengadu nasib dengan membuka lapak kecil menjual rambut palsu dan pinang di depan rumah, sembari menunggu peluang kerja yang lebih baik.
Harapan yang Belum Tersentuh
Lahir pada tahun 1966, perempuan berusia 60 tahun asal Paniai ini mengaku hampir tidak pernah merasakan kehadiran Otsus yang katanya berpihak untuk Orang Asli Papua. Bahkan mama Dominika tak juga menikmati manisnya bantuan dari daerah bahkan negara secara nyata dalam usahanya. Selama ini, ia bersama para pedagang ubi di Pasar Karang itu hanya mengandalkan bantuan dari dana kampung yang cair enam bulan sekali.

Seorang mama Papua sedang melayani pembeli ubi bakar di Pasar Karang, Nabire. (Foto: Kristin Rejang/Sasagupapua)
“Mama bilang memang pemerintah atau negara selama ini tidak ada perhatian, bahkan mama tidak tau Otsus itu. Ini biasanya bantuan dari orang lain, termasuk dana kampung itu Mama ambil memang langsung. Tidak banyak, sekitar seratus atau dua ratus ribu dalam enam bulan sekali,” ungkapnya.
Di penghujung percakapan, terselip sebuah harapan sederhana namun mendalam dari balik meja ubi bakar itu. Ia ingin pemerintah tidak hanya melihat dari jauh, tapi benar-benar menyentuh masyarakat kecil yang hidupnya bergantung pada noken dan ubi bakar.
“Harapannya ke depan pemerintah bisa lebih memperhatikan, langsung menyasar ke masyarakat yang benar-benar membutuhkan,” tutupnya. Hari itu, Mama Dominika kembali merapikan dagangannya. Meski matanya masih terasa perih, semangatnya untuk bertahan hidup tetap menyala, lebih panas dari bara api yang membakar ubinya setiap subuh.








