Menu ✖

Mode Gelap

Hiburan · 17 Okt 2026 12:33 WIT

Bertho Gobai: LMB Band Bawa Pesan Filosofi Suku Mee ‘Hidup Dari Sumur Sendiri’ di Panggung PRF XI


LMB Band saat tampil di panggung PRF XI. (Foto: Decky Mote/Panitia PRF XI) Perbesar

LMB Band saat tampil di panggung PRF XI. (Foto: Decky Mote/Panitia PRF XI)

SASAGUPAPUA.COM, Papua Tengah — Grup musik asal Paniai, Laki-laki Meepago Brother (LMB) Band, berhasil mengguncang panggung hari pertama Papua Reggae Festival (PRF) XI yang digelar di Nabire, Papua Tengah, Jumat (16/10/2026). Penampilan memukau dari grup band ini sukses membuat para penonton larut dalam alunan musik dan bergoyang bersama.

Usai menghentak panggung PRF XI, Vokalis LMB Band, Bertho Gobai, membagikan cerita mendalam di balik lagu-lagu bahasa daerah dari suku Mee yang mereka bawakan malam itu. Bertho menjelaskan penampilan mereka dibuka dengan sebuah lagu bernuansa duka mendalam.

“Lagu yang pertama menceritakan tentang kematian seorang saudara laki-laki. Saudaranya yang lain berada di daerah atau kota yang berbeda, sehingga tidak bisa hadir saat pemakaman. Mereka baru mendengar kabar duka tersebut dan mengetahui letak makamnya hanya melalui cerita atau penyampaian dari orang lain,” ujar Bertho.

Melanjutkan penampilannya, LMB Band menyanyikan lagu karya cipta mereka sendiri yang mengangkat tema perantauan dan pertemuan kembali.

- Advertising -
- Advertising -

“Lagu kedua menceritakan tentang hilangnya seorang saudara yang pergi merantau dan tidak kunjung kembali. Setelah mereka sama-sama berusia lanjut, barulah mereka dipertemukan kembali. Ada kesan yang sangat mendalam bahwa saudara yang selama ini dikira hilang dan mungkin tidak bisa ditemui lagi, akhirnya bisa bertemu kembali,” ungkapnya.

Tak berhenti di situ, pesan moral dan ajakan kebersamaan turut disampaikan lewat tembang ketiga dan lagu penutup mereka.

“Lagu ketiga mengandung filosofi hidup suku Mee, yaitu kita harus ‘minum dari sumur sendiri’. Maknanya, jika ingin hidup, kita tidak boleh mengambil milik orang lain. Kita harus hidup dari sumur dan tungku kita sendiri,” tegas Bertho.

“Kemudian yang keempat kami membawakan lagu bergaya medley Waita. Waita adalah sebuah ajakan, di mana ketika masyarakat suku Mee di wilayah Meepago berkumpul di suatu tempat dan sedang berdansa, lagu ini menjadi ajakan untuk mari kita berdansa bersama-sama,” lanjutnya.

Mengenai tema festival tahun ini yang mengangkat seni dan budaya lokal serta mewajibkan penggunaan bahasa daerah, Bertho menyambutnya dengan sangat positif. Menurutnya, hal ini menjadi wadah untuk merawat identitas diri yang selama ini sering terabaikan.

“Saya melihat ada sisi yang sangat positif, terutama untuk seni budaya lokal dan bahasa daerah yang selama ini kurang terpelihara. Kebanyakan dari kita selama ini menyanyikan lagu dalam bahasa orang lain, seperti bahasa Fiji atau bahasa Inggris. Namun kali ini, kita merasa bahwa inilah diri kita, inilah identitas kita yang sebenarnya, dan hari ini sudah kita sampaikan lewat lagu. Harapan kami ke depan, festival PRF selanjutnya terus menyisipkan unsur kultur dan budaya seperti ini,” tuturnya.

Penyelenggaraan PRF XI di Nabire kali ini juga mendapatkan apresiasi setinggi-tingginya dari Bertho. Pria yang mengaku sudah empat kali berpengalaman tampil di panggung Papua Reggae Festival ini menilai helatan tahun ini sebagai yang terbaik.

“Penyelenggaraan kali ini luar biasa. PRF yang kami ikuti selama ini tidak pernah sekeren ini, terlebih dengan banyaknya grup band yang hadir. Pelaksanaan di Nabire, Papua Tengah ini adalah sesuatu yang luar biasa, dan panitia sangat bagus. Dari manajemen LMB Band, kami memastikan pelayanan mulai dari Liaison Officer (LO) hingga panitia semuanya sangat memuaskan,” puji Bertho.

Menutup wawancaranya, Bertho menyampaikan pesan dan harapannya bagi masa depan industri musik di tanah Papua agar tetap berakar pada tradisi di tengah gempuran zaman.

“Pesan saya ke depan, karena saat ini kita bicara tentang budaya dan identitas, maka penggunaan bahasa daerah harus menjadi hal yang paling utama. Selain itu, dengan hadirnya modernisasi, harus ada cipta rasa baru yang dipadukan secara selaras dengan budaya dan identitas itu sendiri. Ke depannya harus ada sentuhan kultur pribadi dari masing-masing kabupaten,” pungkasnya.

Artikel ini telah dibaca 1 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Dalton Maisini Drummer yang Masih SD Tampil Memukau Iringi Intan Sunrise di PRF XI: Bermula Dari Pelayanan di Gereja

17 Oktober 2026 - 21:16 WIT

Air Mata Nurhana Yarinap di PRF: Saat Musik Menjadi Suara Hati dan Identitas Orang Papua

17 Oktober 2026 - 17:01 WIT

Ketua KORK: Meki Nawipa Gubernur Kedua yang Beri Ruang Seniman Reggae Papua

17 Oktober 2026 - 02:02 WIT

Musisi Manokwari Sagoo Roots Gaungkan Pesan Pelestarian Pangan Lokal dan Alam Papua di PRF XI

17 Oktober 2026 - 01:41 WIT

Bawa Misi Pelestarian Budaya, Musisi Insos Ori Apresiasi Peran Pemprov Papua Tengah di PRF XI

17 Oktober 2026 - 01:19 WIT

Musisi Papua Pegunungan Gaungkan Jati Diri Budaya dan Puji Fasilitas Panitia di Panggung PRF XI Nabire

16 Oktober 2026 - 22:28 WIT

Trending di Hiburan