Menu ✖

Mode Gelap

Hiburan · 16 Okt 2026 19:03 WIT

Perdana Tampil di PRF XI di Nabire, Grup Band Po Nindi Bawa Suara Pengungsi Nduga


Grup Band Po Nindi saat  tampil di PRF XI Nabire. (Foto: Decky Mote/Panitia PRF XI) Perbesar

Grup Band Po Nindi saat tampil di PRF XI Nabire. (Foto: Decky Mote/Panitia PRF XI)

SASAGUPAPUA.COM, Papua Tengah — Grup band reggae asal Papua Pegunungan, Po Nindi, tampil memukau pada hari pertama perhelatan Papua Reggae Festival (PRF) XI yang digelar di Nabire, Jumat (16/10/2026).

Dalam penampilan perdananya di ajang musik bergengsi tersebut, Po Nindi membawakan tiga lagu berbahasa daerah yang sarat akan makna kehidupan, cinta, hingga kritik sosial.

Ketua Grup Band Po Nindi, Gipson Kogoya, mengungkapkan pesan di balik tiga lagu yang mereka bawakan di atas panggung.

“Lagu pertama menceritakan tentang kisah perjalanan cinta yang rumit, di mana sang pria menegaskan bahwa dirinya akan selalu ada untuk mendukung dan mendorong pasangannya dari belakang. Lagu kedua bercerita tentang kepemilikan dan kesetiaan, bahwa pasangan tersebut sudah menjadi milik seutuhnya,” ujar Gipson usai tampil.

- Advertising -
- Advertising -

Sementara itu, lagu ketiga mengusung tema sosial yang cukup mendalam mengenai kondisi masyarakat di daerah asal mereka, Kabupaten Nduga.

“Lagu ketiga menceritakan kondisi masyarakat kami di Nduga yang saat ini menjadi pengungsi. Kami menyuarakan bagaimana mereka mencari perlindungan, namun di tempat yang seharusnya memberi perlindungan, mereka justru tidak diterima dengan baik. Hingga saat ini, masyarakat pengungsi Nduga masih tersebar di mana-mana, ada yang di Timika, Wamena, hingga Lanny Jaya. Kami ingin menyampaikan jeritan hati mereka lewat lagu ini,” jelasnya.

Tak hanya lewat alunan musik reggae, penampilan Po Nindi juga diwarnai dengan pembacaan puisi kritis yang ditujukan kepada pemerintah. Melalui puisi tersebut, Gipson menyampaikan dua harapan besar untuk masa depan Tanah Papua dan masyarakat pengungsi.

“Meskipun saat ini Papua telah dimekarkan menjadi beberapa provinsi setelah adanya Daerah Otonomi Baru (DOB), kami berharap masyarakat Papua tidak terpecah belah. Kita harus tetap menjaga persatuan sebagai Papua yang satu, baik masyarakat pegunungan maupun pantai,” tegas Gipson.

Ia juga menyampaikan imbauan mendesak kepada pihak pemerintah daerah terkait nasib para pengungsi. “Kami meminta dengan sangat kepada pemerintah, khususnya Pemerintah Kabupaten Nduga dan Pemerintah Provinsi Papua Pegunungan, untuk segera mengembalikan masyarakat pengungsi ke daerah asal mereka. Biarkan mereka kembali ke rumahnya agar dapat hidup layak sebagai manusia seperti kita semua,” tambahnya.

Bagi Po Nindi, tampil di panggung Papua Reggae Festival XI merupakan impian yang akhirnya menjadi kenyataan. Gipson menceritakan bahwa dulunya mereka hanya bisa menyaksikan festival ini sebagai penonton, hingga akhirnya tergerak untuk membentuk grup band sendiri.

“Dahulu kami hanya penonton. Namun melihat teman-teman lain tampil di panggung PRF, kami merasa termotivasi dan tertantang. Kami tahu anak-anak di daerah kami punya banyak bakat. Tahun lalu kami belum sempat ikut karena baru terbentuk, dan Puji Tuhan, tahun ini menjadi kali pertama kami bisa berdiri dan tampil di panggung megah ini. Ini adalah salah satu mimpi besar kami, dan kami sangat senang serta bangga. Semoga tahun depan kami bisa kembali tampil di panggung yang sama,” ungkapnya penuh rasa syukur.

Menutup wawancara, Gipson menyampaikan rasa terima kasih mendalam kepada seluruh pihak yang telah mendukung perjalanan karier musik Po Nindi hingga bisa menginjakkan kaki di Nabire.

“Ucapan terima kasih yang utama kami persembahkan kepada Tuhan Yesus Kristus yang telah menyertai perjalanan kami dari Nduga dan Wamena hingga tiba di tempat ini. Kami juga mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada Dewan Kesenian Provinsi Papua Pegunungan, panitia lokal, Kakak Ema beserta seluruh jajaran panitia, serta KORK yaitu Kakak Teddy dan kawan-kawan,” tuturnya.

Ia juga mengapresiasi dukungan dari para musisi senior dan tim pendamping selama festival berlangsung.

“Terima kasih kepada kakak-kakak senior di Papua Pegunungan yang tidak pernah membiarkan kami dan selalu memberikan dorongan meskipun kami masih baru. Kami sangat bangga bisa hadir di tengah-tengah mereka. Tak lupa juga terima kasih kepada tim LO yang setia mendampingi kami dari kemarin hingga hari ini,” pungkas Gipson.

Artikel ini telah dibaca 36 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

UMKM OAP Kantongi Omset Tembus 131 Juta,Teddy Pekei: Terbesar Sepanjang Sejarah PRF

18 Oktober 2026 - 03:55 WIT

Dalton Maisini Drummer yang Masih SD Tampil Memukau Iringi Intan Sunrise di PRF XI: Bermula Dari Pelayanan di Gereja

17 Oktober 2026 - 21:16 WIT

Air Mata Nurhana Yarinap di PRF: Saat Musik Menjadi Suara Hati dan Identitas Orang Papua

17 Oktober 2026 - 17:01 WIT

Bertho Gobai: LMB Band Bawa Pesan Filosofi Suku Mee ‘Hidup Dari Sumur Sendiri’ di Panggung PRF XI

17 Oktober 2026 - 12:33 WIT

Ketua KORK: Meki Nawipa Gubernur Kedua yang Beri Ruang Seniman Reggae Papua

17 Oktober 2026 - 02:02 WIT

Musisi Manokwari Sagoo Roots Gaungkan Pesan Pelestarian Pangan Lokal dan Alam Papua di PRF XI

17 Oktober 2026 - 01:41 WIT

Trending di Hiburan