Menu ✖

Mode Gelap

Umum · 9 Sep 2026 20:02 WIT

Dampak El Nino: Krisis Air Terjadi di Puncak, Warga Rela Mengantre hingga Tengah Malam


					Warga Puncak saat mengantre air, Rabu (9/9/2026). Foto: Dok Kiriman Tokoh Intelektual Kabupaten Puncak, Herdi Alom. Perbesar

Warga Puncak saat mengantre air, Rabu (9/9/2026). Foto: Dok Kiriman Tokoh Intelektual Kabupaten Puncak, Herdi Alom.

SASAGUPAPUA.COM, Ilaga — Dampak cuaca ekstrem El Nino memicu krisis air bersih yang kian parah di Distrik Ilaga, Kabupaten Puncak, Provinsi Papua Tengah.

Fenomena kekeringan yang diperparah oleh embun beku penghancur tanaman pangan serta polusi asap kebakaran hutan membuat sumber mata air pegunungan menyusut drastis selama lebih dari dua bulan terakhir.

Berdasarkan laporan warga melalui Tokoh Intelektual Kabupaten Puncak, Herdi Alom kepada media ini, satu-satunya sumber air bersih yang diandalkan warga berasal dari kawasan kaki gunung Kampung Wiringame, Kampung Kago, Distrik Ilaga. Namun, jarak yang amat jauh dan keterbatasan sarana pipa membuat sebagian besar masyarakat kesulitan mengaksesnya secara langsung.

“Iya, itu sumber airnya dari Kampung, itu tepatnya di Distrik Ilaga juga tapi di kepala air. Ada selang yang dipasang oleh pemerintah zaman kepemimpinan Willem Wandik. Dari ibu kota Ilaga ini sumber airnya satu itu, selang besar. Jadi mereka sambung pakai selang-selang kecil di sumber air yang selang besar itu,” ujar Tokoh Intelektual Kabupaten Puncak, Herdi Alom, saat diwawancarai pada Rabu (9/9/2026).

- Advertising -
- Advertising -

Herdi menjelaskan bahwa minimnya akses selang pemandiri membuat warga sipil harus menempuh perjalanan sangat jauh demi mendapatkan air. Hal ini menciptakan ketimpangan akses antara pejabat, pengusaha, dan masyarakat umum.

“Kalau pejabat yang punya posisi kepala dinas, sekretaris, bendahara, dan teman-teman pengusaha dari Nusantara, mereka dapat air. Cuman masyarakat ini yang menjadi kendala sekarang. Jadi masyarakat itu ada yang ambil airnya di kediaman Pak Sekda Nenu Tabuni,” tutur Herdi.

Kondisi tersebut memaksa masyarakat mengantre saban hari demi memenuhi kebutuhan dasar harian mereka.

“Mereka antre dari pagi sampai paling ramai itu sore sampai malam lah, sampai jam 10-11,” tambah Herdi.

Jarak menuju titik sumber mata air utama di pegunungan pun dinilai sangat menyulitkan warga jika harus mengambilnya sendiri tanpa sambungan pipa yang memadai.

“Jauh, bukan dekat. Kalau dihitung, di sini bisa dapat 10 sampai 20 kilo, sampai bahkan bisa 50 juga kalau di atas, di sumber air di atas. Itu paling jauh sekali. Kita kemarin pasang selang itu 9 roll baru sampai. Orang-orang yang punya pekerjaan baru bisa beli selang 8 roll, 9 roll baru mereka bisa sambung. Tapi kalau masyarakat kasihan, itu mengalami kendala,” ungkap Herdi.

Selain krisis air, Herdi juga menyoroti krisis ekonomi dan tidak berfungsinya sarana penerangan umum yang sudah berlangsung lama di kawasan tersebut.

“Kendala krisis di Ilaga ini banyak, terkait dengan kekeringan, kebakaran hutan, sampai dengan salju. Kemudian lampu, di Ilaga ini berharapnya pakai PLTA, tapi PLTA ini sudah 2 tahun ini tidak digunakan sampai dengan sekarang,” tegas Herdi.

Pemerintah Daerah Kabupaten Puncak telah menetapkan status tanggap darurat bencana kekeringan, hujan es, dan kebakaran hutan selama 14 hari sejak akhir Agustus 2026. Penetapan ini sangat penting mengingat tingginya risiko dehidrasi serta ancaman penyakit saluran pencernaan bagi masyarakat sipil.

“Kebutuhan air ini yang kami berusaha kasih naik di story WhatsApp, di Facebook, TikTok. Kami sangat berharap ada perhatian serius untuk bantuan bak air bersih, selang, pipa, dan jaringan listrik di Ilaga,” pungkas Herdi menegaskan harapan masyarakat Puncak.

Artikel ini telah dibaca 7 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Seminar IA-ITB Bahas Peran Investasi dan SDM Lokal untuk Pembangunan Papua

22 Oktober 2026 - 11:35 WIT

KNPB: Kunjungan Sekjen PBB Harus Jadi Momentum Buka Akar Masalah Papua

20 Oktober 2026 - 17:19 WIT

WALHI Catat 8.324 Titik Panas di Papua, Sebagian Besar di Area Proyek

17 Oktober 2026 - 11:18 WIT

Belajar Pertambangan Modern, 200 Mahasiswa Uncen Antusias Ikuti Program PTFI

17 Oktober 2026 - 02:24 WIT

APELPA Apresiasi DPRK Mimika: Saatnya Perda Tenaga Kerja Lokal Harus Dilaksanakan

15 Oktober 2026 - 18:25 WIT

Soal Pelanggaran HAM di Papua, PGBP: Komisioner PBB Harus Lihat Realitas Lapangan

13 Oktober 2026 - 18:53 WIT

Trending di Umum