SASAGUPAPUA.COM, Nabire – Semburat jingga mulai membasuh langit Pantai Nabire saat jam menunjukkan pukul 17.00 WIT. Di tengah deru ombak dan riuh warga yang mencari angin sore, seorang pemuda menggunakan baju persipura tampak sibuk menata peralatan.
Bukan jaring atau pancing yang ia bawa, melainkan kamera mirrorless, lensa bongsor, dan tiang lampu flash yang berdiri tegak menantang redupnya cahaya matahari.
Ia adalah Durry Dogomo. Bagi sebagian orang, Durry mungkin hanya fotografer keliling, namun di mata pengunjung Pantai Nabire.
Durry tak sendiri, ia juga bersama rekan fotografernya, Decky Mote. Mereka berdua adalah penyihir momen yang mampu mengabadikan keindahan sunset dalam satu kedipan rana.

Durry Dogomo saat sedang mentransfer hasil foto ke pelanggan. (Foto: Kristin Rejang/Sasagupapua)
“Nama panggilan saya di tempat ini sebagai Foto Durry. Nama saya Durry Dogomo. Mengapa Durry? Karena Dogomo itu kalau diartikan ke bahasa Indonesia berarti duri. Jadi, itu gabungan nama panggilan dan marga saya,” ujar Durry sambil tersenyum ramah di sela-sela kesibukannya.
Kolaborasi Dua Sahabat di Bawah Langit Papua
Kehadiran studio alam di pinggir pantai ini bukan tanpa rencana. Durry berkisah bahwa ide ini muncul saat ia melihat suasana pantai yang terang benderang oleh lampu videotron. Ia berpikir betapa indahnya jika ada booth foto di sana. Namun, mimpi itu sempat tertunda karena keterbatasan alat.
Titik balik terjadi ketika ia bertemu Decky Mote. “Kami di sini bukan saya sendiri, tapi dengan teman, Decky Mote. Decky sudah punya lampu flash. Kami duduk sama-sama, komunikasi, ‘Bagaimana kalau kita buka di bawah (Pantai Nabire) ? Ko punya alat toh? Sa bawa juga.’ Akhirnya kami jalan bersama,” kenang Durry.
Meski baru berjalan sekitar dua minggu, antusiasme warga Nabire luar biasa. Jika di minggu pertama suasana masih terasa sepi karena kurangnya promosi, kini pemandangan orang yang rela antre demi mendapatkan giliran difoto menjadi pemandangan lumrah. “Mungkin mereka lihat postingan kita di media sosial, makanya mulai agak ramai sampai malam begini,” tambahnya.
Dari Piara Babi Hingga Kamera Jutaan Rupiah
Di balik kepiawaiannya membidik lensa, tersimpan kisah perjuangan yang menggetarkan hati. Durry bukanlah pemuda yang lahir dengan kemewahan. Kecintaannya pada fotografi tumbuh secara otodidak sejak SMA. Demi memiliki kamera pertama, ia harus melakoni pekerjaan yang jauh dari dunia seni: memelihara babi.
“Bisa dapat beli kamera itu berawal dari saya waktu masih SMA piara babi. Waktu mau pergi kuliah, saya jual dua ekor babi. Uangnya saya pakai untuk bayar beasiswa dan pendaftaran sekolah. Sisanya, ada dua juta rupiah, saya pakai beli kamera Canon 1100D bekas dari seorang kakak. Itu kamera paling standar, paling bawah,” ungkap Durry dengan nada bangga.
Perjalanannya tidak berhenti di sana. Ia sempat mencicipi pahitnya dunia kerja tanpa bayaran demi ilmu. Tiga kali ia mengikuti seniornya mengerjakan proyek besar tanpa upah sepeser pun, hanya demi pelajaran. “Paling cuma dapat 50 ribu, padahal saya tahu fee senior saya besar. Tapi saya ikut saja, yang penting dapat ilmunya. Baru setelah yang keempat kali, saya berani ambil job sendiri.”
Kegigihan itu membuahkan hasil. Dari tabungan demi tabungan, ia terus meng-upgrade senjatanya. Dari Canon 600D, ke 7D, hingga kini ia menggenggam Mirrorless M50 Mark II dengan lensa “Sapu Jagat” 24-70mm f/2.8 yang harganya mencapai belasan juta rupiah.
Profesionalisme di Balik Harga Sepuluh Ribu
Banyak pengunjung yang mungkin terkejut mengetahui bahwa harga satu kali take foto hanya dibanderol Rp 10.000. Dengan peralatan profesional yang nilainya mencapai puluhan juta, harga tersebut tergolong sangat murah.
“Menurut saya itu paling murah, karena mulai dari bodi sampai lensa ini mahal, Kak. Kamera ini saja kalau barunya lima belas juta. Belum lensa dan lampu flash yang harganya jutaan. Tapi kami ingin semua orang bisa punya foto bagus,” jelasnya.
Operasional mereka biasanya berakhir pukul 20.00 WIT, saat pengunjung mulai sepi.
Durry juga menyarankan pengunjung jika ingin mendapatkan hasil yang bagus, bisa datang pada sore hari sebelum mata hari terbenam.
“Itu kita juga sudah di lokasi karena mengingat matahari disini tenggelam mataharinya agak lambat ya. Makanya kalau kita foto pada saat siang kalau kita menggunakan lampu flash dia soft, jadi dia putih. Makanya kami mulai jaga itu di jam lima. Jam lima kami sudah mulai pasang sampai jam delapan, Kak. Kalau sudah mulai sepi kami pulang begitu. Kira-kira sampai jam delapan orang sudah mulai sepi, masuk jam sembilan tuh sudah mulai sepi, jadi kami sudah pulang itu,” jelasnya.
Bagi Durry, pekerjaan ini bukan sekadar hobi. Meski ia adalah lulusan Sarjana Hukum dan atlet Sepak Takraw yang pernah mewakili Papua di ajang Pra PON, fotografi adalah profesi masa depannya.
“Pesan saya untuk generasi muda: apapun yang kita perbuat, yang penting halal dan tidak merugikan orang lain. Talenta yang Tuhan kasih itu harus diasah karena talenta akan mendatangkan uang. Jangan pernah bosan dengan hasil hari ini, karena kalau pisau tidak diasah, dia tidak akan tajam,” pesannya menutup pembicaraan.
Kini, Durry dan Decky punya mimpi besar. Sambil terus menabung dari lembaran sepuluh ribu rupiah di Pantai Nabire, ia bertekad membangun sebuah studio foto besar miliknya sendiri di masa depan. Di bawah langit Nabire, mimpi itu sedang ia potret, satu demi satu.
















