Menu

Mode Gelap

Lingkungan · 10 Jan 2026 21:13 WIT

Gebrakan 10 Januari: Aksi Terpuji Mapala USWIM Nabire ‘Kepung’ Dogiyai dengan Pohon Kayu Besi dan Matoa


Tim Mapala USWIM Nabire saat berfoto bersama dalam momen hari lingkungan hidup. (Foto: Dok USWIM Nabire) Perbesar

Tim Mapala USWIM Nabire saat berfoto bersama dalam momen hari lingkungan hidup. (Foto: Dok USWIM Nabire)

SASAGUPAPUA.COM, Dogiyai – Tepat pada peringatan Hari Lingkungan Hidup Nasional, Sabtu, 10 Januari 2026, suasana di Kabupaten Dogiyai tampak berbeda ketika ratusan mahasiswa dari Mahasiswa Pecinta Alam (MAPALA) Universitas Satya Wiyata Mandala (USWIM) Nabire turun ke jalan tepatnya di Kabupaten Dogiyai.

Dengan semangat yang membara sejak pukul 08.30 WIT, mereka memulai aksi peduli lingkungan yang melibatkan sekitar seribu peserta untuk membersihkan sampah dan menanam pohon.

Penanggung jawab kegiatan, Oktopianus Bouya, menegaskan bahwa gerakan ini adalah panggilan jiwa bagi para pemuda di Papua Tengah.

“Kita ingin menunjukkan bahwa peduli lingkungan bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga seluruh elemen masyarakat, terutama pemuda,” tegas Oktopianus di sela-sela kegiatan.

- Advertising -
- Advertising -

Ia juga menambahkan bahwa aksi ini memiliki makna filosofis yang lebih dalam bagi masa depan daerah tersebut. “Menjaga bumi berarti menjaga kehidupan itu sendiri, dan aksi ini adalah simbol dari kesadaran baru yang harus kita pupuk bersama,” tambahnya dengan penuh keyakinan.

Di sisi lain, Ketua MAPALA USWIM Nabire, Paiz, menjelaskan bahwa fokus utama mereka adalah memberikan dampak instan sekaligus investasi jangka panjang bagi ekosistem Dogiyai melalui penanaman 81 bibit pohon Kayu Besi dan Matoa.

“Melalui aksi bersih-bersih dan penanaman pohon ini, kami berharap dapat menginspirasi masyarakat untuk turut menjaga kebersihan dan kelestarian alam secara mandiri,” ujar Paiz saat mengarahkan kelompok kerja di pinggir jalan raya.

Ia menekankan bahwa kehadiran mahasiswa adalah sebagai pematik agar masyarakat tidak lagi abai terhadap kerusakan lingkungan yang mulai mengancam.

Okto Bouya kembali mengingatkan bahwa keterlibatan seluruh lapisan masyarakat, baik Orang Asli Papua (OAP), warga non-OAP, hingga para pedagang, merupakan kunci keberhasilan transformasi ekologi di Dogiyai.

“Pesan yang tersirat jauh lebih dalam daripada sekadar kebersihan; ini adalah panggilan moral untuk ikut serta dalam tanggung jawab ekologis yang selama ini sering diabaikan,” jelas Okto saat mengajak para pemilik kios untuk membersihkan area sekitar mereka.

Ia berpendapat bahwa Dogiyai saat ini sedang berada di persimpangan jalan antara kemajuan ekonomi dan ancaman polusi, sehingga tindakan sekecil apa pun sangatlah berarti.

Lebih lanjut, Okto menggambarkan aksi memungut sampah ini sebagai sebuah gerakan perubahan yang mendasar bagi karakter bangsa.

Momen Mapala USWIM saat melakukan aksi bersih-bersih dan penanaman pohon di Dogiyai. (Foto: Dok Mapala USWIM Nabire)

“Menanam pohon berarti menanam harapan, dan membersihkan sampah berarti membersihkan kesadaran kita semua,” tuturnya secara puitis namun tegas.

Ia berharap momentum ini membuat masyarakat tidak hanya mencintai alam sebagai konsep di atas kertas, tetapi memeluknya sebagai bagian dari identitas diri.

“Bumi yang bersih adalah warisan paling berharga yang bisa kita berikan kepada generasi Dogiyai mendatang, dan itu bukanlah mimpi jika kita semua bergerak sekarang,” pungkasnya.

Berikan Komentar
Artikel ini telah dibaca 17 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Pemuda Adat Knamlas dan Bol Saris Resmi Dikukuhkan Jaga Warisan Leluhur

4 Maret 2026 - 00:27 WIT

Tolak Kelapa Sawit, Masyarakat Adat Sorsel: Hutan Kami Kecil dan Milik Semua Marga

3 Maret 2026 - 22:48 WIT

WALHI Papua Kecam Perpanjangan Izin Freeport di AS: Negara dan Perusahaan Khianati Orang Asli Papua

24 Februari 2026 - 13:40 WIT

Gugat Menteri Kehutanan, Masyarakat Adat Papua Selatan Tuntut Pembatalan Alih Fungsi Hutan

12 Februari 2026 - 20:51 WIT

Jeritan dari Biak : Suara Hati GKI dan Masyarakat Adat Menjaga Ruang Hidup -Menolak Menjadi Asing di Tanah Sendiri

6 Februari 2026 - 18:04 WIT

Dukungan Penuh LBH Papua atas Sikap PGI: Abaikan Hasil Sidang PGI Berarti Mengabaikan Hak Asasi di Papua

5 Februari 2026 - 14:41 WIT

Trending di Lingkungan