Oleh: Ewil M Woloin (Pemuda Adat Knasaimos dan Aktivis Lingkungan)
Bagi perempuan adat Knasaimos di Sorong Selatan, Papua Barat Daya, hutan bukanlah sekadar hamparan pohon atau sekumpulan kayu berharga. Hutan adalah ibu, rahim, dan garis hidup yang menopang napas mereka dari generasi ke generasi.
Ketika fajar menyingsing dan kabut tipis masih menyelimuti kanopi hijau, jejak kaki para perempuan adat mulai tercetak di atas tanah lembap.
Bagi mereka, berjalan masuk ke dalam hutan sama seperti berjalan ke rumah yang menyediakan segala kebutuhan hidup.
Hutan bertindak sebagai pasar tradisional yang disediakan langsung oleh alam. Perempuan Knasaimos tidak perlu mengandalkan dunia luar untuk menghidupi keluarga mereka, karena pohon sagu yang menjadi tiang utama pangan tumbuh subur di sana.
Bersama-sama, mereka meramu sagu untuk mengisi piring-piring di rumah, sambil mengumpulkan sayur lilin, pakis, jamur, serta berburu udang kali.
Selain sebagai pemenuh pangan, hutan adalah apotek hijau yang menyembuhkan.
Ketika ada anggota keluarga yang jatuh sakit, perempuan adat Knasaimos akan bergerak mengandalkan pengetahuan turun-temurun tentang tanaman obat. Mereka tahu pasti daun apa yang harus ditumbuk untuk meredakan demam, kulit kayu mana yang bisa mengobati luka, hingga akar apa yang dapat memulihkan stamina.
Di bawah rindangnya pohon matoa dan pala hutan, perempuan Knasaimos juga menenun kembali ikatan budaya mereka. Mereka mengumpulkan kulit kayu dan pandan hutan untuk dianyam menjadi noken serta tikar, sambil membisikkan cerita rakyat kepada anak-cucu mereka.
Hutan adalah ruang hidup tempat identitas mereka dirawat agar tidak punah ditelan zaman.
”Hutan adalah mama yang menyusui kami. Jika hutan ini rusak atau hilang, maka hilang pulalah separuh jiwa dan masa depan anak-cucu kami.” Ungkap mama Alfonsina Sagisolo.
Oleh karena itu, ancaman terhadap hutan dari pembalakan maupun ekspansi lahan skala besar, adalah ancaman langsung terhadap eksistensi perempuan adat.
Ketika pohon-pohon tumbang dan sumber air mengering, perempuanlah yang paling pertama menanggung bebannya. Di tangan-tangan kokoh para perempuan Knasaimos inilah, penjagaan wilayah adat terus disuarakan, karena mereka tahu bahwa merawat hutan adalah satu-satunya cara untuk merawat kehidupan itu sendiri.







