Menu

Mode Gelap

Umum · 2 Jul 2026 17:06 WIT

Mengurus Kebun, Bukan Sekadar Menjaga Pagar: Catatan John Gobai tentang Resolusi Konflik Papua Tengah


Wakil Ketua IV DPR Papua Tengah, John Gobai. (Foto: Kristin Rejang/Sasagupapua) Perbesar

Wakil Ketua IV DPR Papua Tengah, John Gobai. (Foto: Kristin Rejang/Sasagupapua)

SASAGUPAPUA.COM, Papua Tengah – Konflik bersenjata yang terus membayangi wilayah pegunungan Papua Tengah memicu keprihatinan mendalam dari berbagai pihak.

Wakil Ketua IV DPR Papua Tengah, John Gobai, memberikan sebuah refleksi mendalam mengenai penanganan situasi di wilayah tersebut dengan menggunakan analogi masyarakat kampung, yakni tentang pentingnya mengurus kebun ketimbang hanya sibuk membetulkan pagar.

Dalam pandangan masyarakat kampung, jika sebuah kebun tidak diurus dengan baik, maka rumput-rumput liar di dalamnya akan menjalar naik ke pagar. Akibatnya, jika pagar tersebut terbuat dari kayu, kayu itu akan membusuk dan lambat laun roboh.

Analogi kebun dan pagar ini dinilai sangat tepat untuk melihat bagaimana pemerintah mengurusi sebuah daerah yang sedang dilanda konflik akibat adanya kelompok yang terus berjuang karena perbedaan ideologi dengan pemerintahan yang sah.

- Advertising -
- Advertising -

John Gobai mengungkapkan bahwa pergerakan perjuangan Organisasi Papua Merdeka (OPM) di tanah Papua sebenarnya sudah ada sejak tahun 1960-an. Namun, berdasarkan kesaksian yang berkembang, dinamika di lapangan sebelum tahun 2000 sangat berbeda dengan kondisi saat ini.

“Dibawah tahun 2000 pergerakan OPM di daerah-daerah masih terbilang dapat dikomunikasikan dengan baik dengan pihak aparat keamanan yang bertugas di kampung-kampung. Akhirnya daerah-daerah yang hari ini konflik seperti Puncak, Puncak Jaya, Intan Jaya, Paniai, dahulu daerah-daerah ini tenang, tak pernah kita mendengarkan adanya pergolakan, adanya penembakan, adanya saling tembak, adanya saling serang,” ujar John Gobai dalam keterangannya di Nabire, Kamis (2/7/2026).

Situasi mulai berubah drastis setelah tahun 2006. Aparat keamanan mulai melancarkan serangan dengan tensi yang lebih tinggi dan menggunakan teknologi yang lebih canggih, dimulai dari Kabupaten Puncak Jaya.

Serangan-serangan tersebut kemudian dibalas kembali oleh pihak OPM, hingga akhirnya membentuk apa yang disebut sebagai siklus kekerasan.

Hingga kini, dampak konflik tersebut telah meluas sampai ke wilayah Paniai, sehingga enam kabupaten di wilayah pegunungan Provinsi Papua Tengah kini dikategorikan sebagai daerah zona merah.

Menurut John Gobai, dalam situasi yang penting seperti ini, hal yang perlu dipastikan dan dicari bersama adalah siapa sesungguhnya orang atau kelompok yang menjadi otak untuk memelihara konflik di tempat tersebut. Ia menegaskan hal yang perlu diurai adalah aktor di balik penyediaan senjata, peluru, pasokan makanan, serta tunjangan logistiknya, mengingat jika untuk aparat keamanan, sudah jelas negara yang membiayai mereka.

Oleh karena itu, melalui analogi kebun dan pagar ini, John Gobai menilai sudah saatnya Presiden Republik Indonesia ke-8, Prabowo Subianto, mengambil langkah strategis dan bijaksana untuk mengevaluasi pola penanganan di Papua.

“Mungkin sudah saatnya Bapak Presiden Republik Indonesia ke-8, Bapak Prabowo Subianto perlu mempertimbangkan jeda kemanusiaan dengan menarik pasukan non-organik. Mengurus kebun ini dengan baik, kebun ini bukan siapa-siapa tapi adalah rakyatnya sendiri. Bagaimana merangkul mereka dan memanusiakan mereka dengan menyediakan program pembangunan yang benar-benar menyentuh kepada kebutuhan dasar masyarakat Papua Tengah, ketimbang mengurusi atau menjaga pagar yang adalah menjaga pagar Negara Kesatuan Republik Indonesia agar tidak dirusak oleh ideologi Papua Merdeka,” tegasnya.

Ia menambahkan masyarakat yang berseberangan ideologi tersebut pada dasarnya adalah manusia biasa yang memiliki akal, rasa, dan kehendak.

Ketika mereka disentuh dan didekati dengan cara-cara yang baik dan manusiawi, hal itu tentu dapat mengubah cara pandang mereka. Perubahan pola penanganan di lapangan diyakini akan membawa perubahan besar pada cara berpikir dan cara melihat konflik tersebut.

“Binatang buas sekalipun bila didekati dengan baik tentu dia akan jinak, apalagi ini adalah manusia biasa yang hatinya putih seperti salju. Walaupun kami sadari terdapat oknum yang masih mempunyai karakter yang keras, namun batu karang, batu cadas yang kuat di pinggiran gunung pegunungan Papua Tengah pun juga dapat bergeser bila terkena oleh air yang lembut, air yang dingin, air yang tenang,” lanjut John Gobai.

John juga mengingatkan kunci utama kedamaian di Papua Tengah adalah pergeseran paradigma dari pendekatan keamanan murni menjadi pendekatan yang memanusiakan manusia.

“Sudah saatnya kita mengurusi kebun dengan baik dengan pendekatan yang humanistis, pendekatan yang memperhatikan aspek hak asasi manusia di tanah Papua agar pagar yang baik dan kokoh akan tumbuh di Papua Tengah,” pungkasnya.

Artikel ini telah dibaca 5 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

John Gobai: Divestasi Saham Meningkat, Smelter di Gresik, Rakyat Mimika Menderita Karena Tailing

20 Juni 2026 - 21:47 WIT

Hari Pengungsi Sedunia: Di Balik Bayang Konflik Bersenjata Papua, Ratusan Ribu Warga Tanpa Perlindungan

20 Juni 2026 - 21:06 WIT

Jurnalis Perempuan Mimika Rayakan Ulang Tahun ke-4

20 Juni 2026 - 12:53 WIT

Suara Kepala Suku: Kolaborasi Kunci Pembangunan dan Kedamaian Papua Tengah

20 Juni 2026 - 01:26 WIT

40 Mama Kamoro Dilatih Olah Pangan Lokal di Mimika

20 Juni 2026 - 01:21 WIT

DPR Papua Tengah Temui Kapolda, Bahas Aturan Turunan Bab Kepolisian dalam UU Otsus

19 Juni 2026 - 13:29 WIT

Trending di Umum