SASAGUPAPUA.COM, WAMENA – Di balik dinginnya kabut yang menyelimuti Kota Wamena, seorang pemuda melangkah tegap di atas aspal tanpa alas kaki.
Namanya Agustinus Wetipo, namun ia lebih akrab disapa Tinus. Di tangannya, sebuah gerobak kopi unik dengan desain menyatu dengan alam menjadi sumber penghidupan sekaligus simbol perlawanan terhadap keterbatasan.
Saat dihubungi melalui sambungan telepon, suara Tinus terdengar sangat ramah dan penuh semangat. Kerendahan hatinya terpancar saat ia mulai mengisahkan perjalanan hidupnya yang tidak mudah.
Tinus adalah adalah putra dari dari pasangan Alex Wetipo dan Sara Aso. Kini, di usia 26 tahun, ia telah menjadi kepala keluarga bagi istrinya dan putri kecil mereka, Alexsa Bunga Wetipo.
Luka Lama: Malu Karena Tak Bisa Membaca
Perjalanan Tinus tidak dimulai dari ruang kelas yang nyaman. Ia adalah penyintas pahitnya pendidikan yang terputus. Tinus berhenti sekolah saat baru duduk di kelas 4 SD.
“Waktu saya SD itu, saya keluar karena saya tidak tahu membaca. Saya malu sama teman-teman yang lain. Mereka sudah bisa membaca, sementara saya belum bisa sama sekali. Ada perasaan takut yang sangat besar dalam diri saya, makanya saya memilih keluar,” kenang Tinus dengan suara rendah.
Alih-alih belajar, Tinus kecil justru terpukau oleh seragam tentara. Cita-citanya adalah menjadi prajurit. Selama hampir 10 tahun setelah putus sekolah, ia menghabiskan waktu mengikuti kegiatan para anggota TNI di Batalyon.
Sembari tertawa kecil, Tinus bercerita sempat berbohong kepada anggota tentara yang menanyainya soal sekolah demi bisa terus ikut mereka.
Hingga suatu saat, ia menyadari teman-teman seangkatannya sudah lulus SMA, sementara ia masih jalan di tempat.
Teguran Keluarga yang Mengubah Hidup
Tinus adalah anak kelima dari 12 bersaudara. Sebagai pemuda, ia mengaku dulunya sempat hidup tanpa arah.
“Namanya anak muda, dulu saya jalan-jalan bebas saja, ikut keramaian, tidak punya tujuan,” kenang Tinus.
Namun, kenyamanan hidup “bebas” itu terusik oleh suara hati keluarga besarnya. Kakak-kakaknya kerap melontarkan teguran keras yang membekas di hati.
“Kakak-kakak sempat tegur saya, ‘Kenapa kau begini terus? Harus mesti berubah. Kenapa mau jadi anak-anak begini saja, harus punya tanggung jawab!'” ungkap Tinus menirukan ucapan keluarganya.
Teguran itulah yang menjadi titik balik. Tinus merasa tertantang untuk membuktikan bahwa ia bisa menjadi sosok yang mandiri dan diandalkan.
Modal Rp20.000 dan Penyelamatan “Barang Legenda”
Titik balik Tinus terjadi pada Agustus tahun lalu. Setelah sempat jatuh bangun berjualan lukisan bingkai hasil karyanya seharga Rp100.000 per gambar, ia menemukan sebuah gerobak rusak yang nyaris dibakar di area Mall Wamena.
“Waktu itu gerobak rusak parah, mau dijadikan kayu bakar. Saya pikir, ah ini barang legenda punya. Jangan sampai hancur, saya bawa pulang untuk saya rehab,” ceritanya.

Kondisi gerobak yang ditemukan oleh Tinus Wetipo sebelum ia sulap menjadi Kedai Keliling. (Foto: Tinus Wetipo for Sasagupapua.com)
Keterbatasan ekonomi tak membuatnya patah arang. Dengan saku yang hanya berisi uang Rp20.000, Tinus memulai keajaibannya.
“Uang itu saya cuma beli paku saja. Selebihnya bahan-bahannya saya ambil dari hutan. Saya ingin buat yang beda dari gerobak-gerobak lain di Papua,” tambahnya.
Gerobak itu kini tampil sangat estetik, menyatu dengan alam, dan dilengkapi kompor di dalamnya untuk menyajikan kopi Wamena asli maupun kopi saset bagi pelanggan setianya.
Etika dan Suara Hati di Tugu Salib
Tinus sempat mencoba peruntungan dengan mangkal di Tugu Salib, depan Kantor Bupati Jayawijaya. Namun, sebuah pergolakan batin membuatnya memilih pergi dari tempat strategis itu.
“Saya punya pikiran sendiri, kalau Tuhan larang kita berjualan di samping gereja, kenapa kita harus berjualan di bawah kayu salib? Saya merasa sedikit bersalah secara moral. Makanya saya lebih memilih keliling atau berhenti di mana saja saat ada pelanggan yang panggil,” ungkapnya dengan penuh ketulusan.
Kini, setiap gelas kopi yang ia jual dengan harga rata-rata Rp10.000 bukan sekadar minuman, melainkan hasil kerja keras seorang pria yang membangun usahanya “pakai moral dan kekuatan tangan.”
Membangun Garasi Honai untuk Si Gerobak
Kecintaan Tinus pada gerobaknya begitu dalam. Ia merasa sedih jika gerobak yang dibangunnya dengan susah payah harus kehujanan dan kepanasan di luar rumah.
Saat ini, Tinus sedang berjuang membangun sebuah kedai yang juga berfungsi sebagai garasi atau “rumah” bagi gerobaknya.

Penampakan honai milik Tinus yang akan dijadikan kedai kopi. (Foto: Tinus Wetipo for Sasagupapua.com)
“Prosesnya baru 30%. Modelnya seperti Honai, sangat dekat dengan alam. Saya kerja sendiri pelan-pelan tanpa bantuan uang, hanya pakai tangan saja. Saya berharap bisa selesai sebelum Agustus tahun depan, tapi kalau ada pemerintah atau pihak yang mau bantu, mungkin bisa lebih cepat,” harap Tinus.
Pesan untuk Generasi Emas Papua
Di akhir percakapan, Tinus menitipkan pesan yang menggetarkan bagi pemuda-pemuda Papua, khususnya mereka yang bernasib sama dengannya.
“Papua ini bukan tanah kosong. Kalau bukan kita yang isi, nanti siapa lagi? Teman-teman yang mungkin menganggur, harus semangat. Bisa jualan pinang, jagung, atau kacang. Ekonomi Papua ini banyak yang terhambur, kita harus bisa ambil contoh dari hal-hal kecil. Jangan menyerah hanya karena tidak sekolah, karena kita semua punya kesempatan untuk berusaha,” tutupnya.









