Menu

Mode Gelap

Peristiwa · 17 Des 2025 08:08 WIT

PGI Desak Koridor Kemanusiaan di Papua Selama Natal – Soroti 100.000 Pengungsi Kritis


Foto: PGI Perbesar

Foto: PGI

SASAGUPAPUA.COM, Jakarta – Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) menyampaikan keprihatinan mendalam atas meningkatnya kekerasan bersenjata dan operasi keamanan di berbagai wilayah Papua yang telah memakan korban jiwa dari masyarakat sipil maupun aparat, serta menyebabkan gelombang pengungsian masif.

Dalam siaran persnya, Ketua Umum PGI, Pdt. Jacklevyn F. Manuputty, menyoroti kondisi kemanusiaan yang kritis. Berdasarkan data Dewan Gereja Papua, jumlah pengungsi akibat konflik bersenjata disebut telah melampaui 100.000 orang.

“Banyak di antara mereka berada dalam kondisi kemanusiaan yang kritis, tersebar di wilayah-wilayah terpencil yang sulit dijangkau, serta mengalami keterbatasan akses terhadap pangan, layanan kesehatan, dan pendampingan pastoral,” demikian pernyataan PGI.

PGI menyadari kompleksitas persoalan Papua yang memerlukan dialog dan waktu. Namun, PGI menegaskan bahwa perlindungan nilai-nilai kemanusiaan dan keselamatan warga sipil harus menjadi prioritas utama yang tidak dapat ditunda di tengah konflik yang masih berlangsung.

Tuntutan dan Sikap PGI

- Advertising -
- Advertising -

Menyambut perayaan Natal, PGI mengeluarkan lima poin sikap resmi, yang intinya mendesak penghentian kekerasan dan penjaminan akses kemanusiaan.

1. Koridor Kemanusiaan: Mendorong penerapan koridor kemanusiaan sepanjang masa Natal hingga akhir tahun 2025, untuk menjamin akses yang aman dan bebas hambatan bagi pelayanan kemanusiaan di wilayah terdampak.

2. Hentikan Kekerasan: Mengimbau seluruh pihak yang terlibat dalam konflik bersenjata di Papua untuk menghentikan segala bentuk kekerasan dan menahan diri.

3. Perlindungan Pengungsi: Menegaskan pentingnya perlindungan terhadap kelompok rentan, seperti perempuan, anak-anak, dan lansia, agar penanganan pengungsian dilakukan secara aman, bermartabat, dan berkeadilan.

4. Akses Bantuan: Mendesak pemerintah dan pemangku kepentingan untuk memastikan distribusi bantuan kemanusiaan, termasuk pangan, layanan kesehatan, psikososial, dan pastoral, dapat menjangkau seluruh pengungsi tanpa diskriminasi.

5. Doa Natal: Mengajak gereja-gereja untuk mengingat dan mendoakan para korban konflik bersenjata di Papua dalam perayaan Natal.

PGI berharap, melalui penerapan koridor kemanusiaan, para pengungsi di Papua dapat merayakan Natal dalam suasana yang lebih aman dan manusiawi, serta merasakan damai sejahtera yang sejati.

Pdt. Jacklevyn F. Manuputty mengakhiri siaran pers tersebut dengan mengutip firman Tuhan dari Lukas 2:14: “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya.”

Artikel ini telah dibaca 7 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Tanggapi Kasus Penganiayaan, Yulian Magai Kecam Aksi Kekerasan Jalanan di Timika

20 Juli 2026 - 18:53 WIT

Dugaan Penyiksaan Warga Sipil oleh Aparat di Intan Jaya, Anggota DPRK Minta Penyelidikan Serius

19 Juli 2026 - 13:35 WIT

Empat Orang Disiksa di Intan Jaya, Yulius Wandagau Desak Hentikan Penyiksaan dan Penembakan Masyarakat Sipil

19 Juli 2026 - 13:19 WIT

Papua Darurat Kemanusiaan, Berikut 23 Tuntutan SOMAP

12 Juli 2026 - 21:01 WIT

Serahkan Aspirasi Konflik Bersenjata ke Menteri HAM, DPRPT Harap Pusat Ubah Kebijakan Hankam

12 Juli 2026 - 20:10 WIT

Yorrys Raweyai: Papua Butuh Perdamaian, DPD RI Telah Bentuk Pansus

10 Juli 2026 - 21:17 WIT

Trending di Peristiwa