SASAGUPAPUA.COM, Papua Tengah — Pemerintah Provinsi Papua Tengah menggelar Konser Rohani dan Doa Pemulihan sebagai puncak rangkaian kegiatan menyongsong Hari Jadi ke-4. Acara yang mengusung tema “Tuhan Bertahta di atas umatnya” berdasarkan kutipan Kitab Mazmur 22 ayat 4 ini dilangsungkan di Halaman Kantor Gubernur Papua Tengah, Bandara Lama, Nabire, pada Rabu, 22 Juli 2026.
Kegiatan akbar tersebut dimeriahkan oleh penampilan para pelayan musik serta sejumlah artis ternama seperti Michael Jakarmilena, Nobo, Sonya Bara, Fransina Dabi, Medelin Karubaba, dan Miracle Ramandey. Selain puji-pujian yang dihadiri ribuan masyarakat, acara ini juga diisi dengan rangkaian doa syukur yang dipimpin oleh perwakilan denominasi agama di Papua Tengah.

Para artis saat menyanyikan lagu rohani dalam momen konser rohani dan ibadah syukur hari jadi ke-4 Provinsi Papua Tengah. (Foto: Kristin Rejang/Sasagupapua).
Lantunan pokok doa disampaikan dengan khusuk mulai dari berdoa untuk Tanah Papua Tengah, pemimpi-pemimpin, hingga doa bagi para korban konflik bersenjata di Papua Tengah.
Acara puncak ini dihadiri langsung oleh Gubernur Papua Tengah bersama Wakil Gubernur Papua Tengah Meki Nawipa dan Deinas Geley, Anggota DPR RI Komarudin Watubun, jajaran Majelis Rakyat Papua (MRP), Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), serta para tamu undangan lainnya.
Ibadah dan refleksi firman Tuhan dalam perayaan tersebut dipimpin oleh Pdt. Leon Wairara, S.Th.
Dalam khotbahnya, Pdt. Leon Wairara menyampaikan rasa syukur kepada Tuhan Yesus atas kasih karunia-Nya sehingga Provinsi Papua Tengah yang dicintai dapat berdiri hingga hari ini.
“Terima kasih buat Bapak Gubernur, Bapak Wakil Gubernur, Bapak Sekda, dan semua OPD, Forkopimda, dan juga seluruh masyarakat. Kita tepuk tangan yang paling meriah. Terima kasih buat panitia yang sudah berjerih lelah menyiapkan acara ini dan terima kasih juga buat semua yang sudah menyanyi. Saya tadi waktu doa di belakang dengan semua tim, saya bilang, ‘Dengar, hari ini kitong melayani, kitong menyanyi bukan untuk manusia, kita menyanyi mewakili Papua Tengah untuk Tuhan Yesus.’ Amin. Sebab Papua Tengah berdiri hanya karena anugerah Tuhan,” ujar Pdt. Leon di hadapan jemaat dan masyarakat.
Pdt. Leon kemudian merefleksikan alasan mengapa Papua Tengah merayakan hari ulang tahunnya melalui konser rohani dan doa. Menurutnya, terdapat tiga alasan utama sesuai dengan tema acara bahwa Tuhan bertahta di atas pujian umat-Nya.
“Alasan yang pertama, kenapa Papua Tengah di hari ulang tahun tidak bikin acara yang rame-rame? Memang kemarin ada rangkaian acara, tetapi kenapa acara puncak seperti ini? Dengan tema seperti ini. Yang pertama, karena Papua Tengah, kita mau memberikan tempat yang paling baik itu hanya untuk Tuhan saja. Kita mau memberikan tahta, berarti Tuhan nomor satu. Tuhan raja di atas segala. Tuhan pemimpin buat Papua Tengah. Delapan kabupaten, Tuhan bertahta untuk negeri ini,” jelasnya.
Alasan kedua, lanjut Pdt. Leon, adalah kesadaran bahwa kehidupan yang ada saat ini merupakan murni anugerah Tuhan. Karena manusia tidak mengetahui kapan lahir maupun berakhirnya hidup di dunia, maka satu-satunya hal yang layak diberikan kepada Tuhan selama masih bernapas adalah pujian, hormat, dan kemuliaan.
“Dan alasan yang terakhir, Bapak, Ibu saudara dengar. Di saat orang ulang tahun, orang selalu senang kalau ada yang bawa hadiah, bawa kado buat dia. Tetapi Provinsi Papua Tengah, di saat kamu ulang tahun, kamu yang kasih hadiah buat Tuhan hari ini. Yaitu kamu berikan pujian yang terbaik buat Tuhan. Kita tepuk tangan buat Tuhan, Haleluya. Sebab harta apapun kita kumpulkan, kita enggak bisa kasih buat Tuhan. Di surga itu Alkitab mencatat lantai jalannya terbuat dari emas. Emas yang terbaik di Freeport, emas yang terbaik di dunia, Tuhan tidak bisa kasih buat Tuhan. Tuhan punya langit dan bumi. Tuhan punya langit, Tuhan punya bulan, bintang. Saya jual satu bintang saja belum tentu ada satu pengusaha hebat bisa beli. Tetapi yang Tuhan cari adalah pujian dan penyembahan. Itu adalah hadiah yang terbaik yang kita bisa berikan buat Tuhan. Amin,” tegas Pdt. Leon.
Ia juga berpesan agar siapapun bisa datang atau pergi meninggalkan Papua Tengah, namun yang paling penting adalah Tuhan harus tetap ada dan hadir di wilayah tersebut.
Dalam pemaparan firman Tuhan yang merujuk pada Kitab Mazmur 22 ayat 4, Pdt. Leon mengingatkan bahwa jemaat bernyanyi dan menari bukan untuk dilihat oleh manusia atau para pejabat, melainkan dengan audiens utama yaitu surga. Ia menganalogikan pujian dan penyembahan sebagai tindakan membangun kursi atau tahta bagi Tuhan.
“Itu ibarat kita bangun tahta, kita bikin kursi buat Tuhan. Kalau kau datang ke satu tempat orang sudah berikan kursi, kau pasti sungkan kalau enggak duduk. Demikian juga waktu kita memuji, kita menari buat Tuhan tadi, kita menyembah Tuhan, dalam hadirat Tuhan kita nyanyi puji. Kita lagi bangun kursi yang terbaik buat Tuhan, dan Tuhan pun sungkan kalau Tuhan enggak mau datang duduk dengan kita, Tuhan menikmati itu. Itulah sebabnya saya tadi bilang buat yang melayani jangan lihat siapapun yang hadir hari ini, karena yang lihat dan menikmati kita punya pelayanan hari ini adalah Tuhan sendiri. Amin,” ungkapnya.
Selanjutnya, Pdt. Leon menguraikan tiga cara membangun tahta Tuhan dalam kehidupan sehari-hari berdasarkan Alkitab. Pertama, membangun tahta Tuhan melalui persatuan dan kesepakatan di dalam nama Tuhan, sebagaimana tertulis dalam Injil Matius 18 ayat 20.
“Bapak ibu saudara, artinya gini, tahta Tuhan yang pertama itu adalah kita harus bersatu, sepakat di dalam nama Tuhan. Kau boleh berbeda suku hari ini. Kau boleh berbeda latar belakang pendidikan hari ini. Mungkin kau orang asli Papua, mungkin kau Meyah, mungkin kau orang pendatang, mungkin kau siapa saja bahkan kau boleh berbeda agama hari ini. Tapi kalau kita bersatu unity di dalam Tuhan, kita lagi bangun tahta buat Tuhan sendiri. Karena Tuhan yang ngomong, waktu kita berkumpul di dalam nama Tuhan, Tuhan hadir,” tutur Pdt. Leon sembari menceritakan ilustrasi humoris mengenai kesalahan pengucapan antara bilur-bilur dan bulir-bulir di kalangan jemaat lansia yang tetap mendatangkan kesembuhan berkat iman dan kebersamaan.

Gubernur dan Wakil Gubernur Papua Tengah, Meki Nawipa-Deinas Geley didampingi istri bersama dengan jajaran tamu undangan saat berdoa bersama. (Foto: Kristin Rejang/Sasagupapua)
“Bapak gubernur yang terkasih, bapak wakil, bapak sekda dan seluruh pimpinan, bapak kapolda dan kawan semua dengan, dalam perjalanan hidup tugas yang dijalankan di provinsi ini, penuh dengan tantangan. Tapi waktu kita bersatu di dalam nama Tuhan, Tuhan akan hadir dan Tuhan akan tolong kita semua,” sambungnya.
Cara kedua untuk membangun tahta Tuhan adalah dengan melakukan pujian dan penyembahan di dalam roh dan kebenaran, merujuk pada Injil Yohanes 4 ayat 23 dan 24. Pdt. Leon menekankan agar umat tidak saling menghakimi denominasi atau gaya ibadah gereja tertentu, baik Katolik, Protestan, maupun Pantekosta Kharismatik dan denominasi manapun.
“Engkau boleh ada di gereja Katolik, waktu engkau nyanyi, tenang-tenang mendayu waktu kau nyanyi, kau menyembah dalam roh dan kebenaran, itu Tuhan hadir dan Tuhan beri. Waktu kau di gereja Protestan, kau nyanyi, ‘Ya Tuhan tiap jam, ku memerlukan-Mu.’ Engkau lakukan itu dalam roh dan kebenaran, itu yang sah di mata Tuhan. Dan waktu engkau di gereja Pantekosta, Kharismatik, engkau menari keliling semua buat Tuhan. Kalau kau lakukan dalam roh dan kebenaran, itu sah buat Tuhan,” ujar Pdt. Leon.
Ia kemudian mengilustrasikannya melalui kisah seorang ayah yang memberikan hadiah kepada tiga anaknya dengan cara pengekspresian rasa syukur yang berbeda-beda—ada yang tersenyum tenang, ada yang menangis terharu, hingga ada yang melompat penuh sukacita dengan gaya khas keturunan orang Papua. Semua ekspresi tersebut dinilai sah dan diterima asalkan dilakukan dengan tulus kepada Tuhan.
Cara ketiga dan terakhir dalam membangun tahta Tuhan adalah dengan memiliki karakter lemah lembut dan rendah hati seperti yang diajarkan oleh Yesus dalam Kitab Matius, untuk menghindari dosa kesombongan rohani.
“Bapak Ibu Saudara maksud saya begini, yuk kita belajar. Semakin kita rendah hati, semakin Tuhan mengasihi kita. Semakin Papua Tengah rendah hati, semakin Tuhan mengasihi Papua Tengah. Wakil Gubernur, Bapak Sekda, Bapak Kapolda, juga Bapak Komarudin dan semua hamba-hamba Tuhan, anggota DPR, MRP yang saya kasihi. Kalau hari ini Tuhan pilih untuk menjadi pemimpin atas negeri ini, itu artinya Tuhan sayang Bapa ibu dorang. Itu artinya Tuhan punya harapan besar buat bapa ibu dorang. Untuk itu di ulang tahun yang keempat, sebagai hamba Tuhan, izinkan saya sampaikan, jadikan Tuhan nomor satu dalam hidupmu. Jadikan Tuhan yang paling utama di Papua Tengah, sehingga kita bangun tanah ini, maka Tuhan akan memegang tangan seluruh pemimpin, dan Tuhan akan memberkati masyarakat ini di dalam nama Tuhan Yesus Kristus,” tutup Pdt. Leon di akhir ibadah.








