Menu ✖

Mode Gelap

Umum · 22 Okt 2026 11:35 WIT

Seminar IA-ITB Bahas Peran Investasi dan SDM Lokal untuk Pembangunan Papua


					Suasana Seminar Nasional bertema Perbesar

Suasana Seminar Nasional bertema "Potensi Mineral dan Migas sebagai Akselerator Pembangunan di Tanah Papua" . (Foto: Corcom Freeport)

SASAGUPAPUA.COM, Papua Tengah — Ikatan Alumni Institut Teknologi Bandung (IA-ITB) Pengurus Daerah Papua dan Papua Barat menegaskan pentingnya penguatan investasi, pengembangan sumber daya manusia (SDM) lokal, serta kolaborasi multipihak untuk mengoptimalkan potensi mineral dan minyak dan gas bumi (migas) sebagai penggerak pembangunan berkelanjutan di Tanah Papua.

Hal tersebut mengemuka dalam Seminar Nasional bertema “Potensi Mineral dan Migas sebagai Akselerator Pembangunan di Tanah Papua” yang diselenggarakan di Jakarta, Rabu (21/10/2026).

Acara ini mempertemukan unsur pemerintah pusat dan daerah, akademisi, pelaku industri, serta berbagai pemangku kepentingan untuk merumuskan strategi pengelolaan sumber daya alam yang memberikan manfaat ekonomi dan sosial secara lebih luas bagi masyarakat.

Ketua IA-ITB Papua dan Papua Barat, Hengky Rumbino, menyampaikan Papua memiliki kekayaan sumber daya mineral dan migas yang sangat besar, namun pemanfaatannya mutlak memerlukan perencanaan jangka panjang, dukungan kebijakan, serta sinergi yang kuat dari semua pihak.

- Advertising -
- Advertising -

“Potensi mineral dan migas Papua harus menjadi penggerak pembangunan yang manfaatnya dirasakan langsung oleh masyarakat. Karena itu, kita perlu memastikan keberlanjutan investasi berjalan seiring dengan peningkatan kapasitas SDM lokal, penguatan ekonomi daerah, dan pemerataan manfaat pembangunan. Seminar ini menjadi ruang untuk merumuskan gagasan dan rekomendasi konkret bagi masa depan Papua,” ujar Hengky.

Hengky menjelaskan keberlanjutan investasi menjadi pilar penting dalam menjaga pertumbuhan ekonomi daerah. Ia mencontohkan rekam jejak investasi berskala besar seperti kegiatan pertambangan PT Freeport Indonesia (PTFI) di Papua Tengah serta proyek gas Tangguh di Papua Barat yang terbukti mampu mendorong aktivitas ekonomi lokal, membuka lapangan kerja, hingga mengembangkan sektor-sektor pendukung.

Meskipun demikian, pengembangan investasi baru di lapangan masih menemui sejumlah tantangan, mulai dari keterbatasan infrastruktur, tingginya biaya logistik, ketersediaan energi, hingga kebutuhan mendesak untuk meningkatkan kompetensi tenaga kerja lokal.

Sementara itu, Direktur dan Executive Vice President Sustainable Development PTFI, Claus Wamafma, dalam sambutannya menekankan bahwa sektor mineral dan migas di Papua merupakan aset strategis yang tidak hanya menopang pembangunan daerah, tetapi juga memberikan kontribusi signifikan bagi perekonomian nasional. Ia mengingatkan bahwa pengelolaannya harus senantiasa berpijak pada aspek ekonomi, sosial, lingkungan, tata kelola yang baik, serta penghormatan penuh terhadap kearifan lokal.

“Pengelolaan sumber daya alam tidak hanya berbicara tentang besarnya potensi mineral atau nilai investasi, tetapi juga bagaimana kehadiran industri mampu menciptakan manfaat nyata dan berkelanjutan bagi masyarakat. Di PTFI, kegiatan pertambangan turut menggerakkan berbagai sektor ekonomi melalui penciptaan lapangan kerja, belanja lokal, kemitraan dengan UMKM, penguatan rantai pasok, serta kontribusi fiskal bagi daerah dan negara,” tutur Claus.

Claus menambahkan kegiatan pertambangan PTFI turut memajukan upaya peningkatan nilai tambah mineral lewat hilirisasi dan pengolahan di dalam negeri.

Langkah ini tidak hanya memperkuat rantai pasok industri nasional, tetapi juga memperluas dampak ekonomi dari pengelolaan sumber daya alam. Selain itu, ia menggarisbawahi bahwa kepastian investasi jangka panjang yang terukur sangat krusial untuk menjamin keberlangsungan operasional industri serta memastikan kontribusi yang konsisten dan bertanggung jawab di bidang sosial, ekonomi, dan lingkungan.

“Kepastian investasi jangka panjang perlu berjalan seiring dengan pengelolaan sumber daya alam yang bertanggung jawab. Pemerintah, akademisi, dunia usaha, masyarakat adat, dan generasi muda memiliki peran penting untuk memastikan potensi yang dimiliki Papua dapat memberikan manfaat yang semakin luas bagi masyarakat dan pembangunan berkelanjutan,” tegas Claus.

Sejalan dengan hal tersebut, seminar ini turut menyoroti urgensi peningkatan partisipasi aktif masyarakat Papua di dalam industri mineral dan migas. Perluasan akses pendidikan, pelatihan vokasi, serta peningkatan kompetensi yang selaras dengan standar industri dinilai sangat mendesak guna memperbesar kesempatan kerja serta mengoptimalkan keterlibatan tenaga kerja serta pelaku usaha lokal dari hulu hingga hilir.

Di sektor migas, para pemangku kepentingan turut memusatkan perhatian pada penguatan eksplorasi dan produksi, penyediaan dukungan infrastruktur yang memadai, serta pelibatan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) lewat skema participating interest. IA-ITB Papua dan Papua Barat juga secara khusus mendorong peningkatan porsi manfaat keuangan bagi daerah penghasil agar dapat dialokasikan secara maksimal untuk pembangunan infrastruktur, peningkatan kualitas pelayanan publik, serta kesejahteraan masyarakat.

“Keberhasilan pembangunan tidak semata diukur dari besarnya investasi atau produksi sumber daya alam, tetapi juga dari semakin banyaknya masyarakat Papua yang memperoleh kesempatan untuk tumbuh dan berpartisipasi dalam kegiatan ekonomi. Kami berharap gagasan yang lahir dari seminar ini dapat menjadi masukan bagi pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan dalam mempercepat pembangunan Papua yang inklusif dan berkelanjutan,” tutup Hengky.

Di sisi lain, Ketua Panitia Seminar Nasional IA-ITB Papua dan Papua Barat, Paul Antoh, menjelaskan bahwa pemilihan kota Jakarta sebagai lokasi penyelenggaraan seminar bertujuan untuk memperkuat koordinasi serta sinergi yang erat antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah.

“Seluruh rangkaian gagasan dan arah kebijakan dalam forum ini dirancang agar selaras dengan Asta Cita yang dicanangkan oleh Presiden Prabowo Subianto dalam rangka mempercepat pembangunan di Tanah Papua,” pungkasnya.

Artikel ini telah dibaca 0 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

KNPB: Kunjungan Sekjen PBB Harus Jadi Momentum Buka Akar Masalah Papua

20 Oktober 2026 - 17:19 WIT

WALHI Catat 8.324 Titik Panas di Papua, Sebagian Besar di Area Proyek

17 Oktober 2026 - 11:18 WIT

Belajar Pertambangan Modern, 200 Mahasiswa Uncen Antusias Ikuti Program PTFI

17 Oktober 2026 - 02:24 WIT

APELPA Apresiasi DPRK Mimika: Saatnya Perda Tenaga Kerja Lokal Harus Dilaksanakan

15 Oktober 2026 - 18:25 WIT

Soal Pelanggaran HAM di Papua, PGBP: Komisioner PBB Harus Lihat Realitas Lapangan

13 Oktober 2026 - 18:53 WIT

BMKG Prediksi Akan Ada Musim Hujan Berdurasi Hingga 8 Bulan di Papua, ini Sebaran Wilayahnya

8 Oktober 2026 - 16:54 WIT

Trending di Umum