SASAGUPAPUA.COM, Papua Tengah — Yayasan Pembangunan Kesejahteraan Masyarakat (Yapkema) membeberkan fakta mengkhawatirkan terkait kebiasaan konsumsi masyarakat di Kabupaten Dogiyai, Deiyai, dan Paniai.
Berdasarkan data survei terbaru Yapkema yang dilakukan pada April hingga Mei 2025, kebiasaan mencampur minuman serbuk instan berenergi seperti Extra Joss atau Kuku Bima dengan krimer kental manis, hingga minuman jasjus dan lainnya marak terjadi dan justru paling banyak dikonsumsi oleh kalangan pelajar SMA, bahkan melebihi kelompok orang tua.
Kebiasaan yang dianggap lazim tersebut dinilai sebagai “bom waktu” kesehatan yang menanamkan risiko obesitas dan diabetes tipe 2 di usia muda, sehingga mengancam masa depan generasi muda Suku Mee. Penulis artikel rilis Yapkema, Agustina Doo, membahas dan memberikan peringatan terkait pentingnya menyadari bahaya terselubung di balik rutinitas ini.
“Dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat. Kita sadar bahwa kesehatan adalah fondasi segalanya, penentu apakah kita bisa menjalani hari dengan semangat atau justru terpuruk dalam sakit,” tulis Agustina Doo dari Yapkema.
Agustina mengingatkan masyarakat sering kali baru menyadari pentingnya menjaga kesehatan ketika tubuh sudah terlanjur rusak.
“Kita juga sadar bahwa sehat itu mahal, sebuah harga yang baru terasa nilainya ketika tubuh mulai remuk dan rewel. Ironisnya, di tengah kesadaran ini, banyak dari kita termasuk generasi muda masih mempertahankan kebiasaan yang perlahan menggerogoti kesehatan,” lanjut Agustina Doo.
Minuman Serbuk Instan: Solusi Cepat, Risiko Berat
Minuman serbuk instan kini telah menjadi simbol kemudahan bagi banyak orang. Kepraktisan dalam penyajian serta daya simpan yang panjang membuat produk ini sangat mudah dijumpai, mulai dari kawasan kota besar hingga ke pelosok kampung.
Minuman seperti Kuku Bima, Extra Joss, Teh Jus, hingga Jas Jus sejatinya dirancang sebagai suplemen penambah stamina untuk orang dewasa. Namun, ancaman kesehatan yang serius muncul ketika minuman tersebut dicampur dengan krimer kental manis.
“Minuman berenergi ini jika dicampurkan dengan susu, menciptakan apa yang populer disebut ‘Kuku Bima Susu’ atau ‘Extra Joss Susu’. Campuran yang menghasilkan rasa manis gurih yang adiktif ini adalah praktik yang merusak nutrisi susu itu sendiri dan berisiko tinggi bagi tubuh,” tutur Agustina Doo.
Yapkema juga menggarisbawahi kekeliruan persepsi masyarakat mengenai bahan campuran tersebut. Pihaknya menegaskan bahwa “susu” yang selama ini digunakan oleh masyarakat dalam racikan tersebut bukanlah susu sapi murni.
“Perlu diperhatikan bahwa ‘susu’ yang dimaksud pada minuman-minuman ini bukanlah susu sapi murni, melainkan hanyalah krimer kental manis yang penuh dengan gula dan bahkan tidak memiliki kandungan susu sama sekali,” tegas Agustina Doo.
Data Mengkhawatirkan: Pelajar sebagai Konsumen Utama
Berdasarkan hasil survei kuisioner Yapkema pada April-Mei 2025 di Dogiyai, Deiyai, dan Paniai, terungkap bahwa remaja tingkat SMA menjadi kelompok konsumen yang paling aktif dan rentan.
Di Kabupaten Dogiyai, dari 40 orang tua yang disurvei, hanya 15 orang yang terbiasa mengonsumsi campuran ini. Sebaliknya, pada tingkat SMA, sebanyak 52 pelajar tercatat sudah terbiasa meminumnya, dengan 27 di antaranya merupakan konsumen aktif.
Kondisi yang tak kalah menakutkan terjadi di Kabupaten Deiyai. Dari 40 orang tua yang disurvei, hanya 3 orang yang terbiasa mengonsumsi. Namun di tingkat pelajar, dari 21 remaja yang disurvei, tidak ada satu pun yang mengaku tidak pernah mengonsumsinya. Hal ini menandakan kebiasaan berbahaya tersebut telah merata di kalangan remaja Deiyai.
Sementara di Kabupaten Paniai, pola konsumsi tergolong tinggi dan merata di semua tingkatan. Sebanyak 15 dari 21 orang tua mengaku sering mengonsumsi, dan 26 dari 39 pelajar juga menjadi konsumen paling sering.
“Data survei terbaru Yapkema mengungkap fakta yang mengkhawatirkan. Ini adalah sinyal bahaya bahwa generasi muda kita sedang terekspos pada risiko kesehatan yang besar akibat kebiasaan yang salah ini,” ungkap Agustina Doo.
“Bom Waktu” di Dalam Tubuh: Risiko Kesehatan Jangka Panjang
Secara medis, mencampur minuman serbuk instan yang sudah mengandung pemanis serta zat aditif bersama krimer kental manis tinggi gula akan melipatgandakan dampak buruk bagi tubuh. Lonjakan gula darah drastis akibat kebiasaan ini menjadi jalur cepat menuju timbulnya obesitas dan diabetes melitus tipe 2.
“Mencampur minuman serbuk instan dengan ‘susu’ akan melipatgandakan risiko kesehatan. Kombinasi ini menghasilkan lonjakan gula darah yang drastis, menjadikannya jalur cepat menuju obesitas dan penyakit kronis seperti diabetes melitus tipe 2 dalam jangka panjang,” jelas Agustina Doo.
Dampak buruk ini diwanti-wanti akan bekerja lebih cepat dan destruktif apabila mengintai tubuh anak-anak maupun usia pelajar.
“Jika kebiasaan ini melekat pada anak-anak atau pelajar, kerusakan tubuh akan terjadi lebih cepat dan lebih parah. Kelebihan gula yang kronis dan gangguan pencernaan akan menghambat perkembangan dan pertumbuhan tubuh, mengganggu penyerapan nutrisi esensial, dan pada akhirnya memengaruhi kualitas hidup serta masa depan mereka,” terangnya.
Yapkema juga menegaskan aturan konsumsi minuman penambah stamina yang sebenarnya. Minuman jenis ini hanya direkomendasikan bagi orang dewasa di atas 20 tahun, tidak boleh dicampur krimer manis, serta sangat dilarang bagi ibu hamil dan anak-anak di bawah umur.
Panggilan untuk Bertindak
Menyikapi temuan riset ini, Yapkema mengajak seluruh lapisan masyarakat, orang tua, hingga pemerintah daerah untuk mengambil langkah nyata demi menyelamatkan masa depan generasi muda Suku Mee.
“Kesehatan adalah harta yang tidak ternilai, dan kita tidak bisa terus membiarkan kebiasaan manis yang mematikan ini berlanjut. Untuk orang dewasa yang terpaksa mengonsumsi minuman serbuk instan, pastikan untuk tidak mencampurnya dengan ‘susu’ dan batasi konsumsi agar tidak berlebihan,” desak Agustina Doo.
Yapkema mengimbau para orang tua dan tokoh komunitas agar berdiri di barisan terdepan dalam memberikan teladan dan edukasi yang benar kepada anak-anak. Para pelajar juga diminta untuk beralih ke pilihan minuman yang jauh lebih aman dan alami.
“Bagi para pelajar, pilih minuman yang benar-benar menyehatkan seperti air putih, air mineral, atau susu murni tanpa campuran. Jadikan data ini sebagai teguran keras. Hentikan kebiasaan yang mengancam kesehatan ini, karena menjaga tubuh adalah kunci utama untuk meraih masa depan yang kuat dan sehat,” pungkas Agustina Doo.





