SASAGUPAPUA.COM, Papua Tengah– Wakil Ketua III DPR Papua Tengah, Bekies Kogoya, memberikan respons mendalam terkait konflik bersenjata antara TPNPB-OPM dan TNI/Polri di Kampung Kembru, Distrik Kembru, Kabupaten Puncak, yang terjadi pada 13-14 April 2026.
Peristiwa tragis tersebut dilaporkan merenggut nyawa 12 warga sipil, termasuk perempuan dan anak-anak, serta menyebabkan belasan lainnya luka-luka. Menanggapi klaim yang saling bertolak belakang antara kedua belah pihak mengenai pelaku penembakan dan dugaan adanya pelemparan granat, Bekies menegaskan bahwa fokus utamanya bukanlah pada pertentangan ideologi, melainkan pada sisi kemanusiaan dan nasib rakyat yang tidak berdosa.
Kepada media ini melalui sambungan telepon pada Minggu (19/4/2026), Bekies Kogoya mengungkapkan keprihatinannya atas simpang siurnya informasi mengenai siapa yang bertanggung jawab atas ledakan granat yang mengenai warga di Honai.
“Iya, kan begini, kesaksian dari yang korban itu juga mereka bilang, kita lihat nonton di video yang beredar, bilang bilang ada semacam bom begitu. Granat yang mereka lempar ke Honai. Dan saya tidak tahu ini, dari pihak mana yang lempar granat dan bisa kena di anak kecil dengan ibu itu. Itu kan pelakunya tidak tahu kan? Pelakunya siapa? Kalau dari pihak TNI bilang, ‘Nah itu OPM,’ OPM bilang, ‘TNI.’ Jadi kan saling mengklaim, menolak-menolak begitu,” ujar Bekies menjelaskan.
Bekies menekankan bahwa dirinya tidak ingin membahas perdebatan mengenai visi politik dari kedua kelompok yang bertikai. Baginya, yang paling penting adalah adanya warga sipil yang menjadi korban salah sasaran dalam peristiwa yang terjadi pada waktu subuh tersebut.
“Siapa yang menembak, siapa yang korbankan mungkin kita belum tau, tapi ini salah sasaran. Intinya salah sasaran. Dan korban bukan KKB, bukan ini dan itu, tapi masyarakat yang jadi korban ini mereka tidak tahu apa-apa yang tinggal di honai, masyarakat lugu, masyarakat tidak mengerti apa-apa,” tegasnya.
Selain nantinya melihat kebenaran yang akan terungkap dari pihak berwewenang, Bekies meyakini dan menyerahkan pengungkapan kebenaran ini kepada keadilan Tuhan.
Dirinya memperingatkan bahwa siapa pun yang melakukan tindakan keji tersebut dengan sengaja akan menghadapi konsekuensi moral dan spiritual yang berat.
“Siapa pelakunya, kami sebagai manusia kami tidak bisa tentukan bahwa siapa pelaku. Tapi rakyat adalah umat Tuhan, Tuhan ciptakan yang tidak berdosa, yang tidak tahu apa-apa. Apakah dari kelompok mana yang mereka lakukan pelakunya, tapi yang penting Tuhan tahu siapapun pelaku itu juga punya ada anak istri dan karma itu akan berlaku dan akan kena karma ini sendiri. Karma tabur tuai ya, tabur tuai ini bukan datang dari langit, atau dari mana tapi dari Tuhan. Entah pelaku dari oknum mana? Dari kelompok KKB atau dari pihak TNI-Polri tidak tahu,” ucapnya.
Bekies kembali menegaskan tindakan aniaya dan pembunuhan terhadap masyarakat sipil yang tidak tahu-menahu soal konflik tersebut tidak akan luput dari hukum alam. Ia meyakini hasil dari perbuatan buruk tersebut akan dirasakan oleh pelaku maupun keluarganya di masa depan.
“Pelaku ini entah dari pihak kelompok TNI-Polri atau pihak TPM OPM, kami tidak tahu tapi saya bicara bagaimana kemanusiaan dan siapa yang sengaja menembak dia juga bisa disiksa, dianiaya dan bisa dibunuh. Unsur kesengajaan berarti dia akan rasakan apa yang dia lakukan hari ini. Dia akan menabur hari ini dan akan menuai hasilnya. Jadi kami yang berdoa biar supaya Tuhan nyatakan siapa yang pelakunya,” pungkas Bekies.





