Menu

Mode Gelap

Lingkungan · 22 Apr 2026 20:03 WIT

WALHI Papua : Papua Tidak Butuh Janji Hijau, Tapi Keadilan Ekologis


By WALHI Papua Perbesar

By WALHI Papua

SASAGUPAPUA.COM, Jayapura — Bertepatan dengan peringatan Hari Bumi pada 22 April 2026, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Papua mengeluarkan pernyataan keras terkait kondisi krisis iklim dan ruang hidup di tanah Papua.

WALHI menilai selama ini narasi penyelamatan bumi yang digaungkan di forum global berbanding terbalik dengan realitas penghancuran hutan dan perampasan tanah adat yang terus terjadi di timur Indonesia tersebut.

“Papua tidak butuh janji hijau, tapi keadilan ekologis,” tegas perwakilan WALHI Papua dalam pernyataan resminya, Rabu (22/4/2026).

Menurut WALHI, Papua saat ini bukan lagi dipandang sebagai penyangga iklim dunia yang harus dilindungi, melainkan justru dijadikan ladang eksploitasi baru atas nama pembangunan dan investasi. Ekspansi perkebunan skala besar serta proyek tambang yang minim partisipasi rakyat dianggap telah mendorong masyarakat adat ke tepi jurang kepunahan ruang hidup.

- Advertising -
- Advertising -

“Hutan yang selama ini menjadi sumber pangan, obat-obatan, dan identitas budaya, berubah menjadi hamparan monokultur atau lubang-lubang tambang, dan ini bukan sekadar perubahan lanskap, melainkan penghancuran sistem kehidupan,” ungkap WALHI Papua.

Lembaga lingkungan tersebut juga menyoroti krisis ekologis yang terjadi merupakan hasil dari keputusan politik yang abai terhadap keadilan.

Negara dan korporasi dianggap terus memaksakan model pembangunan ekstraktif demi keuntungan jangka pendek, sehingga mengakibatkan masyarakat adat tidak hanya kehilangan tanah, tetapi juga masa depan mereka.

“Kita tidak bisa lagi berbicara tentang penyelamatan bumi tanpa membicarakan keadilan bagi mereka yang menjaga bumi,” tambah mereka.

Lebih lanjut, WALHI Papua menegaskan pengakuan dan perlindungan hak-hak masyarakat adat harus menjadi fondasi utama dalam setiap kebijakan pemerintah. Tanpa adanya jaminan hak tersebut, segala bentuk narasi pembangunan hijau yang disampaikan pemerintah dianggap hanya sekadar ilusi untuk menutupi kerusakan yang terus berlangsung.

“Ketika hutan ditebang tanpa batas, sungai tercemar, dan ruang hidup dirampas, kita sedang menyaksikan kegagalan manusia dalam menjaga relasinya dengan alam, yang pada akhirnya melahirkan bencana seperti banjir, longsor, hingga meningkatnya suhu bumi,” tutup Walhi dalam pernyataan tersebut.

Artikel ini telah dibaca 8 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Pulihkan Hutan Bekas Kebakaran, Komunitas Papuans Photo Tanam Pohon di Gunung Gamei-Nabire

4 September 2026 - 17:20 WIT

WALHI Papua Ungkap Lonjakan Karhutla di Tanah Papua, Wilayah Konsesi PSN Merauke Jadi Episentrum Titik Api

31 Agustus 2026 - 10:24 WIT

Ancaman El Nino Kian Parah, Koalisi HAM Desak Presiden Hentikan PSN di Hutan Adat Papua

25 Agustus 2026 - 20:16 WIT

Ketua KOMANDAN Paniai Desak Pemkab Keruk Sampah di Muara Kali Enaro

21 Agustus 2026 - 08:20 WIT

Dampak Kemarau Panjang El Nino, Kepala Suku Paniai Barat Terbitkan Imbauan Kesiapsiagaan

17 Agustus 2026 - 00:11 WIT

“Tanah Adalah Mama”: Pemuda Srer Pertahankan Hutan Adat dari Modernisasi

15 Agustus 2026 - 09:23 WIT

Trending di Budaya