SASAGUPAPUA.COM, Papua Tengah — Gelaran hari pertama Papua Reggae Festival (PRF) di Nabire pada Jumat, 16 Oktober 2026, menyisakan cerita mendalam bagi Nurhana Yarinap. Perempuan asal Kabupaten Nduga, Papua Pegunungan, yang sehari-hari tinggal di Kota Jayapura ini, hadir dengan antusias tinggi sambil membawa jualan aneka baju rasta untuk meramaikan acara.
Namun, di tengah kemeriahan festival yang menampilkan berbagai band dari penjuru tanah Papua, sebuah momen emosional tak terduga berhasil meruntuhkan pertahanannya hingga air matanya menetes.
Meski sebagian besar penampil membawakan lagu dalam bahasa daerah yang tidak sepenuhnya ia pahami, Nurhana mengaku tetap menikmati setiap alunan musik yang menggema.
Suasana berubah drastis ketika grup band Po Nindi dari Nduga naik ke atas panggung. Kehadiran mereka seketika menarik perhatian Nurhana untuk melangkah lebih dekat ke arah panggung.
Emosi Nurhana mulai terbakar ketika saat salah satu personil band tersebut membacakan sebuah syair puisi yang menyuarakan realitas kehidupan masyarakat Nduga.
Bait-bait puisi yang disampaikan tidak hanya menyentuh nuraninya, tetapi juga merefleksikan getirnya kenyataan hidup yang sedang dialami oleh para pengungsi dan masyarakat suku Nduga di tanah kelahiran mereka.
“Saya lahir di Nduga, besar di Nabire, dan sekarang berada di Kota Jayapura. Saya sedih sekali ketika adik-adik menyanyi dan membawakan puisi itu. Kata-katanya sangat menyentuh dan itu benar-benar realita hidup kami orang Nduga, khususnya yang terjadi di Papua saat ini,” ujar Nurhana ketika diwawancarai media ini, Sabtu (17/10/2026).
Momen ketika tangisnya pecah sempat terekam oleh kamera media dan dengan cepat menyebar di ruang publik.
Bagi Nurhana, panggung reggae bukan sekadar hiburan musik semata, melainkan sebuah ruang kebebasan bagi para musisi lokal untuk menyuarakan isi hati, penderitaan, serta harapan masyarakat Papua.
Sebagai seorang penikmat setia musik reggae yang selalu menyempatkan diri hadir di berbagai event, Nurhana memandang bahwa musik dan sepak bola adalah dua hal tersisa yang terus menghidupkan semangat orang Papua di tengah berbagai persoalan tanah air. Menurutnya, musik reggae memiliki kekuatan magis yang mampu menyatukan seluruh elemen masyarakat Papua, baik dari wilayah pegunungan maupun pesisir, tanpa ada sekat dan perbedaan.
“Kalau kita bicara tentang Papua, banyak hal yang sudah diambil dari negeri ini. Tapi yang membuat Papua masih hidup sampai hari ini hanya musik dan bola. Musik reggae ini bicara tentang identitas kami orang Papua. Setiap ada event pasti saya hadir karena musik ini membuat saya merasa bahwa kehidupan dan identitas kami masih ada,” ungkapnya penuh penghayatan.
Melalui momentum festival ini, Nurhana menyampaikan harapan besar kepada para pemimpin di Tanah Papua, mulai dari gubernur hingga jajaran kepala daerah, agar memiliki kepekaan dan kepedulian nyata. Ia meminta para pemimpin tidak hanya pandai berbicara di atas panggung, tetapi harus mampu melihat dan merespons realita sosial yang dihadapi masyarakat bawah.
Di tengah gempuran arus modernisasi dan perubahan zaman di mana banyak generasi muda mulai melupakan bahasa daerah serta identitas budaya akibat tergerus musik-musik modern, Nurhana meyakini bahwa musik reggae tetap memegang peranan krusial sebagai pemersatu anak-anak muda Papua.
“Bagi saya, betapapun banyaknya musik modern seiring perubahan zaman, musik reggae tetap menyatukan kita anak-anak Papua. Rasanya begitu luar biasa, seperti kita sudah merdeka melihat seluruh saudara berkulit hitam dan berambut keriting berkumpul bersama dalam satu ikatan kekeluargaan yang utuh,” pungkasnya.







