Menu

Mode Gelap

Budaya · 26 Apr 2026 23:24 WIT

Bukan Sekadar Kenangan: Dave Baransano Maknai Arnold Ap sebagai Cultural Legacy yang Hidup


Musisi Papua, Dave Baransano. (Foto: Ist) Perbesar

Musisi Papua, Dave Baransano. (Foto: Ist)

SASAGUPAPUA.COM, Papua Tengah – Tepat pada Minggu, 26 April 2026, masyarakat Papua kembali mengenang 42 tahun berpulangnya sang legenda, Arnold Clemens Ap.

Dalam momentum refleksi ini, musisi Papua yang telah berkiprah di kancah internasional, Dave Baransano, memberikan pandangan mendalam mengenai urgensi menjaga marwah musik Papua di tengah gempuran industri modern.

Bagi Dave, peringatan ini bukan sekadar seremonial, melainkan panggilan untuk mengevaluasi arah kreativitas musisi generasi saat ini.

Arnold Ap Sebagai Fondasi Identitas

Bagi Dave Baransano, Arnold Ap merupakan figur musikal yang bukan hanya sekadar inspirasi, melainkan representasi dari warisan kultural yang hidup.

- Advertising -
- Advertising -

“Karya-karyanya melampaui batas hiburan; ia menjelma menjadi medium pelestarian identitas kolektif masyarakat Papua. Melalui eksplorasi dan reinterpretasi lagu-lagu tradisional dari berbagai wilayah, ia menghadirkan narasi budaya yang autentik sekaligus berdaya tahan lintas generasi,” katanya dalam wawancara dengan media ini, Minggu (26/4/2026).

Lebih dari itu, kata Dave idealisme perjuangan dari sosok Arnold Ap tercermin dalam upaya konsisten untuk merawat dan mengartikulasikan kekayaan etnografis Papua melalui musik.

“Dalam konteks ini, karya-karya yang ia tinggalkan dapat dipahami sebagai “cultural legacy” sebuah pusaka intelektual dan artistik yang tidak hanya merepresentasikan masa lalu, tetapi juga menjadi fondasi bagi kesadaran identitas di masa kini dan masa depan,” ujarnya.

Warisan Bukan Sekadar Estetika Musikal

Dave Baransano menegaskan warisan yang ditinggalkan oleh sosok Arnold Ap, ketua grup Mambesak yang wafat pada 26 April 1984 ini bukan sekadar estetika musikal, melainkan sebuah kerangka kultural bahwa musik adalah medium narasi, identitas, dan memori kolektif orang Papua.

Mendiang Arnold Clemens Ap

“Karya-karyanya membuktikan bahwa bahasa ibu, bunyi akustik, dan cerita lokal memiliki daya hidup yang melampaui zaman,” ungkapnya.

Melawan Arus Pragmatisme Industri

Di tengah gempuran industri musik yang kini cenderung pragmatis yang sering kali terjebak pada lagu-lagu acara atau tema-tema yang tidak kuat, menurut Dave  pentingnya keberanian untuk tetap berada pada jalur yang lebih substansial.

Dimana musik Papua tidak boleh direduksi hanya menjadi komoditas hiburan sesaat melainkan harus tetap menjadi ruang refleksi: tentang survival, tentang realitas sosial, tentang apa yang terjadi di tanah ini, dan tentang keindahan Papua sebagai ciptaan Tuhan yang luar biasa.

Dave mengatakan semangat yang diwariskan oleh Arnold Ap adalah semangat resistensi kultural bahwa kita bisa modern tanpa kehilangan akar.

“Karena itu, musisi Papua hari ini perlu menyadari bahwa membawa bahasa daerah, cerita leluhur, dan perspektif lokal ke dalam karya bukanlah langkah mundur, tetapi justru bentuk progresivitas yang berakar,” katanya.

Sebagai musisi, ia percaya bahwa karya harus memiliki posisi bukan sekadar mengikuti arus pasar, tetapi juga membentuk kesadaran.

“Kita tidak menolak modernitas, tetapi kita juga tidak tunduk sepenuhnya pada selera yang membatasi kedalaman karya. Musik harus tetap menjadi ruang untuk berbicara tentang kehidupan yang nyata tentang perjuangan, identitas, bahkan kritik sosial,” katanya.

Martabat dan Masa Depan Ekosistem Musik

Sebagai musisi yang kenyang pengalaman, Dave percaya bahwa posisi seorang seniman adalah membentuk kesadaran publik, bukan sekadar menjadi buruh produksi demi angka-angka digital.

Ia mengingatkan masyarakat dan pemangku kepentingan agar mulai melihat musik Papua tidak hanya dari sisi hiburan, tetapi sebagai aset kultural dan intelektual.

“Perlu ada ruang apresiasi yang lebih luas bagi karya-karya yang membawa nilai, bukan hanya yang viral. Dukungan ini bisa dalam bentuk kurasi, panggung yang layak, hingga edukasi publik agar memiliki sensitivitas terhadap karya yang memiliki makna,” ungkapnya.

Karena kata dia pada akhirnya, musik yang bertahan bukanlah yang paling ramai sesaat, tetapi yang paling jujur dalam menyuarakan zaman dan akar budayanya.

Diakui Dave bahwa selama masih ada musisi yang berani berdiri di jalur akar budaya, dimana suara Papua tidak akan pernah benar-benar hilang dan akan terus bertransformasi dan menggema, melampaui batas ruang dan waktu

“Untuk masyarakat dan pihak terkait, saya juga mau tegas: kalau yang terus didukung hanya karya yang ringan dan viral, maka jangan heran kalau karya yang punya kedalaman perlahan hilang. Apresiasi itu menentukan arah ekosistem. Kalau kita mau musik Papua punya martabat, maka kita harus mulai menghargai karya yang punya isi, bukan hanya yang punya angka,” serunya.

Dirinya percaya satu hal bahwa musik yang jujur mungkin tidak selalu nyaman, tapi dia akan bertahan.

“Dan selama masih ada yang berani menyuarakan Papua dengan utuh bukan yang dipoles, tapi yang nyata maka suara itu tidak akan pernah mati. Saya tidak anti tren. Tapi saya menolak kalau tren menjadi satu-satunya arah. Ketika musisi hanya mengejar viral tanpa isi, itu bukan lagi berkarya itu produksi. Dan produksi tanpa kesadaran hanya akan melahirkan karya yang cepat naik, lalu cepat hilang” pungkasnya.

Berikan Komentar
penulis : Kristin Rejang
Artikel ini telah dibaca 20 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Mengenang Arnold Ap, Pace Santana: Dia Bukan Sekadar Seniman, Tapi Suara Tanah Papua

27 April 2026 - 00:26 WIT

Menjaga Nyala Obor Arnold Ap, Neles Rumanasen Ajak Seniman Papua Terus Angkat Bahasa Ibu dan Jaga Warisan Budaya

26 April 2026 - 22:02 WIT

Gubernur Papua Tengah: Cap Go Meh 2026 Simbol Harmoni Nusantara

19 April 2026 - 03:06 WIT

Menuju Oktober 2026: Henes Sondegau Ajak Semua Pihak Sukseskan Festival Reggae Papua ke-XI

29 Maret 2026 - 22:24 WIT

Dave Baransano: “Kita Masih Manusia Kelas Dua di Bangsa Ini – Standar Musisi Papua Adalah Internasional!”

28 Maret 2026 - 17:46 WIT

Papua Reggae Festival XI Siap Menjadi Panggung Pembuktian Musisi Lokal Menuju Dunia

27 Maret 2026 - 22:58 WIT

Trending di Hiburan