SASAGUPAPUA.COM, Nabire — Gelaran Papua Reggae Festival (PRF) XI yang berlangsung di Nabire pada Sabtu (17/10/2026) menjadi panggung pembuktian bagi Dalton Gideon Ototome Maisini.
Di usianya yang baru menginjak 12 tahun, siswa yang kini duduk di kelas 6 SD Santo Petrus Nabire ini sukses mencuri perhatian publik sebagai drummer termuda yang tampil memukau bersama grup musik Intan Sunrise asal Kabupaten Intan Jaya.
Putra sulung dari Bupati Intan Jaya, Aner Maisini, dan Ny. Damaris Maisini ini menunjukkan kelincahan serta keahliannya dalam menggebuk drum di panggung megah se-Tanah Papua. Rasa gugup sempat melintas di hatinya, namun terbayar tuntas oleh rasa bangga dan antusiasme penonton.
“Gugup tapi senang,” kata Dalton jujur saat menggambarkan perasaannya usai melintasi panggung besar pertamanya di ajang umum.
Kecintaan Dalton pada instrumen drum sudah tumbuh sejak ia duduk di bangku kelas 5 SD. Bakat alaminya terus terasah berkat bimbingan rutin dari seorang pendeta yang mengajarinya bermain drum di gereja, tempat di mana ia kerap mengisi pelayanan musik.
Sebelum menghentak panggung PRF XI, pengalaman tampil Dalton yang kini sudah kelas 6 SD tersebut lebih banyak diisi pada acara perayaan ulang tahun gereja hingga Natal Pemda.
“Terima kasih untuk semua yang sudah support saya dan kasih semangat, biar saya bisa main drum sampai jago dan bisa naik ke panggung,” ujar bocah yang juga hobi bermain sepak bola tersebut dengan penuh rasa syukur.

Band Sunrise saat tampil bersama Bupati Intan Jaya, Aner Maisini di panggung PRF XI. (Foto: Decky Mote/Panitia PRF)
Untuk memberikan penampilan maksimal di PRF XI, Dalton bersama anggota band Intan Sun Rise menjalani latihan intensif setiap hari selama dua minggu. Di balik aksi panggungnya yang memikat, kehadiran Dalton di grup musik ini juga memiliki cerita tersendiri.
Manajer Intan Sunrise, Johan Kudiai, mengungkapkan bahwa pada awalnya orang tua Dalton sempat merasa ragu dan kurang setuju jika putra mereka yang masih anak-anak harus bergabung serta tampil bersama para pemusik senior.
“Awalnya orang tuanya sempat tidak setuju karena dia masih kecil dan harus bermain dengan para senior. Namun, setelah kami beri pemahaman bahwa kegiatan positif ini dapat membentuk kepribadian serta menyalurkan bakatnya, beliau akhirnya mengizinkan Dalton tampil. Hasilnya luar biasa, dia berhasil mencuri perhatian banyak orang,” ungkap Johan Kudiai.
Johan menjelaskan bahwa pembentukan Intan Sunrise diawali dari inisiatif Bupati Intan Jaya sendiri. Langkah ini diambil untuk merangkul dan memberikan kesibukan positif bagi anak-anak muda, khususnya dari daerah yang pernah mengalami konflik, agar bakat seni mereka terarah dengan baik.
Grup musik ini membawakan tiga lagu ciptaan sendiri. Lagu-lagu tersebut mengusung pesan mendalam tentang keindahan alam, keberagaman suku seperti Dani, Moni, Wolani, dan Nduga di Intan Jaya, hingga gambaran geografis daerah yang dikelilingi pegunungan terjal namun penuh dengan kehidupan.
Ajang Papua Reggae Festival XI ini dinilai memberikan ruang ekspresi yang sangat luas bagi generasi muda di Tanah Papua. Kehadiran sosok muda berbakat seperti Dalton menjadi bukti nyata bahwa potensi besar anak-anak Papua dapat terus bermekaran jika diberikan wadah dan dukungan yang tepat.






