Menu ✖

Mode Gelap

Pemerintahan · 12 Mar 2026 12:13 WIT

Dinas Peternakan Nabire Lakukan Restocking Bibit Babi Guna Pulihkan Populasi Pasca Wabah ASF


Kepala Dinas Peternakan Kabupaten Nabire, drh. I Dewa Ayu Dwita. (Foto: Kristin Rejang/Sasagupapua.com) Perbesar

Kepala Dinas Peternakan Kabupaten Nabire, drh. I Dewa Ayu Dwita. (Foto: Kristin Rejang/Sasagupapua.com)

SASAGUPAPUA.COM, Nabire – Pemerintah Kabupaten Nabire melalui Dinas Peternakan mulai menjalankan program pemulihan sektor peternakan pasca serangan wabah African Swine Fever (ASF). Kepala Dinas Peternakan Kabupaten Nabire, drh. I Dewa Ayu Dwita, mengungkapkan bahwa langkah utama yang diambil tahun ini adalah melakukan restocking atau pengisian kembali kandang-kandang milik masyarakat yang sempat kosong akibat wabah.

“Pascabah ASF itu kan pasti banyaknya masyarakat, itu ternak babi banyak yang kosong, sehingga di program tahun ini kami berupaya melakukan restocking. Restocking itu artinya pengisian kembali untuk kandang-kandang yang kosong,” ujar drh. I Dewa Ayu Dwita saat memberikan keterangan pada Kamis (12/3/2026).

Ia menjelaskan bahwa bantuan bibit babi akan diprioritaskan bagi masyarakat yang terdampak langsung oleh wabah ASF, khususnya bagi Orang Asli Papua (OAP). Namun, ia menekankan bahwa jumlah bantuan tahun ini terbatas karena adanya efisiensi anggaran. Bantuan tersebut sifatnya hanya sebagai stimulus dengan kuota sekitar seratusan ekor yang akan dibagikan kepada kelompok ternak yang memenuhi syarat.

“Karena tahun ini kita mengalami efisiensi anggaran, tentu bantuannya tidak banyak, hanya sebagai stimulus. Kemungkinan satu pasang untuk pemanfaatan. Cuma seratusan saja, seratus lebih begitu, jadi tidak banyak karena anggaran kita juga terbatas,” jelasnya.

- Advertising -
- Advertising -

Selain penyaluran bibit, Dinas Peternakan juga memperketat pengawasan terhadap pemotongan ternak guna menjaga populasi. Ayu menegaskan bahwa babi betina produktif dilarang untuk dipotong agar proses pengembangbiakan tetap berjalan. “Pemotongan babi tentu yang layak seperti yang babi penggemukan itu dipotong. Jadi mungkin yang betina harus diafkir begitu untuk menjaga populasi kita, tidak boleh yang betina produktif yang dipotong,” tambahnya.

Terkait kondisi pasar, Ayu mengakui bahwa harga babi di Nabire mengalami kenaikan signifikan sejak November 2025. Hal ini dipicu oleh menipisnya stok babi potong sementara permintaan masyarakat terus meningkat. Meskipun pemerintah telah membuka keran masuknya babi hidup dari daerah bebas ASF seperti Biak, Serui, Sorong, dan Manokwari, pasokan tersebut rupanya belum mampu menekan harga di pasaran.

“Kita sudah memasukkan dari luar, contohnya daerah bebas Biak, Serui, Sorong, Manokwari. Nah, itu sudah kami masukkan tapi harga masih tetap tinggi karena memang permintaan kebutuhan yang terus meningkat sedangkan stok masih terbatas. Jadi babi-babi hidup yang dibawa dari kabupaten tetangga itu belum mampu memenuhi,” tutup Ayu.

Artikel ini telah dibaca 17 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

MRP Sampaikan Aspirasi DOB Papua Utara ke DPD RI

5 Oktober 2026 - 16:20 WIT

Ribka Haluk Bantah Isu Kemendagri Buat Definisi Baru Orang Asli Papua

12 September 2026 - 17:28 WIT

MenHAM Natalius Pigai Kritik Rencana Kemendagri Definisikan Orang Asli Papua: Itu Pemberian Tuhan, Bukan Politik

9 September 2026 - 22:40 WIT

Pemprov Papua Tengah Tertibkan Administrasi dan Kearsipan Daerah

2 September 2026 - 16:57 WIT

Antisipasi Karhutla dan Cuaca Ekstrem, Pemkab Paniai Gelar Apel Siaga dan Bentuk Tim Tanggap Darurat

26 Agustus 2026 - 08:44 WIT

Gubernur Meki Nawipa Paparkan Data Penerimaan Dana Desa se-Papua Tengah Tahun 2024–2026

14 Agustus 2026 - 22:24 WIT

Trending di Pemerintahan